Mohon tunggu...
Arnold Mamesah
Arnold Mamesah Mohon Tunggu... Infrastructure and Economic Intelligent - Urbanomics - Intelconomix

Infrastructure and Economic Intelligent - Urbanomic - Intelconomix

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Simalakama Surplus dan "Strong Currency"

30 September 2015   03:15 Diperbarui: 1 Oktober 2015   12:23 262 1 1 Mohon Tunggu...

Pilihan Strong Currency dan Surplus Neraca Perdagangan

Pengandaian buah simalakama seakan tidak mampu menggambarkan pilihan pelik antara mata uang yang kuat (Strong Currency) dengan Surplus pada Perdagangan Global yang maknanya nilai ekspor lebih besar daripada impor.

Jika dilakukan voting apakah menginginkan mata uang kuat, kemungkinan lebih dari 75% menjawa YA. Demikian juga jika ditanyakan apakah ingin Surplus pada neraca perdagangan ? Dengan nilai yang mungkin sama, jawabannya adalah YA. Apakah keduanya dapat terjadi bersamaan dalam arti mengalami Surplus dengan kondisi mata uang kuat ?

Grafik berikut menggambarkan realitasnya.

Grafik-1 : Nilai Tukar dan Neraca Perdagangan USA

Catatan. Sumbu kiri besaran defisit perdagangan dalam USD Juta dan sumbu kanan indeks nilai tukar dengan pembobotan berdasarkan nilai perdagangan (dalam hal ini perdagangan dengan negara selain Inggris, Jepang, dan Euro Area yang mata uangnya tergolong Major Currency). Pertambahan defisit pada neraca perdagangan 22,7% dan apresiasi atau peningkatan nilai tukar 12,8% dalam masa satu tahun.

Lantas manakah yang hendak dipilih ? Terus mengalami apresiasi dengan resiko barang ekspor menjadi mahal atau ingin ekspor naik dan merelakan USD mengalami penurunan nilai. Pada kenyataannya menurunkan nilai tukar bukan hal yang sederhana.

 

Grafik-2 : Nilai Tukar dan Neraca Perdagangan Indonesia

Catatan. Sumbu kiri besaran nilai tukar mata uang 1 Dolar Amerika (USD) terhadap mata uang Rupiah (IDR); sumbu kanan besaran surplus atau defisit perdagangan dalam satuan USD Juta.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x