Mohon tunggu...
Ardhianto
Ardhianto Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Maha = amat/paling Siswa = Orang yang berguru/belajar Mahasiswa = Orang yang paling banyak berguru

Selanjutnya

Tutup

Nature Pilihan

Plastik & Kertas, Mana Lebih Ramah Lingkungan?

29 Juli 2021   11:32 Diperbarui: 3 Agustus 2021   17:05 478
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dalam pembuatan 1 ton kertas dari pohon utuh hingga menjadi kertas membutuhkan 957,6 liter bensin. Serta menggunakan 324 liter air untuk setiap 1 kg kertas yang dihasilkan.

Pembakaran bensin dan listrik yang digunakan akan berubah menjadi emisi gas rumah kaca. Sumber energi yang berubah menjadi gas rumah kaca inilah yang bisa disebut sebagai jejak karbon.

Proses panjang ini menyebabkan produksi kertas membutuhkan energi 3,4 kali lebih besar dibandingkan dengan produksi plastik (EcoEnclose, 2018). Dikutip dari qureta.com, menurut Badan Energi Internasional (IEA), industri kertas menempati urutan keempat penggunaan energi industri tertinggi. Pabrik kertas mengonsumsi sekitar 6% dari total energi industri dunia, sehingga pabrik kertas menyumbang emisi gas yang cukup tinggi.

Antara tahun 2001 - 2011, 386 juta hektare hutan "lenyap". Deforestasi untuk kebutuhan industri berperan besar pada pengurangan luas hutan. 42% penebangan hutan di seluruh dunia dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan kertas.

Berdasarkan estimasi, 40% sampah yang ada di Amerika Serikat adalah sampah kertas. Sedangkan 25% sampah dunia adalah sampah berbahan kertas (theworldcounts).

Sekilas, penggunaan kertas sebagai pengganti plastik terlihat sangat ramah lingkungan. Jika tidak melihat lebih jauh, hal ini bisa jadi benar.

Namun, meningkatnya penggunaan kertas tanpa proses pengelolaan sampah kertas yang baik akan menimbulkan masalah baru. Penebangan Hutan akan semakin tinggi, hal ini mempercepat hilangnya kawasan hutan hujan dunia. Berdasarkan prediksi yang dibuat Theworldcounts, hutan hujan dunia akan lenyap sepenuhnya dalam waktu 78 tahun dari sekarang. Tentunya ini bisa menjadi pertimbangan bahwa kertas tidak selalu lebih baik dari plastik.

Di Indonesia sendiri, penggunaan bahan kertas maupun plastik akan berakhir di tempat yang sama; laut, sungai, tempat pembuangan akhir atau bahkan tempat yang di luar dugaan, tanpa proses lebih lanjut. Kondisi ini terjadi karena berbagai alasan, salah satunya adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari rumah.

Hasil survei Katadata Insight Center (IKC) di 5 kota di Indonesia; Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta dan Surabaya menunjukkan, hanya 50,8 persen responden yang memilah sampahnya secara mandiri (Katadata, 2019).

Alasan lainnya adalah proses pengelolaan sampah yang tidak tuntas. Beberapa daerah di Indonesia masih mengandalkan teknik open-dumping. Dengan cara ini, sampah hanya akan berakhir di Tempat Pembuang Akhir (TPA), alias dibuang, ditumpuk dan dibiarkan begitu saja.

Mengalihkan penggunaan plastik dan menggantinya dengan kertas tentunya tidak akan berdampak banyak jika masalah utamanya bukanlah pada bahan yang digunakan. Melainkan karena buruknya proses pengelolaan sampah yang ada.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun