Aqil Aziz
Aqil Aziz Guru

Mencintai dunia literasi. | e-mail : gonzes7@gmail.com | blog : http://aqilkumariyah.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Mesin

13 Juni 2018   05:56 Diperbarui: 13 Juni 2018   06:04 449 5 3
Mesin
pixabay

Entah karena apa, tiba-tiba skrup itu terlempar dari posisinya. Kontan, mesin menjadi macet. Kerjaan berhenti. Salah satu petugas kantor menghubungi teknisi. Tapi sudah 1 jam tak kunjung datang. Semua karyawan senang. Mereka sekarang bisa istirahat. Ada yang leye-leye. Ada juga yang keluar mencari angin segar. Di pojok ruang kantor, terdengar percakapan telpon.

"Halloo.."

"Ya."

"Selamat pagi, Bos!"

"Selamat pagi, juga. Ya. Ada apa? Pagi-pagi ini sudah nelpon Ini baru jam 9."

"Kami mau laporan, Bos. Mesin yang barusan kita beli dari Italia kemarin, tiba-tiba macet mogok. Tidak bisa jalan. Untuk sementara kerjaan berhenti."

"Apa? Itu kan baru. Masak macet? Sudah dinyalakan ulang."

"Sudah bos. Beberapa petunjuk dasar di buku panduan, sudah kami lakukan, tapi hasilnya nihil."

"Hubungi teknisi!"

"Teknisinya belum datang. Eh belum ngantor. Sudah kami hubungi berkali-kali. Telponnya tidak diangkat."

"Kurang ajar. Kerja macam apa? Jam segini belum ngantor. Saya tidak mau rugi lagi. Cepat cari solusi! sudah berapa lama mesin mati?"

"1 jam, Bos."

"Saya tidak mau tahu. Yang jelas nanti 1 jam lagi saya tiba di kantor. Mesin harus sudah hidup. Kerja di perusahaan harus bener. Kalau ada masalah langsung menjemput bola. Jangan mencari enaknya saja. Kalau mesin mati, berhenti bekerja. Itu namanya mencari enaknya saja, kamu yang untung saya yang rugi. Kerja itu powerfull. Mencari hidup dan menghidupi perusahaan. Ngerti!"

"Ngerti, Bos,"

Ceklek. Suara telpon ditutup. Petugas kantor itu tambah bingung. Saat ini belum ada solusi. Ia berusaha menerjemahkan pesan Bos. Saat hendak menjemput petugas teknisi di rumahnya. Seorang satpam perusahaan masuk, melaporkan mesin sudah bisa hidup lagi. Meski merasa senang, Petugas Kantor itu penasaran, dan langsung menuju ke ruang mesin. Ia melihat-lihat dan memeriksa seluruh komponen mesin secara sekilas. Tidak ada yang janggal, semua berjalan normal. Suara mesin stabil. Kecepatan putarnya juga tidak berkurang. Setelah dianggap baik. Ia tersenyum senang.

Petugas itu melanjutkan kembali pekerjaannya di kantor. Hanya dia seorang diri yang masuk pada hari itu. Praktis ia saja yang kena semprot. Belum 10 menit, mengetik laporan di komputer. Satpam perusahaan masuk, melaporkan mesin mati lagi. Cepat-cepat ia menuju mesin.

Petugas kantor mencoba mencet-mencet, tombol yang mungkin bisa menghidupkan. Berulang kali, tetap saja tidak bisa. Di dekat mesin, ia duduk dan mula mengeluh.

"Brengsek! Rupanya saja yang baru. Tapi kerjanya payah. Mesin Goblok!"

Tiba-tiba ada suara muncul. "Apa kau bilang?"

Petugas kantor itu kaget. Ia menoleh mencari sumber suara. Ia lihat seluruh ruangan, tidak ada yang lain, kecuali dirinya sendiri. Ia tak percaya ada yang menjawab keluhannya. Ia hanya melihat mesin berukuran jumbo itu dalam ruangan khusus. Dari pada beranggapan itu hantu, ia lebih memilih itu adalah ilusi saja. Kemudian menikmati dan melanjutkan percakapan.

"Mesin bento. Anggapan saya ternyata salah, tidak semua yang datangnya dari luar negeri. Bisa OK dan moncer. Dipakai sebentar saja sudah KO. Lebih baik mesin lama, meski terlihat kusam, kerjanya jos, bisa diajak ngotot terus. Ternyata hal baru,  tak selalu lebih baik dari yang lama."

Seperti bercakap-cakap sendiri. Ia juga mendapatkan respon.

"Kamu yang goblok. Masak mesin, digoblok-goblokkan. Kamu mestinya terima kasih, bisa tenang, ambil istirahat. Daripada kerja terus-menerus tak berujung. Mentang-mentang mesin, digenjot terus. Memangnya mesin tidak butuh istirahat, mikir!"

Petugas kantor itu tersentak. Lalu membantah.

"Lho.. kamu bisa capek? Kamu kan mesin. Mestinya menurut saja, tak perlu protes. Tak perlu mogok. Jangan nyontoh manusia. Semakin kamu menjadi seperti manusia. Maka kamu akan kehilangan jati diri menjadi mesin."

"Saya tidak mencoba meniru seperti manusia. Saya hanya mengganti posisinya. Karena manusia bekerja seperti mesin, maka sudah sepantasnya saya bekerja seperti manusia. Sesekali mogok. Atau libur, gak apalah. Meski tidak harus mudik atau wisata dengan keluarga. Cukup dengan berhenti itu sudah baik. Kamu kira hanya manusia saja yang butuh istirahat. Saya juga butuh. Untuk menstabilkan kinerja. Mendinginkan proses. Dan menambah kualitas cetak lebih baik. Yang saya lihat bahkan manusia tidak bisa berhenti bekerja. Manusia itu butuh uang tidak butuh istirahat."

Karena geram dengan jawaban itu. Ia menendang mesin baru itu. 

"Aduh, kakiku ketekuk." Mesin itu terkekeh, seperti mengejek.

"Mending Bapak istirahat dulu. Anak dan istri menunggu di rumah. Berliburlah. Libur itu penting, untuk menyegarkan otot-otot dan me-refresh pikiran. Uang tak ada habisnya dicari. Dompetmu tidak akan penuh. Selalu kurang, kurang dan kurang."

"Tapi.? ini kan masuk kerja."

"Kamu bisa ambil cuti. Pulanglah dan mudik. Biarkan saya di sini tetap menjadi mesin. Dan kamu tetap menjadi manusia. Silaturrahim tak butuh uang, silaturrahim hanya butuh kehadiran dan perhatian. Jangan kerja seperti mesin.!"

Setelah mendengar penjelasan itu. Petugas itu tak menanggapi. Lalu pergi meninggalkan ruang mesin. Di sudut luar ruang mesin. Dua orang pekerja, saling bertatap, dan heran Petugas kantor itu bicara sendiri. Salah satu dari mereka kemudian berujar : "Sepertinya ia butuh istirahat."