Mohon tunggu...
Arief Budimanw
Arief Budimanw Mohon Tunggu... surveyor

rumah di jakarta..

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Bagaimana Kanker Mendatangi Satu per Satu Orang yang Kita Sayangi

5 Agustus 2020   01:46 Diperbarui: 5 Agustus 2020   02:09 47 2 1 Mohon Tunggu...

Adalah adik dari ibuku, seorang sekretaris sebuah perusahaan kesehatan. Selalu sibuk dengan presentasi dan negosiasi. Keliling Indonesia dan menjelajahi kotanya adalah kesibukan yang selalu dia jalani. Namun ketika kanker usus menyerang, semua berubah.

Awalnya adalah keluhan pada perut saat buang air besar, kemudian setelah ke dokter diketahui ada ambeian. Segeralah dilakukan pengobatan akhirnya sembuh. 

Namun seiring berjalannya waktu kembali lagi ada masalah dalam buang air besar, susah dan sakit. Beberapa kali dirawat ke rumah sakit swasta. Namun penyakitnya belum ketemu juga. Semua dokter belum juga menemukan penyakitnya. 

Kemudian atas saran dari bosnya, dia pergi ke rumah sakit MMC. Dan akhirnya jelas, dokter hasil rekomendasi bosnya memvonis kanker usus stadium 3. Harus segera ditangani.

Sebuah pukulan mematikan bagi seorang ibu pekerja yang terbiasa sibuk dan ceria. Dan perubahan besar pun dimulai. Beliau mulai mengurangi kegiatan di kantor dan mulai mendelegasikan pekerjaannya. Mulai mengangkat anggota dan karyawan baru dan perlahan mundur dari pekerjaan.

Berkat BPJS kemotrapi dia bisa jalani. Biaya yang sangat mahal tercover sudah, sampai saat yang ke-10 kalinya kemotrapi berita buruk datang lagi menimpa keluarga ini. 

Saat itu menjelang lebaran 2016, suaminya salah seorang staff di perusahaan taxi terkenal di Jakarta. Tepatnya seminggu sebelum lebaran, akan dioperasi pengangkatan batu ginjal. Namun sebelum operasi  dimulai dokter menemukan adanya kanker  di usus besarnya. Stadium 4.

Seorang lelaki adalah mereka yang tidak pernah merasakan sakit pada dirinya. Lelaki mempunyai 1000 alasan untuk diam, semua penderitaan dan kesakitan akan dinikmati sendiri. Hidupnya selama ini tanpa pernah mengeluh. Seberat apapun penderitaan dan cobaan yang dia hadapi, dia tidak pernah cerita. Hidupnya hanya kantor dan rumah. Tanpa hobi ataupun kesenangan lainnya.

Setelah operasi usus dan batu ginjalnya beliau sempat menikmati hari-hari terakhirnya. Jalan pagi hari sambil menenteng tas selempang berisi kateter di sekitar rumahnya. Kurus tubuhnya karena asupan makanan yang kurang. Dia menolak untuk kemotrapi. Sudah stadium 4 katanya. Buang waktu dan uang katanya.

Adalah mengharukan ketika kami berkumpul melihat beliau yang berumur 60an bersanding  bersama  istrinya yang mulai mengalami kebotakan akibat pengobatan yang dijalaninya, saling bercerita tentang masa lalunya. Anaknya yang sudah dewasa yang merawat mereka.

Sampai saatnya tiba. Sang suami meninggal dengan tenang beberapa bulan setelah menikahkan anaknya. Istrinya menyusul setahun kemudian. Kanker ususnya terus menyebar, kemotrapi tidak bisa menghalangi keganasan sang kanker.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x