Mohon tunggu...
Ardi
Ardi Mohon Tunggu... Guru - Tenaga Pendidik

Alumnus Mahad Abu Ubaidah Bin Al-Jarrah Medan. Alumnus STAI Bahriyatul Ulum Pandan Tapanuli Tengah

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Perlunya Menjaga Privasi Siswa

21 Oktober 2021   00:34 Diperbarui: 21 Oktober 2021   00:44 117 6 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi gambar: Pixabay/ LEEROY Agency

Guru bukan hanya berfungsi sebagai pendidik, tapi guru juga merupakan konselor bagi siswanya. Ya, setiap guru tentu pernah mengalaminya. Memiliki siswa yang berkelakuan tidak baik, katakanlah seperti; ngobrol dalam kelas saat guru menerangkan, atau bolos mata pelajaran, atau berkelahi, dan lain-lain.

Mengetahui masalah siswa sudah menjadi makanan guru. Malah jika guru tidak tahu masalah yang tengah dialami siswa, ini dapat menimbulkan pertanyaan, artinya bahwa guru kurang peka terhadap siswa. Guru butuh informasi tentang siswa. Karena informasi itu akan mempermudah kinerjanya mengajar di kelas.

Apa hubungannya informasi siswa dengan kinerja guru? Dengan mengetahui kondisi siswa minimal delapan puluh persen, guru akan tahu metode belajar apa yang baik untuk diterapkan kepada siswa. Tidak semua siswa sama dalam memahami materi pembelajaran. Ada yang harus diulang beberapa kali baru bisa paham. Ada juga yang mudah menangkap penjelasan guru.

Tindakan mencari informasi tentang siswa ini dapat berwujud konseling. Bagaimana siswa merasa nyaman menceritakan kondisinya kepada guru. Salah satunya dengan menjaga privasi siswa. Mereka akan berkata jujur jika Anda bisa dipercaya, namun jika Anda tidak bisa menjaga privasi mereka, alamat berbohonglah yang mereka lakukan untuk menyelamatkan diri.

Tentu hal ini bukanlah yang kita inginkan. Lantas, sebatas mana guru menjaga privasi siswa? Sebelum menanjak ke langkah selanjutnya, baiknya kita perlu tahu apa yang dimaksud dengan privasi itu sendiri.

Menurut KBBI, privasi adalah suatu kebebasan atau keleluasaan pribadi. Ranah privasi seseorang seperti sebuah gembok yang hanya ia sendiri pemilik kuncinya. Maka jika Anda diizinkan untuk membuka gemboknya, jagalah amanahnya dengan tidak memberikan kunci itu kepada selain pemiliknya.

Artinya bahwa janganlah pernah memberitahukan masalahnya kepada siapa pun, kecuali kepada orang-orang yang punya kepentingan terhadapnya. Misalnya Anda adalah wali kelasnya, kemudian ada seorang guru yang mengeluhkan salah satu siswa anda, seperti tentang cara belajarnya yang tidak baik, atau sikapnya yang kurang baik.

Nah, di sini Anda dapat memberikan pengertian kepada guru tersebut terkait informasi yang berkenaan dengan siswa tersebut. Sebatas kendala yang dihadapi saja tidak lebih dari itu. Karena masalah yang dialami siswa bukanlah untuk konsumsi publik, namun masalah mereka adalah tanggung jawab Anda sebagai pendidik.

Mereka juga seperti Anda, yang tak ingin ranah privasinya diketahui khalayak ramai. Bagaimana perasaan Anda jika tahu ada orang yang menceritakan keburukan Anda tanpa ada ketahui sebelumnya? Tentu rasa kecewa yang besar yang Anda rasakan. Anda juga tidak lagi percaya untuk mengungkap cerita dengannya. Begitulah jika kepercayaan itu sudah tak lagi dipegang.

Mudah-mudahan orang akan menjaga privasi Anda jika Anda juga berlaku yang sama. Namun sebaliknya, jika Anda tak menjaganya, alamat hal yang sama juga akan Anda terima.

 Semoga bermanfaat

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan