Adjat R.  Sudradjat 2
Adjat R. Sudradjat 2 Freelance

Ingin terus menulis sampai tak mampu lagi menulis (Ehm!)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Anak yang Selalu Bersua di Mushola

11 Agustus 2018   05:53 Diperbarui: 11 Agustus 2018   08:48 355 2 0
Anak yang Selalu Bersua di Mushola
Ilustrasi (Sumber: republika.co.id)

Setiap menunaikan shalat lima waktu di mushala, Afan selalu ada di samping saya. Terkadang di sebelah kiri, kadang pula di samping kanan. Tergantung siapa yang lebih dahulu datang. Kalau kebetulan datang bersamaan, Afan selalu saya suruh berada di samping saya. 

Diapit oleh Abah Endin, yang biasa mengumandangkan adzan. Karena seringkali ma'mum yang menunaikan shalat di mushala kami hanya tiga orang saja. Terutama shalat dzuhur, asar, isya, dan subuh. Hanya saat shalat magrib saja shaf ma'mum bisa terisi sampai dua dan tiga baris. Itu pun kebanyakan anak-anak yang hendak belajar mengaji seusai shalat magrib.

Padahal sebetulnya warga di sekitar mushala kami itu cukup banyak juga. Kalau saja mushala yang berukuran sekitar 8 X 8 meter itu didatangi seluruh warga, khususnya kaum lelaki, mungkin akan terisi penuh juga. Akan tetapi kenyataannya begitulah. 

Mungkin kebanyakan warga lebih suka memilih menunaikan shalat di rumahnya masing-masing. Bisa juga mereka shalat di mushala yang ada di seberang sungai kecil. Entahlah. Saya tidak mau berburuk sangka. Hanya kenyataannya memang begitulah.

Di mushala tempatku biasa menunaikan shalat memang seringkali hanya terdiri dari seorang imam, yaitu ajengan yang memiliki mushala tersebut, dan tiga sampai empat orang ma'mum saja. Dan di antara sekian banyak anak-anak yang biasa belajar mengaji kepada ajengan, hanya Afan, anak berusia 13 tahun itu yang selalu rajin menunaikan shalat fardhu berjama'ah. Sedangkan anak lain seumurnya entah pada pergi kemana.

Sungguh. Saya merasa kagum dengan anak yang satu ini. Tidak ada hujan, tidak karena gelapnya malam, Afan selalu datang ke mushala untuk ikut shalat berjama'ah. Padahal seingat saya, tak pernah sekalipun ayahnya Afan tampak muncul di mushala. Tidak pernah sama sekali. Kecuali kalau tiba waktu shalat Jum'at di masjid dekat kantor desa, saya baru bisa bertemu dengan ayahnya Afan itu. 

Mungkin ayah Afan menunaikan shalat yang lima waktunya selalu di rumahnya sendiri. Begitu juga saya tidak pernah melihat ibunya Afan mengikuti pengajian di majelis ta'lim. Atau bersosialisai dengan ibu-ibu lainnya dalam kegiatan keagamaan yang diselenggarakan di sekitar tempat tinggal kami. Entahlah. 

Entah bagaimana sebabnya. Hanya saja yang jelas, terkadang dalam hati saya muncul pertanyaan, siapa yang mengajari dan menidik anak yang satu ini untuk selalu menunaikan shalat lima waktu secara berjama'ah di mushala?

Ah, saya tidak mau menerka-nerka. Yang jelas anak yang satu tersebut bisa jadi sudah mendapat hidayah dari Allah.

Semoga saja Afan istiqamah. Dan menjadi anak yang shaleh yang senantiasa menunaikan perintahNya , serta menjadi teladan bagi anak-anak sebaya di kampung kami.***