Mohon tunggu...
Mbah Ukik
Mbah Ukik Mohon Tunggu... Buruh - Jajah desa milang kori.

Wong desa

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Guru, Profesi Paling Hebat

3 Desember 2021   11:36 Diperbarui: 3 Desember 2021   11:56 597
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Merasa gaji hanya pas-pasan. Pas untuk makan dan minum. Pas untuk beli pakaian. Pas untuk kredit sepeda motor. Kurang pas untuk kredit malah beli rumah sehingga mau melamar kekasih harus maju mundur.


Saya pun merangkap mengajar di dua sekolah di dua kota. Ternyata sangat menguras tenaga.

Pengalaman bertani bersama orangtua maka memutuskan juga menjadi petani.

Hidup petani selalu di bawah bayang-bayang pengusaha besar dan kartel. Harga selalu diombang-ambingkan mereka. Pendapatan pun juga pas-pasan.

Lalu profesi tambah lagi jadi penari di hotel-hotel bintang satu di Malang dan Surabaya. Honor lumayan. Tapi tampil belum tentu sebulan sekali.

Banyak kenalan di hotel dan suka moto, lalu mendirikan wedding organizer dan tukang poto. Perkembangan teknologi demikian pesat dan harga DSLR melambung. Wedding organizer kolap.

Pengalaman begitu banyak bisa dijadikan sebuah tulisan. Jadilah penulis amatir. Posting di Kompasiana dan jadi CC. Ternyata jumlah K-reward dan monetasi CC tak berbanding lurus dengan pulsa dan listrik yang dikeluarkan.

Ternyata jadi guru paling nyaman walau sering dipandang sebelah mata. Apalagi oleh orangtua yang merasa dirinya hebat dan bergaya bossy.

Dilabrak orangtua bukan satu dua kali gegara anak suka menggoda guru dan orangtuanya. Ketika siswa kutanya mengapa berbohong sehingga orangtua kesal, dengan enteng menjawab, 'iseng saja karena papa suka marah kalo nilaiku jelek' 

Menghadapi orangtua semacam ini harus sabar seperti menghadapi siswa-siswi yang unik. Tak perlu takut, grogi, atau ikut marah. Biarkan mereka marah habis-habisan. Mungkin mereka belum tahu cara berkomunikasi yang baik dan benar.

Beberapa orang semacam ini pernah kubiarkan meluapkan kekecewaan, kekesalan, dan kemarahannya sampai habis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun