Mohon tunggu...
Arnold Adoe
Arnold Adoe Mohon Tunggu... Lainnya - Tukang Kayu Setengah Hati

Menikmati Bola, Politik dan Sesekali Wisata

Selanjutnya

Tutup

Cerita Pemilih Pilihan

Membahas Penggunaan Diksi "Brutal" Oleh Kubu Prabowo

25 April 2019   09:30 Diperbarui: 25 April 2019   10:03 347
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Fadli Zon Kerap Menggunakan Istilah TSMB I Gambar : Kompas

Salah satu hal yang mungkin harus diapresiasi adalah begitu kreatifnya tim 02, memunculkan diksi seperti Brutal hingga ikutannya seperti Pansus Kecurangan dan Tim Pencari Fakta.   

Artinya bahwa sesudah Pilpres, kubu Prabowo masih terus giat untuk melakukan perang saling sindir dengan melontarkan diksi dan frasa.

Pada umumnya perang diksi dan frasa ini pada ujungnya berharap aksi dan reaksi (kausalitas) yang mendukung si pembuat diksi ini.

Patut diduga, siapapun yang membuat diksi, narasi kampanye seperti ini sengaja didesain untuk mengarahkan masyarakat terus terjebak dengan  perang kata-kata, saling sindir sehingga melupakan substansi (konten) persoalan yang lebih penting diselesaikan saat ini.

Coba kita jelaskan dari posisi yang netral. Pihak Prabowo mungkin mengarahkan agar kata-kata "Brutal", Pansus kecurangan dan Tim Pencari Fakta digunakan untuk mengalihkan dari kenyataan bahwa secara ilmiah (quick count) dan nantinya secara resmi oleh KPU, mereka telah kalah. Menggiring bahwa jika akhirnya kalah, dikalahkan dengan cara yang tidak santun, kejam. 

Sebaliknya, pihak Jokowi juga mungkin saja dapat menggunakan istilah rekonsiliasi demi Keutuhan Bangsa dll untuk menggiring opini publik bahwa Pemilu jauh dari kecurangan, dan hal-hal yang dituduhkan, padahal bisa saja itu terjadi.

Apa yang bisa kita pelajari dari hal ini? Kebisingan yang memekakkan ruang opini publik yang kita harapkan lenyap sesudah keluar dari bilik suara malah terdengar lebih nyaring. Akibatnya akan menganggu kualitas demokrasi substansial, karena perilaku politik murahan yang tak mutu seperti ini.

Selain itu riuh ini tidak akan selesai karena di kalangan elit politik kita jelas masih ada pihak-pihak yang merasa khawatir bisa berpotensi merugikan kepentingan politiknya jika perdebatan politik mengarah pada hal-hal yang lebih substansi atau berjalan dengan ideal.

Catatan lainnya adalah penggunana diksi provokatif tidak selamanya menguntungkan, jika salah memilih diksi yang tepat, atau memantik polemik    maka  bisa terjadi yang namanya 'bunuh diri politik', pihak pemantik akan semakin kehilangan simpati dari masyarakat.

Apa yang dapat kita lakukan sekarang? Salah satu cara efektif adalah kita harus tetap kritis menghadapi diksi-diksi yang disampaikan. Diksi tentu ada kepentingannya, kepentingan apa dibalik semua itu. Oleh karena itu perlu terus dilakukan cross check, check balance dengan berbasis data untuk membuktikan kebenaran diksi-diksi tersebut.

Sampai di titik ini, saya pikir penggunaan kata 'Brutal" hanya  supaya  terksesan lebih bombastis saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerita Pemilih Selengkapnya
Lihat Cerita Pemilih Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun