Mohon tunggu...
Mbah Ukik
Mbah Ukik Mohon Tunggu... Buruh - Jajah desa milang kori.

Wong desa

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Jangan Malu Jadi Pembeli yang Cerewet

23 Maret 2020   16:19 Diperbarui: 23 Maret 2020   19:17 241
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Di warung kecil ini pembeli adalah raja. Dokpri

Pembeli adalah raja, demikian kata pepatah. Ada harga ada rupa, pepatah lain mengatakan demikian. Sebagai pembeli, tak selalu pelanggan, saya memang sedekit cerewet jika harga yang saya bayar tidak sesuai dengan mutu yang seharusnya saya terima. Kecuali jika hanya membeli sesuatu di K5 yang harganya belasan ribu saja. 

Rasanya kalau mau cerewet kok tidak tega. Lain lagi jika harganya ratusan ribu bahkan puluhan juta saya pasti cerewet. Apa yang saya bayarkan harus sesuai dengan promosi yang diberikan. 

Jika tidak maka saya akan protes sampai menang. Ditolak maka menulis di surat pembaca di media cetak atau medsos untuk minta perhatian. Bukan berarti saya ingin dilayani sebagai raja. Ini pengalaman saya yang sebagian sebenarnya pernah saya tulis di K pada tahun 2012 tapi sudah hilang.

Sepuluh tahun yang lalu ketika mengambil mobil baru yang sudah keluar dokumennya di sebuah dealer, ada hal yang kurang berkenan di mobil yang baru dibeli istri penulis. Di bagian kaca belakang ditempeli stiker nama dealer. 

Karena saat masih di showroom tak ada sticker maka saya minta kepada bagian penjualan dan mekanik untuk melepas stiker tersebut dalam waktu sepuluh menit dan tidak boleh ada goresan sama sekali dikaca. 

Tak kalah geram saya juga menghadap pimpinan untuk tidak sembarangan memasang stiker di mobil pembeli. Itu mobil kami. Bukan mobil dealer yang bisa dijadikan sarana promosi. Mereka pun keder juga dan dengan agak gemetar mengelupas stiker!

Suatu saat saya membeli sepeda motor merek H. Buku pedoman saya baca dengan teliti untuk meminta garansi jika ada kerusakan.  Baru setahun membeli, tangki BBM keropos dan hampir menyebabkan kebakaran mesin. 

Saya pun protes ke dealer dan mendapat jawaban kurang mengenakkan yang mengatakan jika kelemahan sepeda motor laki-laki tangkinya mudah keropos karena air hujan atau saat dicuci bisa masuk lewat tutup tangki. Salah satu mekanik juga menyebut sepeda motor laki-laki merek lain. 

Untuk menghindari itu maka tangki harus selalu penuh. Saya yang tidak puas dengan jawaban tersebut mengatakan tak mungkin BBM selalu penuh hla wong dipakai. Adu mulut dengan jawaban tak mengenakkan pun terjadi apalagi saya ngotot minta ganti. 

Karena mendapat jawaban yang tak mengenakkan dan tak mendapat ganti saya pun menulis di Surat Pembaca di sebuah media cetak. Dealer pun minta klarifikasi dan tidak saya ladeni karena tidak mendapat garansi. Tangki kropos itu sampai sekarang masih saya simpan jika produsen dan dealer minta bukti.

Penyajian menarik dan berbeda walau harganya cuma sepuluh ribu. Dokpri
Penyajian menarik dan berbeda walau harganya cuma sepuluh ribu. Dokpri
2010 seorang sales merengek-rengek bin merayu setengah mati agar saya membeli mesin cuci dengan merk L yang terkenal mahal karena di atas 6 juta. Belum setahun sistem computer rusak. Saat saya mengubungi dealer mendapat jawaban bahwa mesin cuci yang dijual door to door tidak ada garansi sesuai dengan perjanjian. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun