Mohon tunggu...
Arnold Adoe
Arnold Adoe Mohon Tunggu... Lainnya - Tukang Kayu Setengah Hati

Menikmati Bola, Politik dan Sesekali Wisata

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Natal di Kupang, Kursi Papa dan Sebuah Tradisi

25 Desember 2020   20:30 Diperbarui: 25 Desember 2020   20:31 369
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bacarita, tertawa bersama membuat kebahagiaan natal itu tetap nampak di tengah tradisi duduk dengar petuah orang tua saat natal. Esensi natal memang membawa kedamaian, dan membawa sukacita. Sukacita itu tercipta di dalam hati. Meski pandemi ini membuat jabat tangan dan "cium idong" khas orang Kupang seperti menghilang tetapi sukacita dan kedamaian itu masih tetap hadir.

Tahun-tahun sebelum natal di tengah pandemi Covid-19 yang melanda ini, beberapa sanak saudara yang tinggal di luar Kota Kupang bertestimoni bahwa merayakan natal di Kupang adalah salah satu yang paling berkesan.

Di Kupang, suasana natal memang amat terasa, minimal dari berbagai aktifitas yang ada sebelum natal, dan pada saat hari natal tersebut. Bunga sepe yang bermekaran dan gemerlap pohon natal di sudut-sudut kota menemani keramaian di jalanan yang padat dan merayap.

Hal ini dikarenakan karena setiap keluarga bergegas keluar rumah, mengunjungi pusat penjualan kue atau pakaian untuk memastikan bahwa keperluan perayaan natal dapat tersedia pada waktunya.

Beberapa titik jalanan dipenuhi para penjual kue dan tentu saja dipadati pengunjung. Di pusat perbelanjaan seperti mal, juga dipenuhi pengunjung terutama yang ingin mencari busana baru untuk dipakai saat natal nanti.

Ramai Kupang Saat Menjelang Natal I Gambar : dokpri
Ramai Kupang Saat Menjelang Natal I Gambar : dokpri
Namun pada natal kali ini, situasi berubah, meski aktifitas itu memang masih nampak. Jalanan masih terlihat padat, tapi tidak macet. Titik-titik jalanan penjual kue tetap dikunjungi tapi tidak seramai tahun-tahun lalu. Entah karena dipengaruhi ketakutan ditulari Covid-19 atau memang karena merasa bahwa menyediakan kue dan minuman namun tidak dikunjungi juga akan percuma.  

Ya, beberapa edaran pemerintah berkaitan dengan protokol kesehatan meminta agar kunjung mengunjung atau silahturahmi natal dapat dibatasi dan harus menjaga protokol kesehatan. Dampaknya, di medsos beberapa keluarga bahkan meminta agar jangan dikunjungi.

Apakah ini mengurangi kesan natal tahun ini? Sebenarnya tradisi natal terus berjalan bahkan tetap berkesan.

Hari ini, sehabis kebaktian natal pagi, saya dan keluarga masih mengunjungi rumah keluarga, rumah papa dan mam. Mengunjungi rumah orang tua, dan keluarga dekat memang seperti sebuah keharusan.

Kunjungan Keluarga saat natal I Gambar : dokpri
Kunjungan Keluarga saat natal I Gambar : dokpri
Kakak, adik sodara basodara datang bercengkerama, tersenyum tertawa bersama di hari bahagia ini. Papa dan mama tentu senang sekali mendapat kunjungan dari anak maupun cucu, meskipun kunjungan kali ini "terpaksa" terhenti di teras rumah agar udara tetap terbuka untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun