Aqil Aziz
Aqil Aziz Wiraswasta

Mencintai dunia literasi. | e-mail : gonzes7@gmail.com | blog : http://aqilkumariyah.blogspot.co.id/

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Melawan Rumor

11 Juni 2018   06:19 Diperbarui: 12 Juni 2018   00:00 2504 8 4
Cerpen | Melawan Rumor
ilustrasi: ilukmana.blogspot.com

Sri adalah warga RT kami. Masih muda. Janda. Belum punya anak. Wajahnya bersih. Sebenarnya kalau dia mau berdandan sedikit saja, atau ada yang mau ngeramut, pasti kelihatan cantiknya. Ia hidup bersama ibunya, tak punya saudara. Senyumnya menggoda, kepada siapapun dia tersenyum, kepadaku juga demikian. Semua orang menyukainya. Tak terkecuali laki-laki. Mereka ingin dekat dengan Sri. Tapi tak seorangpun yang berani menikahinya.

 Sudah dua kali Sri menikah. Dua kali pula, suaminya meninggal. Kata orang-orang, jika ada yang berani menikahinya. Sama saja cari mati. Sehingga beredar rumor, menikahinya adalah jalan menuju kematian. Sialnya, semua laki-laki di daerah kami mempercainya. Sehingga sampai kini, Sri tetap masih sendiri.

"Sudah berapa lama kamu menjanda?"

"Dua tahun, kalau dari hitungan suami kedua, dan 3 tahun kalau dihitung dari sejak pernikahan pertama."

Saya membuka pertanyaan kepada Sri. Ketika ia duduk di bawah pohon jambu. Sekedar basa-basi, atau perkenalan, memang biasa dilakukan orang-orang. Mereka senang mengobrol kepada Sri, karena ia selalu membuka diri dan tersenyum. Senyum yang berarti menghargai semua orang, bukan senyum mencibir atau menghina.

"Kamu percaya dengan rumor itu?"

Sri tersenyum.

"Mas, percaya?" Ia balik bertanya.

"Aku!? Kalau aku tidak sama sekali."

"Kenapa tidak dicoba saja?"

Ia mulai menggoda, kemudian tertawa.

Saya pikir, yang seperti inilah, yang membuat setiap laki-laki betah berbincang dengannya. Haq.Haqul yakin. Kalau benar-benar lelaki jantan. Pasti ingin menikahinya. Lihatlah betapa manis senyumnya. Kecerahan wajahnya, sama sekali tidak ada yang percaya kalau ia sudah janda. Masih muda. Cantik. Kalau bukan karena iman yang masih melekat di dalam dada, atau kalau bukan karena ingat anak dan istri di rumah. 

Saya pun bisa terseret menghadapi Sri. Yang kian lama pembicaraanya semakin romantis. Ingat ketika zaman pacaran dulu. Rasa itu kini muncul kembali. Tapi sebagai lelaki yang masih ingin menikmati hidup ini. Rasa khawatir itu tetap ada. Tak ada seorangpun yang berani mendekat dengan kematian. Cukup sudah, dua suaminya itu, sebagai pelajaran bagi kami, semua para lelaki untuk tidak mengulanginya.

"Sebenarnya aku ingin membuktikan, bahwa itu hanya rumor saja. Desas-desus yang disebarkan tetangga akan saya tampik dengan bukti. Bahwa hal itu tidaklah benar. Tapi dengan siapa saya bisa membuktikannya?"

"Maksudmu untuk percobaan?" Aku terkekeh.

Tiba-tiba, mata Sri mulai berkaca-kaca. Seakan-akan menyeret ingatannya ke masa lalu. Ia mulai bercerita.

"Coba mas pikir. Bukankah kematian itu adalah takdir Tuhan. Tak ada seorang pun yang tahu, kapan malaikat maut menjemput. Kematian bukan disebabkan dengan siapa kita menikah. Banyak perjaka yang belum menikah juga mati. 

Sebabnya pun macam-macam. Bukan karena setelah menikahiku terus mati. Memang itu adalah Takdir. Takdir suamiku. Siapa yang tahu, kalau suamiku yang pertama, punya penyakit jantung, ketika setelah akad, malamnya, ia mendengar kabar kalau ibunya jatuh di kamar mandi. Ia langsung meninggal. Sedangkan suami yang kedua, ketika mengajar di dalam kelas tiba-tiba ia tak bisa gerak. Stroke itu, membawanya kepada kematian. Masak aku yang dijadikan sebagai..."

Putus. Sri tak bisa melanjutkan. Kemudian ia menangis.

Saya jadi tidak enak, membuat Sri menangis. Apa kata orang, nanti saya dikira menyakiti hatinya. Saya juga tidak berusaha mengorek masa lalunya. Tanpa ia berceritapun, kami semua sudah tahu. Kisah itu sudah menyebar ke mana-mana. Hampir semua warga desa mengetahuinya. Hanya lelaki yang tak percaya takhyul atau seandainya masih percaya, memang sudah bosan tak ingin hidup lagi, yang bisa menyelamatkan Sri untuk menepis rumor yang beredar itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2