Mohon tunggu...
@Arie
@Arie Mohon Tunggu... Orang biasa yang mau berfikir luar biasa. that

Orang biasa, yang mau berfikir luar biasa. Hobi menulis sejak remaja, sayangnya baru ketemu Kompasiana. Humanis, Humoris, Optimis. Menjalani hidup apa ada nya.@ Selalu Bersyukur . Mencintai NKRI. " Salam Satu Negeri,!!" MERDEKA,!!

Selanjutnya

Tutup

Novel

Terbang ke Ponti (Eps. 53)

22 Oktober 2019   06:00 Diperbarui: 23 Oktober 2019   09:36 0 1 1 Mohon Tunggu...
Terbang ke Ponti (Eps. 53)
Image ; Mesjid Sultan Abdurrahman, bangunan tertua di kota Pontianak - borneografik.com

TRUE Story : Dari Kisah, Kusujudkan Cintaku di Mesjid Sultan

Bab.XII.hal.6 # Terbang ke Ponti, Pertengahan tahun dua ribu sebelas
Hari baru pukul tujuh pagi, ketika aku bangun dan bergegas mandi. Setelah Sholat subuh tadi, aku memang tidak tidur lagi. Hari ini, aku akan terbang ke Ponti.  Menjenguk ibu ku, dan memohon doa dari beliau. Tadi malam, koper ku sudah kusiapkan.  Dari apartmen ku , aku mencegat taksi, minta diantarkan ke stasiun Gambir.  Disitu ada Bis Damri jurusan Bandara Soekarno -- Hatta.  Pesawat ku jadwal nya jam sepuluh pagi.  Jakarta- Pontianak.   Sekitar jam Sembilan, aku sudah sampai di Bandara Soekarno- Hatta. Setelah Chek In, sekarang aku sudah duduk di ruang tunggu dalam. Panggilan Boarding terdengar dari pengeras suara, kami semua segera naik ke pesawat Lion Air, yang akan mengantarkan kami ke tempat tujuan. 

Tak terasa, satu jam lebih perjalanan, terdengar suara dari pramugari memberi kan pengumuman,:
"Para penumpang yang terhormat, sebentar lagi kita akan segera mendarat di Bandara Supadio Pontianak, Ibu Kota Kalimantan Barat, Waktu sekarang menunjukan pukul  sebelas lewat tiga puluh menit, tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Pontianak. Silahkan anda tetap di tempat duduk, mengenakan sabuk pengaman, melipat meja, menegakkan sandaran kursi, sampai nanti pesawat ini berhenti dengan sempurna di tempatnya. Handphone dan  perangkat elektronik lainya, harus tetap dimatikan,  sampai anda berada di ruang  tunggu Bandara, trima kasih telah terbang bersama kami, Lion Air, dan sampai bertemu lagi dalam penerbangan kami berikutnya," Suara Pramugari terdengar lembut bersahabat, mengantarkan pesawat ku mendarat. 

Dadaku berdebar hebat.  Dari udara, terlihat kota ku yang sudah banyak berubah. Deretan bangunan terlihat merata dimana-mana. Tak pernah terbayang, dulu nya,  aku bisa terbang.  Aku yang hanya anak orang biasa dan sederhana, yang untuk membeli tiket pesawat menjadi barang mewah, bahkan untuk sekolah pun harus membiayai diri nya,  sekarang datang naik pesawat terbang.  Subhanallah!  

Pintu  pesawat  terbuka, para penumpang turun dengan tertib satu persatu, menelusuri tangga. Aku turun dan menunggu koper ku di tempat bagasi. Sekitar sepuluh menit, koper ku sudah ditangan,  aku keluar dari ruang kedatangan Bandara Supadio Pontianak. Segera kucari taksi, dan minta diantarkan ke rumah adik ku di daerah Pontianak Utara.  

Sepanjang perjalanan, mata ku tak lepas menyapu tiap sudut  kota, yang sudah banyak berubah, dan tak ku kenali lagi.  Bangunan baru dimana- mana. Kemaren, aku sudah menelfon adik ku, agar menjemput ibu ku, (Mak), dan menunggu ku di rumah nya.  Sekitar satu jam perjalanan, aku tiba di tempat tujuan. Ibu ku menyambut ku di depan pintu.  Segera kucium tangan dan kening beliau, lalu kupeluk dengan erat, pundak nya. Adik bungsu ku, terlihat berkaca-kaca mata nya . Dia segera mendekati ku, mencium tangan ku, dan ku balas dengan memeluk dan mencium kening nya. kami melepas rindu dengan penuh rasa haru. 

 Ini adalah kedatangan ku yang  ketiga  kalinya. Yang pertama tahun Sembilan puluh Sembilan, yang  kedua sekitar dua ribu dua, dan sekarang tahun dua ribu sebelas, setelah sekitar sembilan tahun kemudian, aku baru datang kembali.  Beda nya , biasa nya aku naik kapal laut, dan baru sekarang naik pesawat terbang,  Alhamdulillah ya Allah, syukur ku tak berhingga PadaNya.  

Sudah tiga hari aku dikota ku. Pontianak maju luar biasa.Hotel, caf, restoran, sekarang ada dimana-mana. Warung kopi berderet di sepanjang  jalan  Tanjungpura, Jalan Imam Bonjol, Jalan Penjara, (KH.Wahid Hasyim), Jalan Merdeka.  Di Jalan Gajahmada, situasi nya sudah mirip Pecinan Surabaya, atau mirip PLuit di Jakarta.  Hotel --hotel dimana-mana, Bangunan megah  berjejer rapi di kiri kanan nya. Malam hari, banyak pedagang kaki lima menggunakan tenda, menjajakan dagangan mereka, berupa makanan dan minuman. 

 Kawasan yang dulu ku kenal sebagai bioskop PT ( Pontianak  Theater), sudah berubah juga. Simpang tiga itu terlihat rapi sekali. Di depan nya, Gereja Katedral berdiri dengan megah.  Kawasan PSP, lapangan sepak bola, ,- dulu kami biasa jogging disini, jam lima pagi sampai  jam tujuh,-  juga sudah rapi dan tertib.  Disebelah nya, berderet toko menghadap kejalan berseberangan dengan pasar Sudirman. Di pojok jalan, ada Matahari Mall. 

Di persimpangan empat jalan Cemara, jalan Ahmad Yani baru dan lama, membentang dua arah.  Ada Pontianak Mall di sana, kawasan pertokoan modern mirip CITO ( City Of Tomorrow ) di Surabaya.  Jalan ini menghubungkan Bandara Supadio dengan pusat kota. Persimpangan Jembatan Kapuas satu juga tak kalah megah nya. Ada hotel Garuda  berdiri disudut nya, sederetan dengan Pasar Flamboyan, - dulu aku biasa ngembun disitu, (Ngembun = begadang), bersama beberapa teman ku, sampai pagi, sambil jualan durian,-  sekarang terlihat rapi.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x