Mohon tunggu...
Siska Dewi
Siska Dewi Mohon Tunggu... Administrasi - Count your blessings and be grateful

Previously freelance writer https://ajournalofblessings.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Sosok yang "Menghidupkan Kembali" Ayahku

26 Oktober 2020   05:00 Diperbarui: 26 Oktober 2020   05:06 798
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi kakek dan cucu perempuan (People photo created by tirachardz - www.freepik.com)

Peran seorang ayah sangat penting dalam tumbuh kembang anak perempuannya. Jika demikian, apa yang akan terjadi pada seorang anak perempuan yang ayahnya direnggut paksa dari sisinya sejak ia berusia tiga minggu?

Ini bukan kisah sedih anak perempuan yang tumbuh tanpa kasih sayang ayah dan meratapi nasib malangnya. Sebaliknya, ini ungkapan syukur seorang anak perempuan atas anugerah Tuhan yang memberinya sosok "ayah" untuk menjadi teladannya.

Sosok "ayah" saya bernama "kakek"

Meskipun saya tidak pernah mengenal ayah kandung, namun saya memiliki sosok "ayah" yang melimpahi masa kecil saya dengan kasih sayang. Beliau adalah kakek saya.

Ayah saya adalah anak sulung dan satu-satunya laki-laki. Ayah mempunyai sembilan orang adik perempuan. Waktu kecil, saya sering berpikir, dari mana kakek mendapatkan persediaan kasih sayang yang begitu banyak untuk dibagikan kepada dua belas orang perempuan di rumah kami.

Ya, setelah ayah direnggut paksa dari keluarga, kakek adalah satu-satunya lelaki di rumah. Kakek adalah satu-satunya pencari nafkah, untuk dua belas orang perempuan yang dicintainya: nenek, sembilan orang tante, ibu, dan saya.

Saya mengenang kakek sebagai seorang yang pendiam. Bagi saya, beliau adalah seorang yang panjang sabar dan memiliki hati yang sangat besar.

Kami tinggal di sebuah rumah yang sederhana, di kota kecil Bagansiapi-api. Kakek bekerja sebagai tenaga pembukuan di sebuah perusahaan dagang. Beliau biasa pulang dan pergi ke kantor naik sepeda.

Kakek tak pernah mengajar saya mendendam

Menurut cerita yang saya dengar, ayah dikhianati oleh seseorang yang dianggapnya "sahabat". Namun, kakek tak pernah mengajar saya mendendam. Beliau bahkan tak pernah bercerita tentang peristiwa pengkhianatan itu kepada saya.

Cerita tentang ayah, yang saya dengar dari kakek, melulu sisi positifnya. Kakek pernah bercerita bahwa ayah adalah seorang guru yang sangat disenangi oleh murid-muridnya. Selain mengajar, ayah juga bekerja sambilan sebagai tenaga pembukuan. Kata kakek, ayah juga pandai mengarang.

Kakek juga sering bercerita tentang sahabat-sahabat ayah yang tetap menjaga hubungan baik dengan keluarga kami. Ada sahabat ayah yang menganggap saya sebagai keluarga dan masih bersilaturahmi hingga saat ini. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun