Mohon tunggu...
Aridha Prassetya
Aridha Prassetya Mohon Tunggu...

Student of BKWSU (Brahma Kumaris World Spiritual University)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

"Meditasi," Setiap Jiwa Adalah Anak Tuhan, Maka Harus Rukun

3 April 2019   10:55 Diperbarui: 3 April 2019   11:00 0 2 2 Mohon Tunggu...

Awal belajar Gita, banyak hal-hal istimewa yang memicu terjadinya konflik batin. Tuhan Shiva, Jiwa ('J' besar) Yang Maha Tinggi, setiap pagi selalu mengingatkan bahwa Beliau adalah Sang Ayah, Ayah (Ruhani) dari setiap jiwa di dunia ini.

Tidak serta merta saya dapat menerima konsep (pelajaran)  ini. Sebab selama ini yang saya tahu adalah bahwa Tuhan tidak beranak. Sampai suatu ketika Beliau menjelaskan bahwa memang Beliau tidak pernah beranak. Beliau tidak berwujud jasmani, tidak hamil dan tidak melahirkan.

Beliau adalah sosok Ruhani, yang hanya mengajarkan hal-hal yang ada hubungannya dengan kehidupan ruhani. Mengapa Beliau mengajarkan hal-hal yang bersifat ruhani?

Karena tidak ada yang lain yang mampu mengajarkan rahasia kehidupan ruhani, kecuali Beliau, Sang Ruh Tertinggi. Beliau disebut Sang Benih, Sang Intisari. Hanya Sang Benih yang mengetahui seluruh rahasia tentang pohon.

Pelajaran pertama dan utama yang Beliau ajarkan adalah tentang sejarah saya, asal muasal saya, siapa orang tua sejati saya dan apa pekerjaan orang tua saya. Beliau mengajarkan beda antara sekedar tahu dan mengenal. 

Mengenal itu berbeda dengan sekedar tahu. Jika saya mengenal seseorang, saya tahu sejarahnya. Saya tahu nama aslinya, saya tahu rumahnya, saya tahu keluarganya, saya tahu pekerjaannya dan saya tahu hal ikhwal tentang dirinya. Inilah yang disebut kenal.

Cukup lama saya tidak paham-paham tentang materi ini, sampai kemudian suatu saat saya merenungkan kelahiran saya sendiri.

Saat awal ibu mengandung, hanya ada gumpalan darah dalam rahim. Segumpal darah, belum bisa apa-apa. Sebelum 120 hari, yaitu sebelum calon raga itu siap, saya (sang ruh), belum masuk ke dalamnya.

Jadi, dari mana asal saya? Dimana saya sebelum masuk janin? 

Saya lantas sadar. Hubungan badan, hanya menghasilkan calon badan. Sementara saya (ruh), bukanlah hasil hubungan badan. Saya datang kemudian, setelah calon raga, siap. Jika demikian, siapakah sejatinya orang tua saya?

Lalu memori saya tertuju pada kematian. Saat saya disebut mati, sejatinya saya sedang pergi  meninggal (kan) badan saya. Badan saya bisa hancur, tetapi saya (ruh),  tidak. Saya hanya pergi meninggalkan badan saya. Tetapi, saya pergi kemana? Orang bilang saya pulang. Pulang kemana? Pulang kepada siapa?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2