Mohon tunggu...
Any Sukamto
Any Sukamto Mohon Tunggu... Belajar dan belajar

Ibu rumah tangga yang berharap keberkahan hidup dalam tiap embusan napas.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

PPDB Tetap Butuh Mekanisme Penyaringan Calon Siswa

27 Juni 2020   16:11 Diperbarui: 27 Juni 2020   16:05 57 21 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
PPDB Tetap Butuh Mekanisme Penyaringan Calon Siswa
Tangkapan layar PPDB.Surabaya.go.id


Mulai hari ini, 27 Juni 2020, Surabaya mulai melaksanakan PPDB Online untuk jenjang SMP Jalur Zonasi Umum. Seperti halnya tahun lalu, tahun ini pun terdapat beberapa jalur pendaftaran untuk jenjang SMP. 

Jalur Inklusi, Jalur Prestasi Lomba dan Rapor, Jalur Perpindahan Tugas Orang Tua, Jalur Mitra Warga dan yang sedang dilaksanakan kali ini adalah Jalur Zonasi Umum. Untuk tahun lalu masih terdapat satu jalur lagi tetapi sudah ditiadakan, yaitu jalur TPA (Test Potensi Akademik).

Dengan adanya sistem zonasi ini, sebenarnya yang lebih diuntungkan adalah siswa atau orang tua yang tinggalnya dekat sekolah, berapa pun nilainya pasti akan diterima selagi jarak rumah dan sekolah tidak lebih dari 500 meter.

Beda dengan siswa yang tinggalnya lebih dari 1000 meter, pasti akan tertolak berapa pun nilainya. Kecuali ada saringan lagi bagi siswa yang nilainya tinggi, akan diterima melalui seleksi nilai.

Pada PPDB SMP Surabaya tahun lalu saat mendaftarkan putri saya, rasanya serba khawatir dan galau banget. Bagaimana tidak, rumah saya jaraknya 1,2 Km dari salah satu sekolah negeri yang saya tuju, sedangkan pendaftar lain yang jarak rumahnya di bawah 1000 meter banyak sekali.

Sudah pasti tidak akan masuk kan, saingannya banyak. Dan benar saja, saat pengumuman yang diterima masuk jarak rumahnya paling jauh hanya 900 meter.

Untung saja saya sudah mengantisipasi sebelumnya dengan mendaftar di jalur TPA. Mengandalkan kemampuan berpikir anak dan potensi akademis yang ia punya.

Belajar dari sebelumnya saat saya mengamati yang terjadi pada PPDB Sidoarjo,  dari website yang ada jarak terjauh yang diterima adalah 900 meter. Sedangkan tes TPA tidak ada dan pertimbangan nilai rapor juga tidak ada, adanya jalur prestasi yang paling rendah prestasinya pernah meraih juara di tingkat kabupaten. Gagal sudah harapan sekolah di SMP negeri.

Emak pun gelisah, anaknya mau disekolahkan ke mana jika jarak rumah masih dianggap jauh, nyatanya jarak dari rumah saya ke sekolah tujuan 1,2 Km. Pasti akan gagal di sistem zonasi bukan?

Bersyukur saja, PPDB Surabaya menyediakan satu jalur yang menggunakan Tes Potensi Akademik sebagai penerimaan siswa. Siapa yang nilainya tinggi pasti diterima, bersaing melalui kemampuan berpikir.

Kesempatan ini tidak saya sia-siakan, saya daftarkan putri saya melalui jalur ini. "Kalau mau sekolah negeri ya belajarlah lagi sedikit buat tes TPA. Namun kalau sudah jenuh belajar, ya, terima nasib aja sekolah di swasta yang bayarnya mahal," bujuk saya.

Putri saya pun  menyanggupinya dan mau ikut tes TPA sebagai jalur masuk SMP negeri. Alhamdulillah berhasil, dia bisa diterima di sekolah yang jadi tujuannya.

Sebenarnya meski dengan tes TPA, tetapi pilihan sekolah pun masih dalam sistem zonasi, lho. Namun tidak semata-mata yang dekat sekolah yang diterima, meskipun nilainya jelek.

Ada kesempatan bagi calon siswa lain masuk suatu sekolah yang dituju melalui tes. Jika diterima ya syukur, artinya dia memang layak sekolah di situ, tetapi jika  gagal ya mau gimana lagi. Belum rejekinya sekolah di sana.

Namun untuk pelaksanaan PPDB Surabaya tahun ini, sudah tidak menggunakan tes TPA lagi dan sudah digabung dengan Jalur Prestasi Lomba dan Rapor. Itu pun masih dibagi dua lagi untuk Jalur Nilai Rapor Sekolah dan Jalur Prestasi Lomba.

Beda dengan tahun lalu yang harus ada demo emak-emak ke Dispendik Surabaya, agar anaknya bisa mengikuti seleksi masuk sekolah tujuan meskipun harus dengan tes, tahun ini suasananya lebih tenang. Selain adanya pandemi, mungkin juga karena sudah terakomodasi apa yang jadi keinginan masyarakat Surabaya.

Jadi

Tangkapan layar PPDB.Jakarta.go.id
Tangkapan layar PPDB.Jakarta.go.id
tidak ada yang merasa dirugikan atau lebih diuntungkan. Cukup adil dan transparan, semua jalur bisa dimanfaatkan agar siswa bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya melalui cara yang sewajarnya. Juga tidak ada persyaratan usia sebagai salah satu cara seleksi, lho.Kesimpulan saya, meskipun zonasi tetap akan diterapkan, harus ada mekanisme lain untuk menyaring siswa agar tidak terjadi kesenjangan. Jumlah sekolah negeri harus diperbanyak, dan fasilitas pun ditambah, sehingga tidak ada lagi istilah sekolah favorit atau sekolah pinggiran.

Dengan begitu semua anak usia sekolah dan berjarak berapa kilometer pun tertampung di sekolah negeri terdekat. Tak perlu lagi ada persyaratan usia sebagai cara seleksi. 

Sudah siapkah Mas Nadiem dengan masukan seperti ini? Menambah sekolah dan fasilitasnya untuk menampung generasi bangsa mendapatkan hak pendidikannya? 


Semoga bermanfaat.  

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x