Mohon tunggu...
Anton 99
Anton 99 Mohon Tunggu... Dosen - Lecturer at the University of Garut

Express yourself, practice writing at will and be creative for the benefit of anyone

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Bercermin pada Diri Sendiri

10 Maret 2021   16:18 Diperbarui: 10 Maret 2021   16:36 946
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Gambar: www.pexels.com

Sosok pemimpin yang baik akan senantiasa bercermin pada diri sendiri, hal ini dilakukan dalam upaya untuk membangun suatu karakter kepemimpinan yang baik, mumpuni, dapat mengikuti perkembangan zaman dan dikagumi oleh bawahannya.

Jika kita ingin menjadi seorang pemimpin yang baik, bayangkanlah selalu bahwa diri anda dikelilingi oleh cermin-cermin dari berbagai bentuk dan jenisnya. Sebagian dari cermin itu selalu ada yang bias sehingga tidak memantulkan bayangan seperti seharusnya, tapi yang akurat juga tidak kurang banyaknya sehingga kesempatan anda untuk mengetahui diri sendiri yang sebenarnya akan selalu terbuka lebar. Perumpamaan ini sebagai analogi dari kenyataan yang dihadapi oleh seorang pemimpin masa kini. 

Sekonsisten apapun seorang pemimpin, pandangan orang terhadapnya tetap akan berbeda-beda dan bermacam-macam, sedapat mungkin harus mampu meluruskan pandangan-pandangan yang "miring" itu. Akan tetapi tidak perlu terlalu khawatir dan bersikap defensif terhadap adanya pandangan-pandangan yang "keliru" yang mungkin tidak sempat dikoreksinya itu.

Ada lima macam sosok atau figur yang melekat pada diri seseorang pemimpin, kelima sosok itu menjelma lewat pertanyaan-pertanyaan dibawah ini :

Siapa dirinya? 

Siapa ia menurut pendapatnya sendiri?

Siapa menurut para bawahannya?

Siapa menurut rekan rekannya?

dan Siapa ia menurut atasannya?

Jawaban dari kelima pertanyaan itu acapkali konsisten saling berkaitan erat, namun tidak jarang satu sama lain saling bertentangan. Misalkan: anda merasa bahwa diri anda itu tampan, sexy, menarik, dan kharismatik; sementara itu para bawahan anda merasa bahwa anda itu diktator, konyol, dan menyebalkan; sedangkan atasan berpendapat bahwa anda adalah figur yang terlalu banyak lagak, tapi tidak terlalu pintar! 

perbedaan pendapat itu memang wajar saja terjadi dan selalu ada disekitar kita. Biasanya seseorang menilai karakter orang lain berdasarkan pengamatan yang sekilas, jika kedapatan saat mabuk maka orang akan mengira sebagai pemabuk, jika saat rapat seringkali nampak jemu dan terlihat mengantuk maka akan dianggap pemalas, jika pernah memecat maka akan dianggap pemimpin yang tega melakukan pemecatan.

Seorang pemimpin yang sudah matang akan sangat memahami "kesenjangan persepsi" seperti itu. Maka akan terus berusaha keras untuk selalu introspektif dan mencari umpan balik serta melakukan langkah-langkah koreksi, jika memang sangat diperlukan.

Manfaat terbesar jika seorang pemimpin selalu introspektif adalah akan senantiasa terpacu untuk meningkatkan kinerja eksekutifnya. Pemimpin yang tahu persis siapa dirinya dan yang mengenal kelebihannya untuk ditonjolkannya serta segenap kelemahannya untuk di kompensasikan, maka ia akan lebih mampu menjalankan fungsi dan peranannya sebagai seorang pemimpin. 

Pemimpin yang introspektif akan lebih bisa menghindari kesalahan serta menampilkan sosok elegant yang penuh percaya diri sehingga mudah memperoleh rasa hormat dan dukungan dari segenap bawahannya.

salah satu bagian pokok dari rangkaian upaya dalam mengevaluasi diri sendiri adalah mendengarkan apa-apa yang anda katakan sendiri dan bagaimana cara menyampaikannya. Maka dari sini  anda bisa menilai apakah ucapan, pesan-pesan dan perintah anda cukup dimengerti atau tidak. 

Hindarilah kata-kata dan gaya bahasa yang sulit dipahami oleh lawan bicara atau bawahan, ungkapan-ungkapan yang biasa diucapkan dalam organisasi kecil belum tentu sesuai untuk sebuah lingkungan organisasi atau perusahaan besar.

Seorang eksekutif harus bersikap introspektif (selalu melakukan introspeksi) agar tidak mengarah atau berkembang menjadi pribadi yang kaku, tidak peka, cenderung sewenang-wenang, dan berbagai karakteristik negatif lainnya yang menyulitkan diri sendiri untuk tampil sebagai seorang pemimpin yang benar-benar efektif dan baik.

Dengan mengetahui sepenuhnya siapa sebenarnya diri anda, apa saja tujuan-tujuannya, cita-cita, impian, aspirasi, segenap kekuatan psikologis, spiritual dan religiusitas dan mengenal kelemahan anda sendiri, maka akan berpeluang besar untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan anda sebagai seorang pemimpin yang hebat.

Sesuatu yang sehat dan bermanfaat jika selalu bertanya kepada diri sendiri: nilai-nilai apa saja yang benar-benar layak dan perlu saya anut?, apa prasangka-prasangka yang paling menghantui pikiran saya? apakah saya sudah berusaha semaksimal mungkin dalam melaksanakan yang saya rencanakan?

Selain itu sebenarnya masih banyak lagi aspek-aspek lainnya dari evaluasi diri dan introspeksi dalam menentukan penilaian tentang sejauh mana efektivitas anda jika sebagai seorang pemimpin baik pada perusahaan, organisasi maupun lingkup kenegaraan.

Sebuah keniscayaan apabila seorang pemimpin akan selalu melakukan introspeksi diri, memperbaiki kelemahan dan kekurangannya serta terus menerus meningkatkan performa serta kualitas kepemimpinannya untuk tujuan keberhasilan dirinya dan organisasi atau perusahaan yang dipimpinnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun