Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto
Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto

Direktur Pemberitaan : Kluget.Com

Selanjutnya

Tutup

Sosial Budaya

Subandrio, Ali Moertopo, dan Karni Ilyas

22 Mei 2012   15:13 Diperbarui: 25 Juni 2015   04:58 21664 1 3
Subandrio, Ali Moertopo, dan Karni Ilyas
13376991311936129832

Negara adalah sebuah dramaturgi

Dalam drama ada yang namanya Front Stage, dan ada yang namanya Backstage. Bila ahli sosiologi Erving Goffenmengajukan sebuah teori sosial ‘interaksi simbolik’ dalam hubungan individu dengan masyarakat, saya rasa negara juga merupakan sebuah panggung teater, dimana ada peran tokoh utama, sutradara, penulis skenario dan pemain-pemain figuran serta penonton. Disini saya akan bicara tentang negara sebagai sebuah panggung teater dimana ‘Negara Menjadi Teatrikal’. – Semacam –teater gandrik, teater koma atau bengkel teater dimana peran utama dan penulis skenario saling tarik menarik. Penulis skenario dalam sebuah negara adalah ‘Produsen opini’. Yang melakukan stir kemana opini bergerak.

Saya akan fokus pada tiga jaman : Jaman Demokrasi Terpimpin, Jaman Orde Baru dan Jaman SBY- Ketiga jaman ini merupakan sebuah jaman yang paling diwarnai kepemimpinan paling stabil, kuat tapi punya ciri khas dalam melakukan produk-produk opini ke tengah masyarakat.

Subandrio, Produsen Opini Orde Lama

Pada awalnya Subandrio, -lebih akrab dipanggil Bandrio- adalah seorang pengikut Sjahrir, ia bagian tidak penting dalam tubuh PSI. Setelah perjanjian KMB dirobek-robek parlemen tahun 1956 dan Bung Karno mengajukan konsep perebutan kembali Irian Barat dengan senjata. Bandrio di tahun 1946 dikirim Sjahrir ke London untuk membuka ‘kantor penghubung’ RI tak resmi, saat itu London belum mengakui kemerdekaan Indonesia, namun London memiliki hubungan baik dengan Jakarta lewat pertemuan jaringan Van Der Post dengan Sjahrir. –Hubungan baik itulah yang kemudian dimanfaatkan Sjahrir membangun kontak-kontak diplomatik dengan negara Eropa Barat non Belanda dimana Sjahrir berharap ada dukungan untuk kemerdekaan Republik.

[caption id="attachment_183067" align="aligncenter" width="376" caption="Subandrio, Menlu RI dan Waperdam di Masa Sukarno 1962-1965 (Sumber Photo : Wikipedia)"][/caption]

Antara tahun 1946-1950, Subandrio kenal semua tokoh kunci politik Ratu Elizabeth II, dia secara rutin mencatat newsletter politik dan memperhatikan perkembangan sejarah demokrasi dan diplomasi di barat, dia juga mulai membangun kontak-kontak diplomatik dengan negara-negara satelit Sovjet Uni. Pada tahun 1954 Subandrio ditugaskan oleh Sukarno sebagai duta besar untuk Sovjet Uni, disinilah kontak jaringan melejit ia kenal dengan semua pemain kunci geopolitik dunia mulai dari Kruschev sampai orang-orangnya Ike Eisenhower. Spektrum jaringan Subandrio meluas. Data-data Subandrio awalnya diberikan oleh orang PSI yang menjadi basis politik Subandrio kepada Sukarno. Dan Sukarno memerlukan proyek besarnya untuk merebut Irian Barat dengan kekuatan senjata.

Pada tahun 1956, Maruto Nitimihardjo tokoh Partai Murba berdiri di Parlemen menolak diteruskannya pembayaran hutang Pemerintahan RI. Usulan ini kemudian disambut Partai-partai lain dan menjadikan realitas politik, Hatta merasa malu atas dirobeknya Perjanjian KMB 1949, ini sama saja mengundang kekuatan fasisme seperti saatnya Hitler merobek-robek perjanjian Versailles 1918. – Perebutan Irian Barat secara militer akan membangkitkan kekuatan militer yang amat dahsyat-. Perkiraan Hatta benar, setelah ia mundur karena merasa bertanggung jawab terhadap perjanjian KMB 1949, ia kemudian menyaksikan Sukarno membangun kekuatan raksasa militer.

Sukarno sadar, tak mungkin menghancurkan kekuatan barat dengan militer, pertempuran dengan imperialis harus dihadapkan pada gabungan diplomasi dan militer. Ada dua nama yang diajukan kepada Bung Karno : Subandrio dari PSI dan Adam Malik dari Murba, Bung Karno memilih Subandrio.

Pada tahun 1956 Bandrio, dekat dengan Bung Karno. Bandrio diangkat oleh Bung Karno sebagai Sekjen Menteri Luar Negeri-. Lalu kemudian diangkat menjadi Menteri Luar Negeri Bung Karno. Dekatnya Bandrio dengan Bung Karno, sudah diingatkan oleh Mochtar Lubis sahabat Bandrio, “Hati-hati kamu dekat dengan Sukarno, bisa disetir Sukarno kamu” kata Mochtar Lubis, tapi Bandrio menjawab ringan “Saya yang akan nyetir Sukarno, bukan saya yang disetir Sukarno”.

Di masa-masa inilah Bandrio mampu mengelola diplomasi-diplomasi menjadi semacam ‘ancaman potensial’ bagi kekuatan imperialis barat. Reputasi terbesar Subandrio adalah merebut Irian Barat dengan ‘diplomasi’ walaupun hal ini kemudian dibantah oleh kelompok Murba sebagai bagian dari ‘manipulasi Bandrio’, kelompok Murba masih menganggap Irian Barat direbut dengan kekuatan militer, dan kemampuan Bung Karno menggertak Belanda. Tapi kritikan itu tak membuat Bandrio mundur, ia maju terus dan kemudian Bandrio menjadi sangat dekat dengan PKI, sebuah partai yang menjadi lawan politik terberat PSI, partai dimana ia berasal.

Puncak karir dari Subandrio adalah ketika ia menjabat menjadi Ketua Badan Pusat Intelijen tahun 1959. Sebelum BPI berdiri, Intelijen berdiri di masing-masing tubuh angkatan bersenjata, seperti laut, udara dan darat yang memiliki badan intelijennya sendiri. Penyatuan Badan Intelijen ini awalnya ke BKI, Badan Koordinator Intelijen dibawah Kolonel Laut Pirngadi, ke BPI dibawah Dr. Subandrio. Di masa BPI inilah Subandrio membangun perang data dimana CIA, KGB, MI-6 dan ASIS semuanya bermain di Jakarta.

Pada tahun 1959-1965, pusat teater Indonesia adalah gabungan antara : ‘Perang Intelijen, Pertunjukan Kekuatan Militer dan Daya Kharismatik Sukarno. Tiga gabungan ini membentuk ruang teater besar di tahun 1960-an.

Sukarno membentuk produk opini dan memilih menjadi pemain utamannya, ia sendiri berada di front stage sementara di backstage masing-masing kelompok dibiarkan berkelahi, tapi Sukarno juga terus memegang jago-jagonya, memegang masing-masing kekuatan negeri ini untuk kemudian mengarahkan kepada tujuan nasionalnya. Pada perebutan Irian Barat peran produk opini Bandrio yang berupa bahasa-bahasa Nekolim, Sukarelawan Irian Barat lalu dilanjutkan pada produk opini : ‘Konfrontasi Malaysia’ menjadi produk paling sukses, sampai pada kegagalan Sukarno dalam soal tarik-tarikan politik Gestapu 65, dimana Bandrio dilumpuhkan oleh kekuatan media Suharto yang sudah diakuisisi pada hari-hari pertama setelah enam Jenderal dihabisi.

Tujuan Nasional terbesar Sukarno adalah menyatukan Nusantara lewat NKRI, dari Sabang sampai Merauke, itu tugas terbesar Sukarno sebagai bagian kelanjutan Proklamasi 1945, -ruang besar NKRI adalah penyelesaian dari amanat yang merasa dia harus pegang ‘Pembebasan Nasional dari Unsur-Unsur Imperialisme’.

Sukarno terus memproduksi jargon, sementara Subandrio memainkan teaternya, ia menempatkan orang-orang, memproduksi pidato-pidato sampai data-data arus pergerakan politik yang kadang simpang siur sampai dengan pada ‘isu kudeta Sukarno yang akan dilakukan oleh Dewan Djenderal’ data-data ini menjadi mentah di tangan Angkatan Darat sehingga AD sehingga menjadi lengah dan kecolongan enam Jenderalnya.

Di masa setelah Gestapu 1965, Bandrio sendiri masih membangun produk opini : “Barisan Sukarno” adalah produk opini terakhir Bandrio yang berakhir pada kekerasan politik.

Ali Moertopo dan Harmoko, Mesin Opini Suharto

Ali Moertopo adalah ‘orang Suharto’ pada masa Diponegoro, sejak Letkol sudah ikut Suharto, ia merupakan bagian dari salah satu anggota 12 Asisten Pribadi, Presiden. Aspri, Ali juga kemudian amat dekat secara pribadi Suharto, ia termasuk Jenderal di lingkaran dalam Suharto bersama dengan Sudjono Hoemardhani dan Yoga Sugama.

[caption id="attachment_183069" align="aligncenter" width="300" caption="Ali Moertopo, Perwira Intelijen dan Menteri Penerangan 1978-1983 (Sumber Photo : Medialines.com)"]

1337699200104584710
1337699200104584710
[/caption]

Panggung teater terbesar Ali adalah Malari 1974, sebenarnya Ali sudah memainkan teaternya sejak Politik pasca Gestapu 1965, namun belum begitu dominan, warna paling spektakuler Ali dalam politik teater backstage adalah membangun hubungan diam-diam dengan Malaysia saat masa konfrontasi militer belum diakhiri dengan Benny Moerdani sebagai aktor daripada Ali.

Ali juga membina kelompok Islam radikal, ia juga mengarahkan beberapa kekuatan lapangan serta mengklaim membina banyak kelompok, termasuk menggolkan BM Diah sebagai ketua Persatuan Wartawan Indonesia dengan menyingkirkan Rosihan Anwar, produk opini Ali sama dengan produk opini Bandrio, memainkan isu, melakukan conditioning kemudian memasukkan sasaran ke dalam jebakan-jebakan politik Ali kemudian Suharto sebagai pemain backstage paling penting yang memutuskan semua keputusan politiknya.

[caption id="attachment_183071" align="aligncenter" width="298" caption="Harmoko, Panggung Bayangan Kepatuhan Negara dan Rakyat Pada Suharto (Sumber Photo : Sejarah Orde Baru 1967-1998) "]

1337699307149857764
1337699307149857764
[/caption]

Setelah Suharto dengan cerdik memainkan panggung rivalitas antara Ali dengan Jenderal Sumitro dan merupakan episode terakhir primus inter pares dari ‘mengungguli seluruh Jenderal Unggulan’ maka Suharto masuk ke panggung sendirian, sebagai produsen opini, aktor utama sekaligus sutradara.

Ketika Suharto menjadi aktor utama, maka aktor pembantu yang membayangi kekuatan Pak Harto sebagai bagian proxy power-nya adalah Harmoko, seorang wartawan muda, tidak berbakat, kartunis, tapi juga kurang kritis daya pikirnya menjadi seorang penganut setia ‘apa kata bapak Presiden’. Panggung teater Harmoko adalah panggung ‘teater kepatuhan’ bukan sebagai panggung benang merah Bandrio-Ali, sebagai panggung teater ‘kecerdasan, kelicikan serta kekejaman’.

Karni Ilyas, Panggung Teater Terbuka Demokrasi Kardus

Demokrasi di Indonesia tidak berkembang sebagai Demokrasi Parlementer seperti di Eropa Barat, juga bukan sebagai Demokrasi Liberal seperti yang berlangsung di Amerika Serikat, di Indonesia berkembang Demokrasi Kardus berdasarkan politik traksaksional. Dalam panggung demokrasi kardus ini, ideologi, idealisme dan pandangan fanatik tak lagi penting, yang penting adalah kekuatan transaksional.

Ketika demokrasi mengarah pada ‘pengembangan sistem yang rapuh dan berdasarkan uang’ Politik Bahasa seperti jargon-jargon, Politik Kepatuhan seperti Kekuatan Militer tak berarti lagi, yang ada adalah ‘Politik Tontonan’. Tontonan menjadi kekuatan daya tawar penting dalam transaksi politik.

Disinilah arti penting Karni Ilyas bermain, ia bisa menjadikan sebuah politik yang semrawut menjadi politik tontonan yang mengasikkan, acaranya Indonesian Lawyer Club jadi tontonan nomor satu di Indonesia dengan rating tinggi, jadi pembahasan dimana-mana dan mampu mempertemukan kelompok yang bertikai kemudian dari acara ini sering lahir transaksi-transaksi politik baru.

[caption id="attachment_183073" align="aligncenter" width="320" caption="Karni Ilyas, Panggung Opini Terbesar Sepanjang Orde Reformasi (Sumber Photo : TV One)"]

13376995021103638201
13376995021103638201
[/caption]

Opini yang dibangun Karni Ilyas adalah opini yang kemudian berkembang menjadi instrumen dalam makelar politik, sebuah produk tontonan dimana memperlembut kekerasan hukum menjadi tertawaan publik, hukum tidak lagi diterapkan secara kejam kepada yang bersalah, tapi menjadi sebuah panggung hiburan terbuka. Walaupun harus diakui panggung yang dibuka Karni Ilyas juga memiliki fungsi penyadaran –ada apa yang sesungguhnya terjadi dalam peta kesemrawutan transaksi-transaksi politik dalam skim negara demokrasi kardus saat ini.

Pada dasarnya Negara bisa menjadi apa saja, tergantung perkembangan sejarah masyarakatnya, tapi negara akan menjadi ideal bila perkembangan masyarakatnya itu sehat, terbuka, fair dan mengedepankan hukum yang jelas. Karena dengan hukum yang jelas dan bukan merupakan mitologi dari penguasa, maka adegan demi adegan dalam teater negara tidak lagi menjadi adegan yang penuh tebakan, tapi adegan yang rasional.

-Anton DH Nugrahanto-.

Bahan Bacaan :

-A Preliminary Analysis of the October 1, 1965 Coup in Indonesia, Ben Anderson

-Sukarno and the Indonesian Coup: The Untold Story

-Suharto and His Generals: Indonesian Military Politics, 1975-1983, David Jenkins

-The Army and Politics in Indonesia, Harold Crouch

-Subandrio, Kesaksianku Tentang G 30 S

-Negara Orde Baru, Daniel Dhakidae