Sosbud

Surat Terbuka Untukmu Indonesiaku

17 Agustus 2018   21:55 Diperbarui: 17 Agustus 2018   22:05 172 0 0

Hai, Indonesia bagaimana kabarmu? Aku harap kau selalu baik dan sejahtera. Hari ini adalah hari dimana kau dilahirkan kedunia. Hari dimana kau mulai berjalan diatas kakimu sendiri setelah bertahun -- tahun kau menjadi tanah jajahan. Hari ini hari dimana keringat, darah dan airmata pendahuluku terbayar dengan gegap gempita sorak kemerdekaan. 

Masih kuingat bertahun yang lalu saat aku masih terlampau kecil, saat bapak guruku bercerita tentangmu dan para pendiri bangsa. Saat itu beliau bercerita bahwa kau adalah negara yang sangat besar. Suatu negeri dimana Tuhan mencurahkan seluruh cinta dan kasih sayangNya. Tanah yang subur, laut yang luas membentang, gunung yang tinggi menjulang dan hutan hujan yang menghijau. Beliau juga berkata bahwa kau adalah bangsa yang besar, kau adalah bangsa dengan kebudayaan terbaik di bumi. Dari rahimmu lahir raja -- raja hebat sepanjang masa dari Kutai hingga mataram.

Darimu aku mengenal siapa leluhurku seorang yang besar dan beradab. Karenamu aku mengenal sosok yang hebat dari Hayam Wuruk hingga Soekarno. Karenamu aku mengenal beragam budaya dan peradaban. Karenamu juga aku mengenal berbagi kepercayaa  dan keyakinan.

Hai, Indonesia, kau tahu kini usiamu sudah 73 tahun usia yang sudah cukup matang untuk mencapai tingkat bijaksana. Guruku petnah bercerita bahwa kau jauh lebih tus dari usiamu kini. Kau bahkan sudah hidup sejak ribuan tahun yang lalu. Jauh sebelum Gajah Mada mengucap sumpah Palapa untuk menyatukan Nusantara. Kau bahkan telah banyak melahirkan sosok -- sosok yang luar biasa dan hebat pada masanya. Hingga akhirnya ujian itu datang menimpamu. Saat bangsa asing datang merusak dan mengobrak -- abrik tanahmu. 

Bukan salahmu jika kau memiliki masyarakat yang ramah pada siapapun. Hingga membuat para pendatang itu justru menindas putra -- putrimu. Aku tahu kau mendidik putra -- putrimu untuk menjadi manusia yang beradab, bermoral dan punya unggah-ungguh pada siapapun hingga akhirnya membuat mereka memanfaatkan kebaikan kita. Mereka merampok alammu, menindas putra-putrimu yang sangat kau cintai. Membuat mereka menderita, menangis, dan kelaparan diatas lumbung padi.

Hai, Indonesia aku tahu kau pasti menangis pilu saat itu. Dimana kau harus melihat putra-putri tercintamu hidup menderita diatas tanah yang kaya raya. Akupun juga menangis saat eyangku bercerita bagaimana kejamnya hidup dalam kungkungan penjajah. Eyangku pernah bercerita bagaimana ia harus mendapat cambukan saat beliau menjadi korban romusa. 

Beliau juga pernah bercerita sering bahkan setiap hari melihat putramu gugur tertembus peluru. Eyang juga bercerita bagaimana cara putra-putrimu mencoba bertahan hidup dan berjuang demi kemerdekaan.

Hai, Indonesia terimakasih karena engkau telah melahirkan tokoh -- tokoh hebat sepanjang zaman yang bahkan tak dapat kusebutkan satu per satu. Dari seorang guru bangsa Ki Hajar Dewantara, sang ulama teladan Kyai Ahmad Dahlan, hingga sang founding father Indonesia Soekarna dan banyak tokoh lagi yang tidak bisa kusebutkan. 

Aku berterimakasih kepada pendahuluku, karenanya kini aku bisa menghirup udara kemerdekaan. Masih segar dalam ingatanku saat aku masih kanak -- kanak yang tinggal di kota kecil dan di desa yang nyaman. Setiap kau berulang tahun kami selalu menyambutmu dengan suka cita. Tua, muda dan anak -- anak bergotong royong mempercantik desa kecil kami dan malam harinya kami berkumpul di balai desa mendengar kisah dari para sesepuh sekaligus mengenangmu. Tak lupa kami berdoa kepada Tuhan agar Ia melimpahkan seluruh rahmat dan kasih sayangNya kepada engkau.

Hai, Indonesia apa yang kuceritakan diatas terjadi 10 tahun yang lalu kini semua telah berubah dan zamanpun semakin cepat bergerak maju. Kau banyak perubahan yang terjadi di tanahmu gedung-gedung tinggi menjulang mengalahkan gunung milikmu. Lampu kota berkerlap -- kerlip mengalahkan cahaya bintang gemintang di langitmu. Semua menjadi serba cepat dan instan. Teknologi dan ilmu pengetahuan pun berkembang dengan cepat. 

Sayangnya, tidak dengan putra -- putrimu. Maafkan aku jika membuatmu kembali menangis, aku hanya ingin sedikit bercerita tentang kami generasi penurus para pendahulu. Semua kemajuan yang terjadi justru berbanding terbalik dengan perilaku putra -- putrimu. Kami justru semakin rusak dan tidak bermoral. Sebagian dari kami bahkan hanya menjadi sampah masyarakat narkoba, mira, seks bebas dan segala hal yang menjijikan telah kami lakukan. Kami kehilangan masa depan kami dan hanya menjadi duri dalam daging. 

Sebagian dari kami juga telah kehilangan sopan -- santun, unggah -- ungguh dan andhap asor. Kami dengan entengnya berkata kasar, menghujat, menghina, memfitnah, dan mengeluarkan sumpah serapah lainnya pada orang yang bahkan tidak kami kenal hanya karena berbeda pendapat. Sebagian dari kami juga tidak akan segan untuk saling menyerang atas dasar perbedaan suku, ras dan agama.

Hai, Indonesia maafkan aku karena menyakitimu lagi karena ceritaku. Aku tak tahu lagi kepada siapa aku mengungkapkan rasa kecewaku. Aku memang belum menjadi putrimu yang berbakti. Maafkan kami yang terus merengek untuk berubah tapi kami bahkan tidak mau bergerak untuk berubah. Maafkan kami yang menyakitimu lagi dan lagi. Maafkan kami yang tidak bisa menjadi generasi yang kau harapkan.

Hai, Indonesia selamat ulang tahun. Semoga Tuhan membantu kami untuk mengepakkan sayapmu dan terbang lebih tinggi lagi. Semoga Tuhan menguatkan langkah kami untuk berlari lebih kencang mengejar ketertinggalan. Semoga Tuhan mengkaruniakan pikiran jernih, ilmu yang bermanfaat, hati yang lembut, dan budi pekerti yang luhur untuk membangun bangsa yang cerdas, maju dan bermoral serta bermartabat.

Salam dariku putrimu tercinta

Indonesia, 17 Agustus 2018

Ardiani Ratna