Mohon tunggu...
anita russian
anita russian Mohon Tunggu... Makhluk

Cari duit, secukupnya. Berbagi, jangan lupa.

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Pilihan

Coro Bikang Mbah Karim, Maknyus!

9 Maret 2021   21:23 Diperbarui: 9 Maret 2021   21:44 124 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Coro Bikang Mbah Karim, Maknyus!
Foto: Dokumentasi Pribadi

Waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi. Hari yang cerah lantas tak ingin aku lewatkan. Hal pertama yang aku gemari ketika berkunjung ke suatu daerah adalah melihat suasana pemukiman warga, mencicipi jajanan pinggir jalan, dan berbincang dengan penduduk lokal. 

Pagi itu, suasana di sepanjang jalan Malioboro masih terlihat sepi. Hanya ada beberapa pedagang yang siap siaga menjamu para pembeli. Diantaranya adalah penjual nasi uduk, nasi gudek, sayuran, dan coro bikang.

Pilihanku jatuh pada seorang nenek yang sedang asik membolak-balikan corok bikang yang aku kira kue serabi. Ini pertama kalinya aku memakan salah satu kue khas Jogja

Perawakan nenek yang tua tak mematahkan semangatnya untuk tetap bekerja. Kuperhatikan tangan dan jemarinya memegang wojo titaan (tatakan). Begitu pun saat Ia menuangkan adonan ke tiap lobang dengan lihai.

Setelah asyik mengobrol, aku lupa menanyakan namanya. Berulang kali aku mengulang penyebutan namanya yang benar "Apa Mbah? Kalim? Karim? Ka-rim? Rrr yo mbah!". 

Selain pelafalan mbahnya yang kurang jelas, pendengaranku juga kurang tajam. Jadi tak minta ulang hingga kami berdua tertawa mengulang bak anak balita.

Sambil mengunyah enaknya coro bikang buatan Mbah Karim, aku terenyuh mendengar perjuangan Mbah Karim. Ia menyiapkan berbagai keperluan dari malam hari kemudian membuat adonan pada waktu subuh sejak pukul 04.00 WIB. 

Di saat manusia umumnya sedang larut dalam mimpi, Mbah Karim terjaga menyiapkan segalanya. Saat itu, aku menjadi pembeli pertama. Karena masih pagi, pembeli pun masih belum ada yang datang. 

Kami pun berbincang dengan leluasa. "mbah, punten anak-anak ada yang bantu ndak?".  Beberapa anaknya yang telah menikah sudah pindah rumah namun ada satu yang membantu membawa perlengkapan ketika Mbah Karim bersiap untuk berjualan. Kujawab "alhamdulillah masih ada anak Mbah yang bantu".

Foto: Dokumentasi Pribadi
Foto: Dokumentasi Pribadi
Setengah jam setelah berbicang, satu persatu langganan mbah karim berdatangan. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Mbah Karim pun cekatan menuangkan adonan karena hampir selalu ada yang borong. Aku pun asyik memperhatikannya.

Walau telah berusia 74 tahun, Mbah Karim tetap konsisten membuat coro bikang yang sudah dilakukan sejak 20 tahun lalu. Dari kehidupan Mbah Karim, saya belajar tentang kehidupan, rasa syukur, dan semangat berjuang. Semoga mbah karim tetap dalam perlindungan, kesehatan, dan berkah.

VIDEO PILIHAN