Mohon tunggu...
Anis Hidayatie
Anis Hidayatie Mohon Tunggu... Penulis, guru

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Cinta adalah muasal segalanya. Mari tebar cinta dengan kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Pilihan

Satu Jam dalam Gerbong Orang Kaya

13 Februari 2020   06:16 Diperbarui: 13 Februari 2020   07:37 753 46 27 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Satu Jam dalam Gerbong Orang Kaya
Anis Hidayatie, doc.pri

Kereta Api masih merupakan moda favorit saya untuk bepergian ke luar kota. Anti macet, tepat waktu, aman dari pengamen dan asongan, ber AC, tak ada bau rokok adalah beberapa alasan mengapa saya suka sekali menggunakan Kereta Api untuk bepergian. Meskipun kereta yang saya tumpangi ekonomi, kenyamanan itu bisa saya dapatkan.

Jarang sekali saya naik KA non ekonomi. Hanya pada keadaan tertentu saya menggunakannya, terutama ketika sedang diburu waktu. Meskipun mahalnya mencapai 5 kali lipat tak mengapa. Yang penting bisa sampai ke tempat tujuan sesuai waktu yang dibutuhkan.

Hanya sekali saya naik kereta api eksekutif tanpa alasan kepentingan acara. Terjadi begitu saja, tanpa rencana, meski keadaanya darurat juga secara saya harus melakukan itu dengan alasan mengejar waktu pula. Yakni pada 19/12/  2019 lalu.  Perjalanan dari stasiun Bangil menuju Malang.  

Tiket keberangkatan tertera Pukul 08.55. dan tiba di Malang pukul 10:25.  Saya datang ke stasiun Bangil kurang beberapa menit dari waktu yang seharusnya Kereta Api itu berangkat.  Ada dua gerbong berjajar.  Saya tanya petugas di pintu masuk.

" Ini kereta api yang mau berangkat ke Malang kah?"

Satpam membenarkan, bergegas saya menuju ke gerbong yang ada. Langsung masuk saja.

Kekeliruan baru saya sadari ketika kereta mulai berjalan, bukan ke arah Malang,  tapi Surabaya. Panik,  saya utarakan hal ini pada Polsuska.

"Kereta sudah jalan mbak,  tidak bisa berhenti.  Kalau mau di Sidoarjo saja nanti berhenti. Trus beli tiket jurusan ke Malang."

Tak ada pilihan,  segera saya cek browsing KAI access.  Ada KA berangkat dari Sidoarjo sebelum jam 12 siang  nanti untuk sampai di Malang pukul 1 siang lebih.  Masih bisa saya kejar untuk rapat.  Tapi kelas Eksekutif. Uwow,  mahal banget beud. Rp. 60.000. Tak ada pilihan saya ambil saja, soalnya kalau saya ambil kelas ekonomi sore baru bisa sampai Malang.  

Kondisi ini saya utarakan pada teman di sekolah. Dia terperangah, "Kok bisa, kayak baru pertama naik Kereta Api saja."

Saya sendiri heran juga kok.  Akibat tidak teliti. Itu saja kesimpulan saya.  Pembelajaran untuk lebih teliti sebelum masuk gerbong kalau ada bejajar begini lagi.

Masuk gerbong eksekutif itu rasanya beda. Tempat duduknya empuk, cuma jejer dua orang. Kursinya bisa ditidurkan, ada tempat untuk selonjoran kaki, bantal juga.  Wiiih,  berasa jadi orang kaya deh.  Saya sempatkan foto-foto pula. Bukti fisik kalau saya salah naik gerbong kereta.

Tempat selonjoran kaki | Anis Hidayatie, doc.pri
Tempat selonjoran kaki | Anis Hidayatie, doc.pri
Perasaan suntuk mulai cair. Menikmati betul perjalanan  itu. Mata saya menyapu isi gerbong. Dari atap yang digantungi televisi hingga lantai tempat menyelonjorkan kaki.  Juga penumpangnya. Perlente,  pada wangi dengan fashion baranded. Pertunjukan  life style.

Senang juga melihat pemandangan itu. Sesuatu yang jarang saya dapatkan. Menjadi catatan tersendiri.  Aih,  jadi gini rasanya naik kereta api mahal itu. Senang sih,  tapi gak berani mengulang lagi. Bisa jebol kantong saya kalau ikut gaya hidup mereka.  Besar pasak dari pada tiang dilarang bukan?  Hehe

Mumpung kebetulan bisa jadi orang kaya sebentar, saya bagikan cerita ini.  Biar yang belum pernah jadi tahu.  Sehingga nanti kalau naik level jadi orang kaya,  tidak kaget pula. Haha.  Salam cinta naik kereta, Moda nyaman untuk kita semua.

Ditulis Anis Hidayatie untuk Kompasiana event Ikrom Kereta Api

VIDEO PILIHAN