Mohon tunggu...
Arnold Adoe
Arnold Adoe Mohon Tunggu... Lainnya - Tukang Kayu Setengah Hati

Menikmati Bola, Politik dan Sesekali Wisata

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Pelukan Chiellini, Pelukan Kemenangan Italia

7 Juli 2021   05:58 Diperbarui: 7 Juli 2021   08:56 1442
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Benar. Di babak kedua perpanjangan waktu, Spanyol amat lelah. Sergio Busquets yang menjadi sentral permainan tiki taka dan pergerakan dinamis para pemain La Furia Roja terengah-engah setelah ditarik keluar lapangan. 

Sesudah itu, Italia yang lebih banyak menguasai bola.

Ini nampak memang seperti sebuah drama, ketika kondisi menekan yang saling berganti ini membuat emosi para penikmat bola bergejolak. 

Sebelumnya Spanyol diunggulkan, dan menguasai laga, tapi di sisa 15 menit menuju genap 120 menit, Italia hampir mengakhiri laga lebih cepat.

Jika, sebelumnya Italia yang beruntung tidak kebobolan di 1x15 menit, maka di babak kedua, Spanyol yang beruntung, dan pemenang laga harus ditentukan dari babak adu penalti.  

Di babak ini, saya yakin tak ada satu panditpun di muka bumi yang dapat memastikan siapa yang akan menjadi pemenang. Semua terdiam, dan hanya bisa menunggu dimana ruh keberuntungan itu akan memihak.

Saya sendiri yang sempat tak yakin bahwa Italia mampu melalui babak ini---karena Spanyol sudah lebih dulu berpengalaman melalui adu penalti melawan Swiss, di dalam hati lalu bergumam "Italia akan menang" karena momen monumental yang terjadi di lapangan hijau sebelum adu penalti. 

Pelukan Chiellini untuk Alba I gambar : irishtime
Pelukan Chiellini untuk Alba I gambar : irishtime
Momen ketika kapten, Chiellini dan Jordi Alba berdiri di hadapan wasit, Felix Byrch untuk tos koin, membuat saya yakin, Italia yang akan menang.

Jika harus ada yang paling lelah dalam laga itu, saya kira Chiellini adalah orangnya. Di usia 36 tahun, staminanya tidak bisa dibandingkan dengan darah muda Spanyol seperti Pedri atau Morata sekalipun. Apalagi bersama Bonnuci, Chiellini sibuk menghalu bola sepanjang 120 menit dalam tekanan Spanyol.

Akan tetapi, hal yang membuat menjadi pembeda adalah semangat dan kharisma Chiellini sebagai pemimpin. Dia nampak tersenyum saat tos-tosan itu, bahkan ketika wajah Alba terlihat kalut, Chiellini lalu memeluk Alba.

Seantero Wembley bertepuk tangan di momen itu, dan saya kira itu untuk pertama kalinya pendukung dari kedua tim bersatu untuk gestur humanis itu.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun