Mohon tunggu...
Andri Sipil
Andri Sipil Mohon Tunggu...

a Civil Engineer

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Artikel Utama

Pada Sebuah Lukisan

24 November 2015   06:00 Diperbarui: 26 November 2015   15:07 750 34 57 Mohon Tunggu...

Seorang anak laki-laki berdiri memandangi sebuah lukisan. Tatapannya begitu setia. Merelai tiap detil sapuan kuas cat minyak yang begitu dinamis. Ia nampak begitu mencintainya. Sudah hampir satu jam ia mendongak. Memelototi lukisan yang menggantung lebih tinggi dari ubun-ubunnya itu. Lukisan itu menggambarkan pemandangan sawah dengan latar belakang pegunungan. Figuranya yang berwarna hitam terbuat dari kayu sengon. Membingkai kanvas itu dengan sangat apik. Ukurannya 75 cm x 75 cm. Mungkin tak lebih besar dari ukuran jendela kamar tidurnya yang sempit.

Tubuh anak itu sedikit bungkuk. Ia memakai kaos partai berwarna kuning. Di belakangnya tercetak angka “2” dengan sangat besar. Ia terlihat begitu kuwalahan dengan kaosnya yang kebesaran. Entahlah, kaosnya yang kebesaran atau memang tubuhnya yang terlampau kurus. Aku sendiri bingung.

Sebenarnya ini bukan kali pertama ia menyusup keruang tamu kami. Sudah satu setengah bulan yang lalu. Semenjak ia bersama keluarganya pindah ke rumah di ujung jalan itu. Barangkali ini sudah yang keenam kalinya. Biasanya ia selalu datang sore hari sekitar pukul empat. Harinya tidak menentu. Namun kebanyakan ia datang dihari sabtu atau minggu. Atau saat sebuah taksi terihat terparkir di ujung jalan dekat rumahnya itu. Awalnya kami mengira kalau ia anak maling yang ingin mencuri sesuatu di rumah kami.

***

Waktu itu sekitar pukul empat sore. Aku dan istriku sedang berada di ruang belakang. Seperti biasa dijam-jam itu kami sedang bersantai. Menikmati suasana sore yang tenang. Terlebih saat itu hujan baru saja reda. Kami sangat suka mengencani udara dinginnya yang menggoda. Ditemani dengan secangkir teh dan bacaan dari buku-buku koleksi lama.

Terdengar suara seseorang mendobrak pintu depan rumah. Sebenarnya pintu itu tidak kami kunci. Hanya saja caranya membuka dengan terlalu tergesa. Membuat pintunya terbanting sangat keras. Sehingga menimbulkan suara yang amat mengagetkan. Aku dan istriku lantas berlarian melihatnya.

Pintu itu masih terbuka. Tak ada siapapun di sana. Aku dan istriku beradu pandang. Lalu kami menatap tiap sudut ruang tamu yang memang tidak terlalu luas itu. Hanya ada sebuah meja dan empat pasang kursi rotan. Di pojoknya terdapat sebuah meja kecil tempat kami meletakan toples berisi bunga plastik. Beberapa pajangan menempel di salah satu sisi dindingnya. Termasuk lukisan kesukaanku itu.

Tiba-tiba saja istriku berbisik “Mas, lihat itu..!!” lirikan matanya menunjuk ke arah kursi rotan yang berada diujung pandangan kami. Kursi itu tepat berada di samping lubang pintu. Seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun terlihat sedang bersembunyi di belakangnya. Sosoknya terlihat dari balik celah anyaman kursi rotan yang sudah mulai ompong di sana-sini. Ia duduk mendekap kedua kakinya. Keningnya menempel pada kedua lututnya.

“Heiiii..!!” aku membentaknya. Mengusirnya keluar dari ruang tamu kami. Istriku reflek mencubit lengan kiriku. Aku kesakitan. kemudian ku usap-usap kulitku yang telah memerah itu. Belum sempat aku protes, ia sudah lebih dulu memelototiku. Aku diam. Ia nampak begitu marah. Sepertinya ia tidak suka aku telah membentaknya.

Aku memang sering membentak anak-anak. Terutama mereka yang suka menjadikan ruang tamu kami sebagai tempat persembunyian saat bermain petak umpet. mereka sangat nakal. Namun anak laki – laki itu bukan salah satu dari mereka. Kata istriku ia anak tetangga baru yang tinggal di ujung jalan.

***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
24 November 2015