Mohon tunggu...
Aris Heru Utomo
Aris Heru Utomo Mohon Tunggu... Diplomat - Penulis, Pemerhati Hubungan Internasional, kuliner, travel dan film serta olahraga

Penulis beberapa buku antara lain Bola Bundar Bulat Bisnis dan Politik dari Piala Dunia di Qatar, Cerita Pancasila dari Pinggiran Istana, Antologi Kutunggu Jandamu. Menulis lewat blog sejak 2006 dan akan terus menulis untuk mencoba mengikat makna, melawan lupa, dan berbagi inspirasi lewat tulisan. Pendiri dan Ketua Komunitas Blogger Bekasi serta deklarator dan pendiri Komunitas Blogger ASEAN. Blog personal: http://arisheruutomo.com. Twitter: @arisheruutomo

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pancasila yang Tertukar

8 Maret 2020   06:15 Diperbarui: 8 Maret 2020   07:38 384
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Finalis Puteri Indonesia 2020 dari Sumatera Barat, Louise Kalista Iskandar, menjadi pembicaraan publik ketika gagap dan tidak berhasil melafalkan Pancasila dengan sempurna. Lancar menyebutkan sila pertama hingga ketiga, Kalista justru menyebutkan sila keempat dan kelima Pancasila secara tertukar dan kacau. Cuplikan video kegagapan Kalista melafalkan teks Pancasila, yang sesungguhnya manusiawi sekali, beredar luas di media sosial.

Kalista bisa jadi sedang apes dan tetiba menjadi putri yang tertukar karena gagal melafalkan Pancasila. Ia mungkin tidak mengira mendapatkan pertanyaan sederhana yang semestinya bisa dijawab dengan mudah. Kalista terlihat gugup berkali-kali lipat, apalagi mesti menjawab dalam 30 detik di tengah riuh rendahnya suara penonton, begitu komentar Najwa Shihab di akun media sosialnya.

Kenapa saya bilang apes dan seperti menjadi putri yang tertukar? Karena kalau kita menyaksikan tayangan jalannya final Putri Indonesia 2020, terutama saat Ketua MPR Bambang Soesatyo menanyakan kepada Kalista mengenai Pancasila, terlihat para finalis lain ikut tertawa, bahkan host wanita Patricia Gouw terlihat sempat mengelus dada. Penyebab mereka ikut tertawa bisa jadi karena dua hal. Pertama, karena yakin hafal sila-sila Pancasila. Kedua, merasa bersyukur karena pertanyaan Ketua MPR tidak tertuju ke mereka. Kalau saja ditujukan ke mereka, mungkin mereka juga akan gagap menjawabnya.

Seperti biasa, menyaksikan kegagapan-kegagapan semacam itu masyarakat lantas riuh dan ramai-ramai merundung. Bukan hanya Kalista yang dirundung tetapi juga asal daerahnya, Sumatera Barat, dan tentu saja Panitia Pemilihan Putri Indonesia.

Pemerintah daerah Sumatera Barat dan panitia pemilihan dipandang sama-sama tidak membekali para finalis Puteri Indonesia dengan materi yang cukup tentang nilai-nilai Pancasila dalam proses pemilihan sejak di daerah hingga final. Karena itu, tidak mengherankan apabila masyarakat kemudian menilai jika Pemilihan Putri Indonesia dan juga kontes-kontes sejenis, tidak lebih dari sekedar ajang kontes kecantikan dan kesexyan.

Lebih jauh lagi, ternyata bukan hanya Pemerintah daerah dan Panitia pemilihan saja yang dikritisi dan dirundung, tetapi juga Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). BPIP sebagai lembaga yang sebenarnya tidak terlibat sedikitpun dalam kegiatan putri-putrian ini, ikut disorot publik karena dipandang tidak mampu menyosialisasikan Pancasila dengan baik.

Menyikapi hal ini, dalam siaran tertulis pada Sabtu 7 maret 2020, Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP Benny Susetyo, menyarankan adanya pembekalan wawasan kebangsaan, khususnya nilai-nilai Pancasila kepada para Finalis Puteri Indonesia guna mempersiapkan dan membangun karakter kebangsaan mereka yang ikut dalam ajang Puteri Indonesia. Kejadian Kalista yang keliru melafalkan Pancasila, membuka mata para pemangku kepentingan untuk kembali mengajarkan nilai-nilai Pancasila ke publik tanah air.

Merujuk apa yang dikatakan Benny, ketidakhafalan Pancasila seperti yang dialami Kalista bisa jadi merupakan cerminan krisis pemahaman ideologi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak hafalnya Pancasila menjadi fenomena setelah Orde Baru tumbang dan euphoria reformasi menghapuskan mata pelajaran Pancasila yang dipandang sebagai peninggalan Orde Baru. Akibatnya, generasi pasca reformasi tidak hapal lagi Pancasila.

Bukan hanya itu, mereka yang hafal sila-sila Pancasila pun bukan berarti perilakunya sudah Pancasilais. Maraknya perilaku untuk saling mencela dan melecehkan orang lain, tingginya perilaku koruptif, tidak menghormati orang tua menunjukkan perilaku yang tidak Pancasilais.

"Panas setahun bisa dihapuskan oleh hujan sehari, tapi kekosongan pembelajaran nilai-nilai Pancasila di ruang publik selama hampir dua dekade terakhir sejak reformasi 1998 tidak bisa bisa lantas ditutup dengan sosialisasi oleh BPIP dalam setahun terakhir," begitu komentar seorang pemerhati pendidikan yang tidak mau disebutkan namanya.

"Saya tidak sedang membela kinerja BPIP, tetapi saya mencoba memahami segala keterbatasan BPIP dalam membumikan Pancasila ke ruang publik dalam setahun terakhir ini," ujar si pemerhati pendidikan tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun