Mohon tunggu...
Mbah Ukik
Mbah Ukik Mohon Tunggu... Buruh - Jajah desa milang kori.

Wong desa

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Keniscayaan Mengulang Berita

2 Oktober 2022   14:00 Diperbarui: 2 Oktober 2022   14:01 126 18 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber foto: Media Bias Research 

Beberapa tahun yang lalu saya menjadi konten kreator di salah satu portal berita ternama di negeri ini. Harapannya, selain bisa menyalurkan hobi membaca dan menulis tentu saja mendapat fee seperti yang dijanjikan. 

Berdasarkan kisah seorang konten kreator yang telah bekerja selama dua tahun ternyata fee yang bisa diterima sangat menggiurkan. Dalam sebulan bisa menerima sekian juta.

Jumlah yang cukup fantastis. Tentu saja berdasarkan jumlah pembaca yang didapat dari artikel tersebut.

Sekitar sepuluh artikel berita pertama langsung mendapat porsi headline. Rasa bangga tentu saja muncul walau tidak diiringi rasa senang, sebab sedikit pembaca. 

Walhasil bulan pertama hanya mendapat fee tak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Demikian juga bulan-bulan selanjutnya.

Tim redaksi pun mengontak dan memberitahu sebaiknya menulis berita atau artikel yang sedang ngetren dengan label tertentu. Ditambah lagi setiap hari wajib mengirim sepuluh tulisan sehingga bisa disaring paling tidak bisa 7 atau 8 tulisan bisa diposting.

Di sinilah saya merasa tidak tertantang bahkan sesuatu yang harus tidak dilakukan. Menulis kembali sebuah berita berdasarkan apa yang dibaca atau didengar dari berita yang lain dengan bumbu opini hanyalah memperlebar sebuah kejadian. Bisa jadi malah memperkeruh masalah sebab bagaimanapun penulis kembali akan mengutarakan pendapatnya yang bias dari kejadian sebenarnya.

Salah satu contoh adalah berita tentang pembunuhan seorang anggota kepolisian oleh anggota lainnya. Beberapa penulis ulang yang berdasarkan bacaan atau berita lain dengan argumennya masing-masing justru malah bias.

Bisa diumpamakan dengan seseorang yang menonton berita dari parabola yang diacak tetapi berani mengatakan bahwa yang ia lihat adalah kebenaran yang sesungguhnya. Miris

Sumber: wikiHow.com
Sumber: wikiHow.com

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan