Mohon tunggu...
Aprili Kurnia Fatmawati
Aprili Kurnia Fatmawati Mohon Tunggu... Mahasiswi

-

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Perasaan Suka dan Duka Minoritas

30 Maret 2021   13:44 Diperbarui: 30 Maret 2021   18:22 211 6 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perasaan Suka dan Duka Minoritas
potret-pendopo-jenggolo-di-halaman-tengah-pura-606309e0d541df396c0dd115.jpg

Siang di Hari Minggu itu begitu terik. Saya kembali mengunjungi tempat yang beberapa pekan lalu pernah saya kunjungi, yaitu pura penataran luhur medang kamulan di Desa Mondoluku Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik. Saya mengunjungi tempat ini dengan tujuan untuk mempelajari banyak hal baru lebih dari yang pernah saya pelajari beberapa pekan lalu. 

Ketika memasuki halaman tengah pura, tepatnya di area depan pendopo jenggolo, terlihat situasi pura yang agak ramai dipadati oleh pengunjung yang bersua foto dan juga penduduk desa yang tinggal di area pura. 

Saya disambut oleh seorang ibu yang terlihat sedang mengatur parkir pengunjung. Setelah mengutarakan tujuan saya yang ingin berbincang tentang minoritas dengan salah seorang pengurus pura, akhirnya saya diantarkan untuk menemui Bapak Purwadi di rumahnya yang terletak di dalam area pura.

Bapak Purwadi merupakan salah satu pengurus pura bagian seksi umum yang bukan penduduk asli Desa Mondoluku, beliau berasal dari Kabupaten Kediri tetapi sejak tahun 2014 memutuskan untuk pindah KTP (Kartu Tanda Penduduk) menjadi warga Desa Mondoluku dan menetap di desa ini. 

Keputusannya tersebut berawal dari informasi yang dibawa oleh Bapak Kadek Sumanila selaku jero sepuh pura, yaitu pada saat pura ini dibangun tepatnya pada tahun 2010, karena dulu yang membangun pura ini adalah Umat Hindu dari berbagai macam daerah, termasuk Kediri dan Blitar. 

Tujuan beliau menetap disini adalah ingin ngayah atau ngempon, menjadi pengurus atau pengempon pura ini karena Umat Hindu Desa Mondoluku yang sedikit dan tergolong minoritas, bahkan pada saat ini jumlah penduduk Desa Mondoluku yang beragama hindu adalah 14 kartu keluarga. Hal ini menandakan kebaktian beliau kepada agama Hindu yang merupakan agama turunan dari orang tuanya.

Sampai saat ini, mayoritas penduduk Desa Mondoluku adalah muslim. Tentunya membutuhkan proses yang panjang untuk dapat beradaptasi dan berbaur dengan kelompok mayoritas. Bapak Purwadi pun mengakui bahwa pada awal beradaptasi dengan penduduk desa sini sedikit sulit karena menyatukan prinsip yang berbeda dalam sudut pandang agama. 

Namun, karena konsep yang diterapkan adalah keleluhuran jadi siapapun orangnya dan apapun latar belakangnya leluhurnya sama yaitu leluhur tanah Jawa. Dan menurut beliau, perlakuan warga muslim Desa Mondoluku sangat baik serta mempunyai kelapangan hati dalam menerima perbedaan. 

Hal ini juga merupakan salah satu faktor penyebab dapat berbaurnya kelompok mayoritas dengan minoritas di desa ini. Tetapi yang terpenting adalah cara setiap pribadi untuk berbaur, bagaimana membawakan dirinya sehingga dapat diterima oleh kelompok mayoritas.

"Kami sangat leluasa dalam menjalankan kegiatan keagamaan di tengah-tengah mayoritas muslim. Intinya masyarakat sangat bisa menerima kami dan kami diberi keleluasaan dalam menjalankan berbagai kegiatan baik tradisi maupun keagamaan, tidak ada kegiatan keagamaan yang tidak kami laksanakan karena faktor perbedaan agama di desa ini," ujar Pak Purwadi.

Menurut Pak Purwadi, hampir tidak ada kesulitan bagi Umat Hindu pendatang yang menetap di area pura dalam beradaptasi dan berbaur dengan masyarakat sekitar. Mereka merupakan pendatang dari Bali, total ada tiga keluarga suku bali  yang tinggal di tengah-tengah masyarakat suku Jawa. Kemudahan dalam berbaur dan beradaptasi tersebut karena mereka menghormati dan mengikuti tradisi serta kebiasaan masyarakat sekitar. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x