Dwi Ardian
Dwi Ardian ASN BPS Kabupaten Mamasa

Sedang berjuang mengemban tugas belajar DIV Statistika Politeknik Statistika STIS-Jakarta "Belajar dan berbagi melalui tulisan"

Selanjutnya

Tutup

Bola

Mewaspadai "Fenomena" yang Menyertai Piala Dunia

13 Juni 2018   15:54 Diperbarui: 13 Juni 2018   16:00 599 0 0

Perhelatan pertandingan sepak bola terbesar sejagad raya tinggal menghitung jam. Antusiasme dari para penikmatnya seakan menandingi euforia Bulan Ramadan dan idulfitri. Setiap orang punya tim unggulan masing-masing dan setiap orang seakan tidak mau ketinggalan menjadi para analis pertandingan. Semua dipersiapkan untuk menyambutnya, mulai dari atribut berupa pakaian kebanggaan hingga fasilitas nonton serta embel-embel lainnya. Tidak ada yang salah selama dalam koridor kewajaran atau tidak melampaui batas.

Umat Islam juga tidak ketinggalan, apalagi peserta piala dunia 2018 yang berasal dari negara berpenduduk muslim juga besar. Tercatat ada 6 negara muslim yang akan meramaikan gelaran piala dunia 2018 seperti Maroko, Tunisia, Mesir, Senegal, Arab Saudi, dan Iran. Ditambah lagi fenomena Moh. Salah yang telah cukup menyita perhatian publik dunia sepak bola belakangan ini.

Sebagai umat Islam yang mengimani bahwa semuanya telah diatur dengan baik dalam ajaran Islam, ada rule yang harus kita perhatikan bersama. Di antara hal itu ialah apa yang bisa merusak akidah kita. Islam adalah agama yang sangat rasional, sangat masuk akal.

Ketika dunia Barat dan negara maju lainnya telah mengklaim bahwa mereka dengan perkembangannya adalah yang paling rasional ternyata tidak demikian dengan praktiknya. Mereka ternyata masih "terikat" dengan takhayul, khurafat, dan mitos-mitos yang ternyata begitu diperangi di dalam Islam.

Di antara fenomena itu menyertai piala dunia yang telah berlalu dan masih terus diadopsi hingga sekarang.

Ramalan

Di tengah klaim rasional dari mereka ternyata mereka begitu bertentangan dengan praktiknya. Kita mungkin masih ingat fenomena Paul si gurita peramal di piala dunia 2010, selain itu masih ada lagi hewan lain seperti babi, gajah, burung, anjing, dsb. Sesuatu yang tentunya di luar logika berpikir kita.

Islam ternyata mengatur itu dengan baik dan mengajak kita berpikir logis. Islam menganggap perbuatan itu sebagai salah satu dosa besar. Mendatangi diancam dengan salat selama 40 hari tidak diterima dan apabila sampai mempercayai bisa dianggap telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. (Lihat HR Muslim dan HR Ahmad) Bahkan, meskipun itu hanya sekedar iseng tetap tidak diperbolehkan.

Islam tidak melarang prediksi-prediksi berdasarkan hitung-hitungan dan statistik dari tim dan kondisi pemain karena itu ada hubungan sebab akibat yang logis. Adapun, meramal dengan bantuan manusia (baca: paratidaknormal) bahkan binatang atau berbagai tanda-tanda lainnnya, itu jelas bertentangan dengan prinsip ajaran Islam.

Saksikanlah, bagaimana Islam begitu logis dan mengajak kita untuk realistis!

Thiyaroh

Fenomena yang juga menyertai piala dunia dan olah raga sepak bola pada umumnya ialah menganggap sesuatu hal itu membawa sial atau sebaliknya, padahal tidak ada hubungan sebab akibat yang bisa menjelaskan itu. Hal itu disebut thiyaroh atau Thathoyyur di dalam Islam. Thiyaroh termasuk akidah jahiliyah yaang banyak dibahas di dalam Alquran dan Alhadits. Hukumnya sebagaimmana mendatangi (termasuk membaca dsb.) tukang ramal adalah kesyirikan yang dosanya sangat besar, bahkan bisa mengeluarkan seseorang dari Islam.

Jika Anda pernah memakai nomor punggung 13 agar bisa memberikan kesialan kepada lawan, maka Anda terjatuh kepada thiyaroh. Jika timnas Brasil kalah 7-1 dari Jerman pada piala dunia lalu karena dianggap warna baju Brasil bikin sial, maka itu thiyaroh. Anda menganggap bahwa nomor punggung 8 bisa membawa keberuntungan maka Anda juga termasuk terjatuh ke dalam thiyaroh.

Bagaimana kalau kita pernah melakukannya tetapi belum tahu hukumnya, maka semoga Allah mengampuni kekeliruanmu di masa lalu. Tentunya disertai kesungguhan untuk tidak mengulanginya lagi.

"Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan". Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas'ud berkata, "Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya. Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal." (HR Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3538. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Hadits ini dengan sangat jelas menunjukkan bahwa thiyaroh atau beranggapan sial termasuk bentuk syirik. Kesyirikan dalam masalah thiyaroh ini bisa dirinci menjadi dua:

Jika menganggap bahwa yang mendatangkan manfaat dan mudhorot adalah makhluk, ini syirik akbar.

Jika menganggap bahwa yang memberi manfaat atau mudhorot hanyalah Allah, namun makhluk hanyalah sebagai sebab, ini termasuk syirik ashgor.

Beranggapan baik atau berharap baik terhadap sebuah tim tidak termasuk dalam thiyaroh. Misalnya, saya menjagokan Belgia menjadi juara di piala dunia 2018 dan berharap tim tersebutlah yang akan keluar jadi pemenang. Itu tidak masalah, insyaallah. Asal saya tidak mengatakan bahwa Belgia akan juara karena faktor jersey mereka membawa keberuntungan.

Catatan: Tidak setiap anggapan jelek itu terlarang. Ada anggapan jelek yang masih dibolehkan selama ada sebab yang syar'i atau hissiy (inderawi). Seperti misalnya kita sudah mengetahui gerak-gerik si pencuri, dan kita berprasangka jelek padanya, maka ini ada bukti atau sebab, sehingga prasangka jelek ini tidak bermasalah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2