Mohon tunggu...
Ankiq Taofiqurohman
Ankiq Taofiqurohman Mohon Tunggu... Pengajar

Orang gunung penyuka laut dan penganut teori konspirasi. Mencoba menulis untuk terapi kegamangan.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Disiplin pada Anak Bukan Berarti Melanggar HAM

12 April 2019   15:19 Diperbarui: 12 April 2019   15:20 68 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Disiplin pada Anak Bukan Berarti Melanggar HAM
https://mandira.id/news/detail/6-tips-melatih-anak-agar-disiplin-boneka-bercerita-juga-ternyata_254

Minggu-minggu ini jagat media, baik massa maupun sosial diramaikan dengan pemberitaan mengenai Audrey, seorang anak perempuan dari Pontianak yang terkena perundungan oleh sekelompok anak-anak perempuan yang lebih tua. Semua memberikan dukungan pada Audrey, bahkan hingga artis Karina Kapoor dari India pun menulis statemen dukungannya bagi Audrey. Kecaman, hujatan hingga cacian digelontorkan pada para pelaku yang umurnya masih dibawah juga. 

Sang korban tentu mengalami luka lahir yang dapat disembuhkan, tetapi kesembuhan luka batin membutuhkan waktu dan penanganan yang lama. Para pecundang yang berlaku rundung terhadap Audrey pun telah ditangkap oleh kepolisian, namun alih-alih menyesal mereka malah menampakan sifat tidak bersalah dengan melakukan selfie di kantor polisi. Hal ini semakin membuat massa menjadi geram dan bertanya, mengapa mereka berlaku seperti dalam film G30S/PKI yang bergembira setelah menganiaya tujuh pahlawan revolusi.

Lalu muncul pula kekhawatiran masyarakat pada hukuman ringan yang akan diberikan pada para aktor penganiaya Audrey, sebagaimana kasus-kasus bully atau kejahatan yang dilakukan anak di bawah umur. Kemudian ada wacana untuk mengembalikan para pelaku kepada orang tuanya. Jika itu sampai dilakukan, maka sungguh sangat ironi, bukankah orang tuanya saja tidak  peduli pada pergaulan dan lingkungan anaknya, terus dengan enaknya dikembalikan lagi pada orang tuanya. Bagaimana perasaan orang tua Audrey jika mengetahui hal itu.

Melihat dari umur-umur pelaku penganiayaan, maka mereka dikategorikan anak dibawah umur. Hal ini membuat para penggiat HAM berlomba-lomba memberi pembelaan dengan dalih mereka dibawah umur dan juga sebagai bagian dari "korban" keadaan. Menyikapi kriteria dibawah umur yang menggunakan batasan usia 18 tahun, sebenarnya adalah sebuah ambiguitas. Pandangan orang awam akan berpendapat pada realita sederhana, umur hanyalah angka, jika prilakunya sudah menunjukan kriminalitas dewasa seharusnya anak itu dikenakan pidana dewasa. Sudah terlalu banyak berita yang dapat dijadikan contoh bagaimana prilaku usia dibawah 18 tahun namun melakukan tindakan kriminalnya tidak termasuk kategori kenakalan remaja.

Jika para penganiaya itu adalah "korban" keadaan, lalu siapa "pelakunya". Biasanya jawabannya akan diberikan pada sesuatu yang ambigu juga, yaitu lingkungan. Dan sebagian narasi, yang disebut lingkungan bagi anak-anak itu ada dua, rumah dan sekolah. Karena rumah dan sekolah lah wadah pembentuk karakter anak, maka orang tua dan guru adalah media pembentuknya, sedangkan kedisiplinan merupakan cara membentuk karakter tersebut. Karakter bagaikan keris. Keris yang ampuh, dihasilkan dari seorang empu yang sakti dengan tempaan dari besi keras dan api yang panas. Begitupun juga karakter seorang anak, tanpa kedisiplinan yang keras (bukan kasar) di rumah ataupun di sekolah, apalagi jika pendidikan karakter tersebut dipercayakan kepada para pengasuh atau pembantu saja niscaya tidak akan muncul karakter manusia yang bermoral.

Namun sebagaimana berita dan cerita dari hari kehari melihat para prilaku anak sekarang yang dengan gagah berani membangkang orang tua atau melawan guru, tentu ada sebuah sebab musabab yang bisa dituduhkan. Salah satu musabab itu adalah hilangnya penegakkan disiplin di rumah dan terutama di sekolah. Bagaimana tidak hilang, saat seorang guru akan menegakkan disiplin, maka payung hukum seolah menghalanginya. Tidak hanya payung hukum, sikap orang tua yang bodoh dengan membela anaknya disaat salah, semakin mengenyahkan niatan para guru untuk memberikan karakter kedisiplinan. Keengganan menegakkan disiplin dilingkungan luar rumah memberikan efek bola salju, dan akhirnya merembet pada semua unsur disemua lingkungan sosial masyarakat Indonesia, terutama dijalan raya.

Ada sebuah cerita bagaimana generasi dulu sangat mengerti akan arti disiplin. Di kota Bandung, ada SMA 3 yang merupakan SMA favorit dengan mayoritas alumni diterima di perguruan-perguruan tinggi favorit pula. Pada medio tahun 60an, SMA tersebut diketuai oleh seorang kepala sekolah bermarga Ambon yang sangat disiplin terhadap para muridnya. Bentakan dan kadang tangan pun ikut bermain jika para murid dirasa tidak disiplin dan nakal. Hingga suatu saat sepeda sang kepala sekolah hilang. Apa yang dilakukan oleh para muridnya sungguh memperlihatkan kemuliaan seorang anak. Mereka satu sekolah patungan untuk membelikan sepeda baru bagi kepala sekolahnya, yang tentu tidak murah ditahun tersebut. Kisah yang bisa diteladani adalah bagaimana generasi pada saat itu dengan umur yang sama dengan generasi saat ini, faham betul bahwa penegakkan disiplin adalah untuk bekal mereka kelak. Mereka bukan generasi pecundang yang menyimpan dendam, apalagi pada yang lebih tua. 

Menegakkan disiplin bukan berarti mengesahkan kekerasan. Walau jalan kekerasan merupakan cara paling efektif untuk memberi efek jera pada para pelaku kenakalan. Penegakkan disiplin bisa dimulai dengan kasih sayang dan perhatian orang tua sewajarnya. Memberikan bekal agama serta menunjukan prilaku dan contoh kedisiplinan dari orang tua adalah hal dasar agar anak memiliki karakter yang berempati. Mengajarkan pendidik yang mengutamakan HAM adalah benar adanya, namun mengedepankan HAM dengan menutup mata sangatlah salah.

VIDEO PILIHAN