Mohon tunggu...
Andreas Palupessy
Andreas Palupessy Mohon Tunggu...
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Hapus DMO Batubara, Demi Abang dan Kawan?

20 Agustus 2018   17:51 Diperbarui: 20 Agustus 2018   19:28 545 10 3 Mohon Tunggu...
Hapus DMO Batubara, Demi Abang dan Kawan?
img-20180820-wa0064-5b7ab6e1aeebe16b8c41bbda.jpg

Waduh, impor minyak dan gas bumi (migas) lagi-lagi jadi biang kerok penyebab defisitnya neraca perdagangan Indonesia nih. Badan Pusat Statistik (BPS) bahkan mencatat nilai impor migas pada Juli 2018 naik 22,2% dibandingkan Juni 2018, menjadi US$ 2,61 miliar atau setara dengan Rp 38,18 triliun.

Belum selesai dengan urusan tersebut, beberapa waktu lalu, tersiar kabar bahwa Pemerintah berencana menghapus aturan kewajiban memasok batu bara untuk kebutuhan dalam negeri bagi pembangkit listrik yang dioperasikan PT PLN (Persero), atau biasa disebut Domestic Market Obligation (DMO) batu bara.

Pemerintah tuh tau gak sih, kalau DMO di cabut itu akan berdampak pada tingginya biaya produksi listrik. Ujung-ujungnya harga listrik akan melonjak tinggi, beberapa daerah bahkan akan terancam oleh pemadaman listrik. Ini aneh, pangkal permasalahannya di migas, tapi kenapa malah cari solusi penghapusan DMO batu bara?

Menteri BUMN Rini Soemarno sebenarnya paham gak sih permasalahan ini? Atau memang sengaja untuk melindungi gurita bisnis si ‘Abang’ Ari Soemarno yang memang tersohor sebagai salah satu kartel di industri migas? Sehingga Rini pun mencoba mengakali defisit perdagangan dengan coba menghapus DMO batu bara, mumpung harga sedang tinggi, lumayan lah bisa ngurangin defisit.

Ya pada akhirnya wajar sih, karena biar bagaimana pun kepentingan bisnis si 'Abang' di Migas kan gak boleh diganggu gugat, jadi lebih baik cari 'korban' lain saja. PLN mah cincai, kalaupun rugi, Rini sebagai Menteri BUMN pasti bisa ‘ngatur’nya. Gampanglah ituu. Amaan!

Buat yang belum pada tau, impor migas Indonesia itu dikontrol oleh Integrated Supply Chain (ISC), perusahaan berbasis di Singapura yang dikendalikan oleh Ari Soemarno, abang kandung dari Rini Soemarno. Semua bisnis jual beli sektor migas itu harus melalui ISC-nya Ari. Keren kan?

Dan ini yang membuat strategi Rini untuk memuluskan bisnis abangnya Ari menjadi ciamik, karena penghapusan DMO batubara malah akan menguntungkan kawan-kawan Rini para kartel batubara di Indonesia, seperti Bumi Resources (Bakrie), Adaro (Sandiaga Uno) dan Haji Sjam (Taipan Lokal Batubara di Kalsel) yang notabene orang dekatnya JK. Makin keliatan deh modusnya.

Tentunya, Bakrie, Sandiaga Uno, dan JK akan sangat mendukung solusi menutupi defisit perdagangan Migas dengan menghapus DMO Batubara. Terlebih kedekatan mereka (Sadiaga – JK – Rini) memang sudah terbina sejak Pilkada DKI saat Sandi jadi Cawagub. Rini yang mantan Presdir Astra International tentu memiliki kontribusi besar untuk Sandi (murid Edward Soeryadjaya – Pemilik Astra International).

Terlebih baru-baru ini langkah Sandiaga Uno yang mencalonkan diri sebagai cawapres tidak terlepas dari dukungan JK yang memang terkenal suka menancapkan ‘kaki’ dimana-mana. Makin dapat tambahan modal dong buat nyawapres? Klop lah sudah permainan abang dan kawan yang di jalankan oleh Rini. Semua untung, semua senang!

Benar-benar model bisnis yang saling menjaga. Di satu sisi Rini menjaga kepentingan kerajaan bisnis Ari Soemarno abangnya, dilain pihak kawan-kawannya di Trio Batubara pun senang dengan keuntungan yang semakin mengembang. Emang harus diakui siasat Rini Soemarno kali ini terbilang ciamik.

 Ini ibaratnya ‘aliran air mengecil karena ada masalah di pipa airnya, yang dibenerin justru malah kerannya, bukan pipanya’.

VIDEO PILIHAN