Adjat R.  Sudradjat
Adjat R. Sudradjat Freelance

Ingin terus menulis sampai tak mampu lagi menulis (Ehm!)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Antara Fiksi dengan Faksi

8 Desember 2017   08:55 Diperbarui: 8 Desember 2017   09:33 289 2 1
Antara Fiksi dengan Faksi
Ilustrasi Sumber: Kompasiana.com

Terus terang, pada awalnya saya terusik oleh komentar seorang Ker's (Julukan bagi Kompasianer) pada salah satu postingan saya di blog Kompasiana ini dua hari yang lalu. Kompasianer yang kemudian saya ketahui belum terverifikasi, dan belum ada satu pun artikel yang ditulisnya itu, menuding artikel yang saya tulis merupakan sebuah fiksi belaka. Sama sekali tidak berdasarkan fakta. Sehingga pada ahirnya saya ingin berbagi, dan membuka rahasia di balik gaya penulisan yang diterapkan dalam postingan itu.

Memang benar, dalam artikel itu saya tidak menyebutkan nama narasumber utama dengan gamblang. Juga saya tidak menulis waktu dan tempat secara detil sebagaimana sebuah berita yang menuntut syarat 5W+1H. Dan saya lebih menonjolkan What dan Why saja.

Karena pada saat saya menulis, saya memiliki pertimbangan sendiri.Selain untuk menjaga privacynarasumber, saya pun sebenarnya sedang mencoba belajar untuk menulis berita dengan bentuk feature --biasa dibaca: ficer. Pembaca tentunya msih ingat, apa ficer itu. 

Sebagaimana penjelasan guru kepenulisan saya, juga buku-buku yang pernah saya baca, ficer adalah berita yang biasanya memiliki banyak komentar, analisis, warna, dan latar belakang. Sumber-sumbernya lebih beragam, dan isinya lebih panjang apabila dibandingkan dengan berita biasa yang dalam dunia jurnalistik lebih dikenal dengan hard news. Ficer pun memungkinkan bagi penulisnya untuk mengemukakan pendapat dan sudut pandang pribadinya secara lugas, tetapi tekanannya tetap pada berita.

Selain itu, sebetulnya saya sendiri sedang bereksperimen dalam gaya kepenulisan sebagaimana yang pernah digagas oleh Bambang Trim, seorang Kompasianer, juga orang yang bergelut dalam dunia buku, yang sejak tahun 1994 hidupnya tidak pernah lepas dari dunia buku, baik sebagai penulis, editor, pemimpin penerbit, pelatih, dan konsultan di bidang perbukuan. Ia kini secara komplet melakoni diri sebagai Ketua Umum Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia (Penpro), Direktur Institut Penulis Indonesia (IPI).

Dalam salah satu tulisannya yang pernah saya baca, Bambang Trim menganjurkan para pegiat literasi untuk bereksperimen menggabungkan dua bentuk karya tulis, yaitu fiksidengan faksi.

Sebagaimana diketahui, karya tulis fiksi bersifat khayalan atau imajinasi dari penulisnya. Karya fiksi juga identik dengan karya sastra yang terdiri atas puisi, cerpen, drama, dan novel.

Sedangkan faksi yang dimaksud Bambang Trim, sama sekali tidak memiliki konotasi negatif sebagaimana biasa diterapkan pada kelompok di dalam suatu partai politik yang membuat kegaduhan untuk menonjolkan eksistensinya. Di dalam dunia politik munculnya faksi itu memang biasa, tulisnya, sedangkan dalam hal ini, faksi adalah karya tulis berdasarkan fakta yang ditulis dengan gaya naratif, agar dapat lebih menarik perhatian pembacanya.

Lebih jauh Bambang menjelaskan, memang ada wilayah abu-abu antara fiksi dan nonfiksi dari segi adanya unsur cerita/kisah di dalam suatu karya tulis. Karena itu, pembagian genre tidak resmi ini menghasilkan faksi.

Tulisan-tulisan yang tergolong faksi adalah kisah hidup seseorang (biografi, autobiografi, memoar), kisah nyata sebuah peristiwa, dan karangan khas (feature).

Faksi memang mengandung unsur penceritaan yang kuat karena di dalamnya ada tokoh, ada perwatakan tokoh, ada latar, dan ada alur yang diramu sesuai dengan data dan fakta sebenarnya. Tidak boleh ada "bumbu" khayalan/imajinasi di dalam faksi. Jika penulis memaksakan memodifikasi penokohan atau jalan cerita, ia sebenarnya sudah menciptakan fiksi.

Bagaimanapun, konon seorang penulis adalah orang yang tidak pernah berhenti mencari hal-hal yang baru. Apalagi bagi penulis pemula seperti saya, dituntut harus lebih banyak belajar lagi. Selain dengan tak pernah berhenti untuk menulis, membaca dan berinteraksi dengan alam di sekitar pun menjadi kewajiban yang tetap harus dilaksanakan.

Bisa jadi tudingan Kompasianer dalam artikel hasil karya saya yang dimuat di Kompasiana itu dianggap sebagai sebuah fiksi belaka. Apabila yang bersangkutan membacanya hanya sambil lewat saja. Akan tetapi bila yang bersangkutan lebih cermat lagi membacanya, kemungkinan besar tidak akan sampai dengan serta-merta, dan setega itu dia menudingkan telunjuknya ke hidung saya tanpa argumentasi yang dapat saya fahami.***