Mohon tunggu...
Mbah Ukik
Mbah Ukik Mohon Tunggu... Buruh - Jajah desa milang kori.

Wong desa

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Bahasa Daerah Makin Terpinggirkan

28 Oktober 2021   09:56 Diperbarui: 28 Oktober 2021   13:24 235 19 7
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Tangkap layar pdf surat kabar harian Kompas. Dokumen pribadi

Ada satu hal yang cukup menarik pada isi harian Kompas edisi khusus Sumpah Pemuda hari ini, yakni mengangkat topik bahasa daerah.  Sekali pun hanya judul dan hanya ada di lima halaman pertama saja.

Satu edisi yang mungkin belum pernah ditampilkan oleh media manapun, kecuali memang media yang berbahasa daerah. Misalnya, Jayabaya dan Penyebar Semangat yang menggunakan bahasa Jawa.

Kedua majalah (Jawa: pawarti) tidak akan terbit lagi dalam bentuk cetak karena jumlah pembaca dan pelanggan yang terus merosot. Sehingga ongkos cetak dan kirim tidak memadai.

Tangkap layar pdf surat kabar harian Kompas. Dokumen pribadi
Tangkap layar pdf surat kabar harian Kompas. Dokumen pribadi

Hal yang paling menarik dalam ulasannya tentang bahasa daerah dalam Kompas hari ini seperti yang tertulis di halaman tiga, yang berbunyi: Berbahasa Indonesia saja kerap dianggap tidak keren di kalangan kaum muda, apalagi berbahasa daerah. Sebaliknya, pemakaian bahasa Inggris secara lisan maupun tulisan kian biasa dalam percakapan anak-anak muda sehari-hari.

Menyimak dengan sub judul di atas, saya pun bertanya dalam hati, apakah ini hanya untuk kaum muda saja? Bagaimana dengan kaum tua yang pernah muda?

Beberapa pejabat yang seharusnya memberi teladan dalam berbahasa Indonesia sering menggunakan istilah yang diambil dari bahasa asing. Terlepas bahwa kata tersebut sudah masuk dalam kata serapan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebaiknya menggunakan bahasa Indonesia asli. Misalnya saja, jika ada kata perhatian mengapa harus memakai kata atensi.

Tangkap layar pdf surat kabar harian Kompas. Dokumen pribadi
Tangkap layar pdf surat kabar harian Kompas. Dokumen pribadi

Saya pun teringat akan salah satu topik yang diangkat Kompasiana pada akhir 2018, yakni tentang bahasa daerah.

Beberapa tulisan berbahasa daerah langsung muncul. Tetapi paling banyak tulisan berbahasa Jawa, baik dialek wetanan atau Jawa Timuran dan ngapak ala Tegal atau Banyumasan. Saya pun menggelontor dengan empat tulisan.

Setelah itu hilang lagi tulisan berbahasa daerah. Termasuk beberapa kompasianer yang merupakan ahli bahasa Jawa dan suka menulis dengan menggunakan bahasa Jawa. Apalagi tulisan dengan bahasa daerah lainnya tambah tidak muncul. Mungkin enggan nulis karena sedikit pembaca dan tanggapan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bahasa Selengkapnya
Lihat Bahasa Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan