anita putri
anita putri

seorang yang sangat menyukai musik

Selanjutnya

Tutup

Muda

Membuka Ruang Toleransi dalam Pilkada 2018

12 Januari 2018   05:58 Diperbarui: 12 Januari 2018   06:03 553 3 1
Membuka Ruang Toleransi dalam Pilkada 2018
Pilkada Damai - youtube.com

Salah satu yang tidak bisa dilepaskan dari perhelatan pesta demokrasi adalah kampanye. Begitu juga dengan pemilihan kepala daerah secara serentak, pada Juni 2018 mendatang. Kampanye merupakan hal yang penting untuk bisa mendapatkan simpati publik. Namun tak jarang, kampanye dilakukan dengan cara mengabaikan etika-etika dalam berdemokrasi.

 Salah satunya adalah dengan cara melakukan kampanye negatif, bahkan melalui kampanye hitam. Padahal, jika kita pikir lebih panjang, kedua kampanye tersebut mempunyai daya rusak yang tidak sedikit. Masyarakat yang awalnya toleran bisa mendadak menjadi intoleran, jika sentimen SARA terus 'digosok' untuk mendapatkan dukungan masyarakat.

Kementerian Komunikasi dan Informatika sendiri, mengaku telah melakukan serangkaian upaya untuk mengantisipasi potensi munculnya kampanye negatif dan kampanye hitam di dunia maya. Begitu juga dengan tim cyber polri, juga terus melakukan berbagai antisipasi, terkait maraknya ujaran kebencian dan kampanye hitam jelang pelaksaan, ataupun pada masa pilkada. 

Praktek-praktek yang merugikan tersebut, merupakan bentuk ruang intoleransi, yang terus bermunculan di berbagai postingan di dunia maya. Untuk itulah, merupakan peran kita bersama untuk menangkal semua itu. Intoleransi tidak boleh tumbuh di negeri yang justru mengedepankan toleransi seperti Indonesia.

Ruang intoleransi justru akan membuat kerukunan antar umat yang telah terjalin, akan terganggu. Intoleransi juga akan membuat keramahan yang menjadi karakter negeri ini, akan terkikis. Sebaliknya, intoleransi justru mendekatkan diri pada praktek radikalisme bahkan terorisme. Jika ada ketidasukaan terhadap salah satu pasangan calon, yang dibangun atas dasar kebencian, akan melahirkan amarah-amarah yang tidak ada gunanya. Dan amarah itu jika dimobilisasi, rawan didomplengi oleh pihak-pihak yang menginginkan situasi tidak kondusif. Jika melihat sejarah, kelompok teror selalu memanfaatkan kondisi yang tidak kondusif untuk melampiaskan aksi terornya.

Sebagai masyarakat, kita juga harus aktif memberikan penyadaran melalui cara-cara yang kita bisa. Misalnya, memposting hal-hal positif, yang bisa memberikan inspirasi bagi masyarakat. Jangan lagi sibuk mencari kejelekan orang lain. Carilah kebaikan yang bisa ditularkan ke masyarakat. Bahaslah hal-hal yang bisa bermanfaat untuk kelangsungan lingkungan sekitar. Bahaslah program-program yang dijanjikan, apakah sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat, atau bisa juga mengkritisi janji dengan membangun diskusi yang sehat.

Diskusi yang dibangun tentu harus tetap mengedepankan rasa saling menghormati. Jika kita bisa melakukan itu semua, tentu akan lebih bermanfaat dalam menghadapi tahun politik ini.

Toleransi harus diwujudkan dalam segala hal dan harus dilakukan oleh semua pihak. Pilkada merupakan ruang demokrasi yang harus disambut dengan suka cita. Tidak boleh lagi ada ujaran kebencian terhadap pasangan calon, tidak boleh lagi menggunakan sentimen SARA untuk menjatuhkan elektabilitas, dan tidak boleh lagi memprovokasi masyarakat yang bisa membuka ruang intoleransi. Stop semua itu. Carilah pemimpin yang bisa menyatukan, bukan pemimpin yang mencerai beraikan. Dengan membuka ruang toleransi, maka persatuan, kesatuan, dan kerukunan antar umat serta keberagaman di Indonesia akan tetap terjaga.