Mohon tunggu...
Adjat R. Sudradjat
Adjat R. Sudradjat Mohon Tunggu... Penulis - Orang Biasa Saja

Bergabung di K sejak Agustus 2011

Selanjutnya

Tutup

Hukum Pilihan

Perseteruan Said Didu Vs Luhut, Pelajaran Berharga di Tengah Pandemi Virus Corona

8 April 2020   19:58 Diperbarui: 8 April 2020   20:20 369 4 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
sumber foto: Tribunnews.com

Perseteruan yang berawal dari unggahan video di kanal You Tube dengan judul "MSD: LUHUT HANYA PIKIRKAN UANG, UANG, DAN UANG", antara mantan komisaris PT Bukit Asam Tbk (Persero), Muhammad Said Didu (MSD), dengan Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan (LBP), tampaknya akan berakhir di meja hijau. Lantaran permintaan LBP agar MSD menyampaikan permintaan maaf kepada dirinya, sama sekali tak digubris oleh yang bersangkutan.

MSD hanya berkirim surat yang disebutnya sebagai klarifikasi dari pernyataannya dalam video tersebut. Padahal LBP menganggap apa yang dikatakan mantan komisaris PTPN IV (Persero) itu sama sekali tidak berdasar, dan sudah termasuk pada upaya pencemaran nama baik semata. 

Melalui juru bicaranya, Jodi Mahardi, LBP meminta mantan Sekretaris Kementerian BUMN itu untuk minta maaf, dan apabila dalam waktu 2 X 24 jam tidak ada permintaan maaf dari yang bersangkutan, maka LBP akan menempuh jalur hukum sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Bahkan sebelum berkirim surat klarifikasi pun sebenarnya MSD sudah menyatakan penolakan untuk meminta maaf. Dalihnya, lantaran dirinya semata-mata hendak menegakkan kebenaran dan akan membongkar tabir kebohongan para penguasa. Demikian juga halnya dengan surat yang dikirimkannya isinya antara lain sebagai ulasan analisis prioritas kebijakan pemerintsah dalam menangani pandemi virus Corona (Covid-19).

Sehingga karena tidak ada kata permintaan yang terucap dari mulut MSD , dan surat klarifikasi yang diterimanya pun dianggap tidak jelas, sebagaimana dijelaskan jodi Mahardi, " Mungkin kita 'rada-rada dungu' kalau pinjam istilah Pak Said Didu. Nggak paham suratnya itu apakah minta maaf atau nggak," maka akhirnya seperti yang terjadi sekarang ini. MSD pun akan dituntut ke ranah hukum oleh LBP.

Perseteruan mantan pegawai negeri sipil (PNS) dengan seorang Menteri Koordinator ini, bisa jadi bagi sebagian pihak memiliki daya tarik tersendiri, bahkan lebih dari itu mereka pun berdiri di belakang kedua sosok itu. Lalu dengan suara serempak, bak koor bernada sumbang, meniru suporter di stadion sepak bola, mereka pun memberikan dukungan kepada MSD maupun LBP agar lebih bersemangat lagi mempertahankan kebenaran versi masing-masing.

Sementara di sebagian lain lagi, mereka menyaksikan manakala pada satu panggung yang sedang menjadi pusat perhatian merupakan panggung tragedi, yakni adanya bencana pandemi virus Corona yang penuh horor yang menegangkan urat syaraf, sementara pada panggung yang satu ini merupakan panggung  dua sosok yang bersitegang dengan egoisme yang sulit untuk membuka ruang kompromi lagi.

Hal tersebut, tentunya merupakan sebagai sesuatu hal yang sungguh memprihatinkan, sekaligus cukup memalukan. Betapa tidak, baik MSD, apalagi LBP merupakan sosok pejabat dan mantan pejabat yang seharusnya mampu menempatkan diri dalam suasana yang penuh dengan kecemasan seperti sekarang ini. Paling tidak memberikan ketenangan kepada rakyatnya dengan sikap maupun ucapannya.

Keadaan panggung dengan dua aktor yang tetap bersitegang ini, dianggapnya sebagai suatu pertanda yang akan membawa petaka akan semakin centang-perenangnya kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia ini. Betapa topeng-topeng para elit semakin terbuka saja. Ternyata yang selama ini dianggap hanya sangkaan dan dugaan saja, pada ahirnya terbukti kalau para elit di negeri ini lebih memprioritaskan egonya masing-masing ketimbang nasib rakyat banyak yang seharusnya dilayani dengan sesungguh-sungguhnya.

Sehingga apabila di kemudian hari rakyat pun akan bersikap dan bertindak lebih dari yang sekarang ini dilakukan MSD maupun LBP, semoga saja jangan pernah menyalahkan mereka (rakyat). Bisa jadi rakyat pun melihat kejadian sekarang ini sebagai suatu pelajaran yang berharga, sebagaimana pepatah lama yang mengatakan, Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Sementara sekarang ini, pejabat negara pada merasa benar sendiri, maka rakyat banyak pun ...

Ah, sepertinya akan semakin kacau-balau saja negara ini kalau tak ada lagi ruang kompromi demi terciptanya kedamaian di negeri ini. ***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hukum Selengkapnya
Lihat Hukum Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan