Mohon tunggu...
Arif Rahman
Arif Rahman Mohon Tunggu... Instagram @arifrahman.journal

Terobsesi dengan orang-orang yang berhasil dengan berbagai keterbatasan. www.arifrahman.id

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

The Structure of "Corona", 3 Efek Musibah dan Proses Pengabaiannya

30 Maret 2020   09:00 Diperbarui: 31 Maret 2020   12:46 732 8 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
The Structure of "Corona", 3 Efek Musibah dan Proses Pengabaiannya
ilustrasi via freepik.com

Inggris membangun Rumah Sakit Jiwa, bukan cuma satu, tapi beberapa. Lokasinya di luar London. Ketika itu, angkatan udara Jerman diperkirakan datang dengan serentetan amunisi bom.

Proyeksi minggu pertama saja, berpotensi menewaskan 25.000 warga sipil. Bahkan jika pengeboman dilakukan terus menerus, diperkirakan 600 ribu orang tewas. Akan ada banyak korban dengan gangguan psikologis yang muncul, itu dugaannya.

Nyatanya, peristiwa pada Perang Dunia II itu tak serupa prediksi. Ketika Jerman memulai invasinya di tahun 1940, selama 8 bulan langit London dipenuhi pesawat AU Jerman (Luftwaffe) yang mengerahkan 1.200 Pesawat Pembom maupun Pemburu.

Mulai dari dari jenis Heinkel He-111H (Pembom medium), Junkers JU-88 (Pembom cepat), Do-17Z (Pembom ringan), Messerschmitt Bf-109 (pemburu) dan Junkers Ju-87 Stuka (pembom tukik), yang semuanya punya satu misi, melantakkan London. Sebelumnya, negara Britania ini menampik tawaran perjanjian damai dengan Hitler pasca takluknya Prancis.

Berton-ton bom pun dijatuhkan, bahkan pernah dilakukan selama 57 malam berturut-turut, menewaskan 40-an ribu orang, dan 46 ribu lainnya terluka.

Sebagian kota London hancur, setidaknya sejuta bangunan luluh. Tapi yang mengejutkan dari kondisi ini, soal reaksi warga yang diperkirakan trauma atau gangguan jiwa, justru tak terjadi. Bahkan RS Jiwa yang dibangun pun, beralih fungsi jadi RS militer, tak ada pasien jiwa yang datang.

J.T MacCurdy, psikiater dari Kanada melalui bukunya The Structure of Morale, membuat analisis. Menurutnya, dampak hujan bom dari Jerman, memberikan 3 efek yang berbeda pada warga Inggris.

Yang pertama, adalah mereka yang terbunuh. Kelompok kedua yang nyaris kena, kemudian mengalami trauma dan shock. Yang terakhir, adalah kelompok yang tidak kena.

Kelompok ketiga inilah yang hidup di tengah-tengah serangan selama berbulan-bulan, bahkan serbuan yang tak kunjung henti itu berlangsung hingga tahun 1941. Orang-orang yang awalnya resah dengan suara pesawat, sirine, dan jatuhnya bom berkali-kali, tapi tidak sampai melukai, justru menempa mental mereka.

Pertama kali bom jatuh, mereka gelisah, tapi setelah berkali-kali, justru membuat rasa gelisah mereda, bahkan sebaliknya. "Mereka bertahan hidup, dan kalau sudah mengalaminya dua-tiga kali, emosi yang terkait dengan serangan bom menjadi perasaan girang dan kebal," kata MacCurdy.

Mayoritas warga sipil di London justru beradaptasi dengan kondisi tersebut, mereka semakin sabar, tangguh dan 'merasa kebal', merasa 'tak tersentuh' oleh bom, dan pada gilirannya, -anehnya' hal itu kemudian terkonversi menjadi rasa senang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x