Mohon tunggu...
Asron Da Finsie
Asron Da Finsie Mohon Tunggu...

Mengisi waktu luang dengan menulis sepulang kerja aplikasi penglihatan mata, hati dan telinga terhadap lingkungan sekitar untuk perubahan kehidupan yang lebih baik.

Selanjutnya

Tutup

Media

Karakter Baik dalam ber-Media Sosial

10 Juni 2017   23:28 Diperbarui: 10 Juni 2017   23:36 0 2 1 Mohon Tunggu...

Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. wikipedia bhs. Indonesia.

Pada tanggal 10 Juni 2017, diperingati sebagai Hari Media Sosial di Indonesia.  Peringatan ini pertama kali diperingati pada tahun 2015 yang lalu yang bertujuan untuk mengevaluasi kembali bagaimana perilaku kita bermedia sosial.  Media sosial tentu selayaknya digunakan untuk menyebarkan konten positif, bukan digunakan untuk menyebarkan konten negatif seperti hoaks, berita bohong, pornografi dan sebagainya yang berkonotasi negatif (jelek). Caption Kompasiana disunting

Demikian tujuan dan harapan dari peringatan Hari Media Sosial tersebut, sekaligus bertujuan mengarahkan perilaku hidup dan kehidupan masyarakat dalam bermedos ria yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat luas. Mau tidak mau, suka tidak suka, Media Sosial merupakan suatu bentuk katakanlah rahmat anugerah di era digital saat ini dimana kita hidup di dalamnya. Coba kita bayangkan ketika Medsos pada awalnya semisal facebook yang merupakan jejaring sosial diluncurkan dalam dunia maya digital pada bulan Februari 2004, dan berkantor pusat di Menlo Park, California, Amerika Serikat. Wikipedia. Pada kala itu sangat sedikit masyarakat kita khususnya yang bisa mengakses ataupun membuat akun facebook, dimana keterbatasan jaringan internet baik quota maupun yang menggunakan kabel internet. Konten-konten berbau negatif kala itu sudah ada namun belumlah banyak dapat dilihat maupun diketahui masyarakat luas sehingga efek negatif yang ditimbulkannya pun belum lah sebegitu meluas ataupun memang belumlah dapat diketahui masyarakat luas karena keterbatasan jaringan internet tadi.

Dan sekarang semua menjadi berbalik, dalam artian akses ke jaringan internet sudah begitu meluas hingga sampai kepelosok-pelosok negeri dari Sabang sampai Merauke-Papua. Semua itu tidak bisa kita cegah secara absolut keterluasan jaringan internet tersebut, apalagi dalam Negara Demokrasi Indonesia ini. Hukum pasar secara alami akan menjadi bermain dimana ada demand dan supply di dalamnya. Ketika kita akan berupaya mencegah keterluasan jaringan internet itu, sedikit banyak kita akan mengubah pola pemerintahan dari Demokrasi menjadi Otoriter atau Sosialis seperti di China, dimana pada Negara Sosialis, warga negaranya harus sama prilaku bermasyarakatnya dengan batasan-batasan aturan yang ketat diberlakukan. Pertanyaannya.., apakah kita mau seperti itu.?

Suatu hal yang mungkin bisa dilakukan adalah dengan menanamkan pendidikan karakter kepada generasi penerus bangsa, karakter anak bangsa harus ditanamkan perilaku hidup bermasyarakat dengan berpedoman pada ajaran agama, saling menghormati dengan struktur antara orang tua dan anak, antara guru dan murid, antara pemimpin dan yang dipimpin. Itu semua harus juga dimulai dari struktur tersebut, artinya orang tua, guru atau pemimpin harus menunjukan perilaku yang baik dan berkarakter sempurna katakanlah. Jangan ada pepatah, dimana guru kencing berdiri maka murid kencing berlari, akan melekat pada karakter anak bangsa generasi penerus kita.

Fenomena belakangan ini dimana Plagiat menjadi trending topik akhir-akhir ini, mungkin juga lebih mengarah kepada karakter anak bangsa yang tidak turun semestinya bahwa karakter orang tua, guru dan pemimpin harus menjadi contoh terbaik bagi si Plagiat (Plagiator) itu khususnya. Sehingga dengan leluasa dan seenaknya dia (Plagiator) menjiplak karya orang lain yang diakui menjadi karyanya (kecuali disebutkan sumbernya dengan jelas).  Dalam wikipedia Bhs. Indonesia : Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas.

Berbagai tudingan diarahkan kepada pelaku plagiat belakangan ini. Dianggap ada yang mem-backup lah, ada misi khusus lah dan sebagainya.. Ada teman memposting tulisan pada akun fb tentang tuduhan ini yaitu, Afi sengaja diorbitkan kubu-kubu liberal (Kebebasan) utk mencari idola baru di tingkat ABG (Anak Baru Gede), Sebelum meledak terburu kempes karena tulisannya ternyata copy paste alias plagiat alias mencuri dari beberapa penulis, termasuk tulisan terakhir Warung Makan ... hasil plagiat juga.

Itu semua (Plagiat) merupakan imbas atau efek dari keterluasan jaringan internet tadi, sehingga setiap orang pun bisa menuliskan apa saja melalui akun pribadinya, sampai curhat tentang urusan pribadi pun dapat orang tuliskan melalui akun nya sendiri. Itu tidak ada yang membatasinya, apalagi dengan pemilik konten yang nota benenya menjalankan bisnis digital dunia maya dengan prinsip untung rugi melalui input financial penghasilan, jelas sesuatu yang membuat kontennya menjadi terkenal dan disukai banyak orang akan memberikan pemasukan financial yang super extra jumlahnya. Efek jaringan internet tadi itu pun membuat orang lain (publik) akhirnya tahu adanya Plagiat itu karena dipublikasikan via jaringan publik.

Sebenarnya jika mau ditelisik, dalam dunia Blogging pun sudah ada yang namanya Plagiat ini, tetapi kenapa sampai tidak "booming", atau sampai tidak diketahui publik, mungkin dalam dunia Blogging sedikit publik yang mengetahuinya atau suka. Atau juga mungkin kah memang ada yang mem'backup" si Plagiator itu agar mempublikasi tulisan nya sehingga bisa dilihat publik. Belum lagi dibela-belain sampai dapat reward segala. Jadi dimana turunan pendidikan berkarakter bagi anak bangsa generasi penerus tersebut.

Terlepas dari tudingan memang ada yang menyuruh-nyuruh (Bahasa sederhananya) si Plagiator itu. Jelas ini suatu yang salah dengan turunan pendidikan yang berkarakter tersebut. Sesuatu yang sangat tidak mesti untuk di tiru oleh generasi penerus, sesuatu yang salah dalam ber-medsos ria. Sesuatu yang tidak harus di Lestarikan dari pemikiran anak bangsa generasi penerus khususnya.

Sebelum tudingan-tudingan diatas lebih meluas lagi, memang semahfumnya yang merasa telah melalukan Plagiator bergegaslah meminta maaf kepada publik. Sebelum tudingan-tudingan yang akan merobek sendi-sendi bernegara dan berbangsa itu menjadi semakin tersobek, secepatnya ini diluruskan. Segala keterkaitan dengan "case" ini harus lah meluruskan, mulai dari orang tua, guru maupun pemimpin sebagai panutan pendidikan berkarakter bagi anak bangsa generasi penerus segera meluruskan itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x