Mohon tunggu...
Abahna Gibran
Abahna Gibran Mohon Tunggu... Freelancer - Penulis dan Pembaca

Ingin terus menulis sampai tak mampu lagi menulis (Mahbub Djunaedi Quotes)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Jangan Pandang Remeh Penyandang Disabilitas

19 November 2019   04:22 Diperbarui: 19 November 2019   04:24 18
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Saya terkejut, sekaligus prihatin mendengar cerita seorang teman.

Pihak pemerintah desa bermaksud memilih pengelola BUMDes (badan usaha milik desa). Untuk itu diadakanlah musyawarah dengan para pemangku kepentingan.

Yang dibutuhkan pemerintah desa, paling tidak adalah orang yang memiliki otak bisnis. Ditambah berwatak jujur, dan memiliki integritas yang tinggi, tentu saja.

Maka peserta rapat pun masing-msing mengusulkan nama-nama. Hanya saja sebagaimana biasanya, mereka lebih cenderung menyodorkan keluarganya yang kebetulan masih menganggur. Tak aneh. Biasalah praktik KKN sisa peninggalan orde baru, masih tetap mengakar kuat.

Tapi tidak semuanya peserta rapat seperti itu. Ada satu dua yang berjiwa reformis. Seperti teman saya itu.

Dia mengusulkan satu nama yang di matanya cocok untuk jadi manajer BUMDes, yang terbentuk secara masif setelah Dana Desa digelontorkan ke desa-desa.

Nama yang diusulkan teman saya itu, selain masih berusia muda, juga selama ini begitu tekun mengelola berbagai usaha miliknya sendiri. Bahkan untuk ukuran desa kami, anak muda itu termasuk pengusaha sukses.

Mendengar nama yang diusulkan teman saya, pihak pemerintah desa malah tertawa. Terkesan menganggap hanyalah sebuah banyolan belaka. Sementara teman saya menanggapi sikap pemerintah desa telah bersikap diskriminatif. Sama sekali tidak melihat prestasinya yang telah diketahui seluruh warga desa selama ini.

Benar, bisa jadi mereka hanya melihat nama yang diusulkan teman saya itu dari penampilannya saja.

Gumilar (25) dikenal sebagai penyandang disabilitas bawaan memang. Namun di balik bicaranya yang gagap, dan cara berjalannya yang sedikit pincang, jika dibandingkan dengan pemuda normal di desanya, bisa jadi nama Gumilar yang akan disebut sebagai pemuda yang sukses dalam bisnisnya.

Sejak sekolah di SMK Gumilar sudah merintis usaha jualan pulsa. Baik pulsa handphone, maupun token listrik. Tak lama kemudian dia pun melebarkan usahanya sebagai penyalur gas. Hingga saat ini, selain dua jenis usahanya tersebut, ia pun merambah usaha sebagai pengecer BBM melalui layanan yang biasa disebut Pom Mini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun