Mohon tunggu...
Ari Budiyanti
Ari Budiyanti Mohon Tunggu... Guru - Guru yang suka berpuisi

Sudah menulis 2.452 artikel berbagai kategori (Fiksiana yang terbanyak) hingga 22-1-2023 dengan 1.880 highlight, 15 headline, dan 95.416 poin. Menulis di Kompasiana sejak 1 Desember 2018. Masuk Kategori 15 Kompasianer Teraktif di Kaleidoskop Kompasiana selama 4 periode: 2019, 2020, 2021, dan 2022. Salam literasi πŸ’– Just love writing πŸ’–

Selanjutnya

Tutup

Humor Pilihan

Masker Timun

2 November 2022   19:52 Diperbarui: 2 November 2022   20:26 183
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber foto freepik via berkeluarga.id

Pagi itu saya bersemangat sekali pergi ke pasar yang ada di sebelah rumah. Dengan kemampuan terbatas, saya memilih buah mentimun atau ketimun yang saya tujukan untuk masker wajah. Caranya sih mudah. Sederhana dan juga murah meriah buat saya. Mentimun atau ketimun juga terkenal dengan sebutan timun.

Singkat cerita saya memilih beberapa ketimun dan membawanya pulang. Setelah mencucinya hingga bersih, saya mulai memotong bagian tepi ketimun, ujung bawah dan atas yang berwarna sangat hijau. Kalau dimakan, bagian itu terasa lebih pahit dari pada bagian lainnya.

Saya menyediakan piring kecil dari plastik dan talenan untuk memudahkan mengiris ketimun. Pikir saya akan menjadikan ketimun itu sebagai masker wajah sekalian untuk refreshing kulit wajah. Masker ketimun untuk wajah, selain bisa membuat kulit lembut, ternyata juga bisa membuat kulit terasa dingin dan segar.

Itu berdasarkan pengalaman saya dulu. Saya suka menggunakan masker ketimun atau tepatnya dari irisan ketimun menutupi seluruh wajah.

Nah kembali ke cerita tadi ya. Saat saya sudah duduk manis di ruang tamu dan menyiapkan pisau untuk mengiris ketimun tipis-tipis, tiba-tiba ada suara ceria dari pintu. Suara yang sangat saya kenali.

Tanpa disangka keponakan kecil saya datang berkunjung. Kebetulan dia penyuka berat buah ketimun. Lalu dia berseru dengan senang, "Wah asyik, Bulik mau potong buah timun untuk aku makan ya?"

Saya terdiam sejenak karena terkejut. Tapi tiba-tiba tertawa kecil pada keponakan kecilku. "Oh ya, tentu saja kamu boleh makan timun ini."

Dengan senang hati, buah timun itu dimakan hingga habis oleh keponakan kecil tersayang. Aku hanya tertawa geli dalam hati. Wah batal deh acara pakai masker timun hari ini. Timunnya telah menjadi santapan segar keponakan kecilku.

Baca juga: November 1

Begitulah, kadang apa yang kita rencanakan tidak selalu berjalan sesuai yang kita mau.

..
Written by Ari Budiyanti
2 November 2022

Humor yang kutulis pertama kali di Kompasiana

3-2.350

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humor Selengkapnya
Lihat Humor Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun