Mohon tunggu...
ANDREA DIETRICTH
ANDREA DIETRICTH Mohon Tunggu... Pecinta hidup

just the way i am

Selanjutnya

Tutup

Musik

Tidak Ada Kesedihan di Surabaya (Hari Pahlawan)

10 November 2019   08:45 Diperbarui: 10 November 2019   09:03 0 1 0 Mohon Tunggu...
Tidak Ada Kesedihan di Surabaya (Hari Pahlawan)
dokpri

Dengan Lagu, Tidak Ada Kesedihan di Surabaya (Cerita Hari Pahlawan)
Hari Pahlawan ini saya akan bercerita tentang lagu-lagu romantisme pertempuran yang paling hebat selama sejarah militer modern.
Mengapa lagu yang diulas tentang hari pahlawan? sabar ya....ini mau saya ceritakan.

Semua pasti sudah tahu 20 ribu pasukan terkuat Inggris menepati janjinya untuk menghancurleburkan Surabaya di tanggal 10 November 1945 pukul 6 pagi.

Semua senjata terkuat Inggris ditembakkan ke Surabaya. target 3 hari ternyata molor menjadi 3 minggu lebih untuk menguasai kota Surabaya. Catatan sejarah 300 ribu orang meninggal pada pertempuran ini bahkan ada yang lebih ekstrim..mengatakan bahwa 750 ribu orang meninggal.

Tetapi ini Surabaya. Mentalitas berbeda dengan lainnya. Surabaya merupakan panci adukan semua etnis, agama, suku dan ras. Siapapun yang datang ke Surabaya sudah pasti akan disebut sebagai arek Surabaya.

Mentalitas di sini tidak mengenal rasa takut. Dengan pecahnya pertempuran 10 November 1945, Surabaya hancur tetapi rasa takut dan sedih tidak terpancar di Surabaya.

Banyak kisah di pertempuran ini yang dituliskan sebagai lagu oleh para pejuang. Rata-rata yang menulis lagu ini adalah para pejuang dari Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Karena mereka sudah terpelajar.

Salah satunya cerita tentang lagu "Temanku Pahlawan"

Teringat kukan padamu , pahlawan Indonesia
waktu kau hendak kembali ke alam yang baka
Terbayang roman mukamu yang suci dan berseri
saat tiba 'kan menghadap kehadirat illahi

Dengan tulus dan ikhlas kau korbankan jiwamu
kau basahilah bumi dengan darah ksatria mu
Tak akan leyam jasamu , dari pada ingatan perjuangan ku teruskan,sampai ke akhir zaman

Saat itu selesai pertempuran 10 November dan Surabaya dikosongkan yang artinya hanya segelintir pasukan elit saja yang tinggal di Surabaya untuk menghancurkan mental Inggris. Pasukan lainnya memilih bergerilya di luar Surabaya.

Seorang anggota TRIP yaitu Soewandi, bersama dengan 6 orang anggota TRIP Jatim lainnya terluka parah dalam suatu pertempuran jarak dekat di daerah perbukitan Krian pada tanggal 24 Februari 1946.

Segera mereka dievakuasi ke RS Militer Gatoel (Mojokerto). Karena parahnya luka-luka dan RS Gatoel belum selengkap sekarang, Soewandi kemudian dipindahkan ke RS Militer Celaket (Malang), nasib berkata lain Suwandi meninggal pada tanggal 2 Maret 1946 dan dimakamkan di TMP Malang.

Soewandi dikenal sebagai seorang penyair saat sekolah. Salah satu karyanya (dan juga yang terakhir) adalah yang berjudul "Temanku Pahlawan". Syair yang ditulis di atas secarik kertas ditemukan didalam saku kemeja yang dikenakannya pada saat dia tertembak pada peristiwa pertempuran Krian.

Syair di kertas berlumur darah tersebut diaransir sebagai suatu lagu oleh saudara Abdul saleh (seorang anggota TRIP lainnya). Syair dan lagu tersebut kemudian dijadikan suatu ode bagi teman-teman TRIP yang gugur dikemudian hari.

Bahkan bait terakhirnya ("Perjuangan kuteruskan sampai ke akhir jaman") telah dijadikan motto hidup TRIP sampai dengan hari ini.

Lain lagi dengan Abdul Saleh yang mengabadikan pertempuran Wonokromo dan melihat banyak temannya meninggal tapi di lain sisi banyak juga teman sekolahnya yang mencemooh kiprah TRIP karena bersusah payah memilih jalan bertempur.

Abdul Saleh menulis lagu NYALA GUNUNGSARI dengan syair sebagai berikut :

Kawanku Senusa,
Tengoklah di medan laga
Darah kawanmu mengalir membasahi,
Bumi persada Ibu Pertiwi
Gunungsari, Gunungsari
Tempat kenangan suci
Aku siap, aku sedia,
Membalas menuntut bela(abdshaleh)

Dapat dilihat dari sya'ir dua lagu itu, tidak ada yang menyiratkan kesedihan. Mentalitas kuat telah dibangun di Surabaya. Bahkan Lagu "Temanku Pahlawan" akan dijadikan lagu resmi jika ada pahlawan yang meninggal untuk tetap mengobarkan semangat.

Hanya saja Bung Karno lebih memilih lagu yang menyiratkan rasa sedih dengan melodi menyayat hati dari Ismail Marzuki yaitu Gugur Bunga. Tidak mengapa, yang penting tetap tidak ada kesedihan di Surabaya karena yang ada adalah semangat membara.

Semangat saat itu adalah semangat saat ini untuk menghadapi tantangan yang lebih berat lagi. Selamat Hari Pahlawan 2019.

Saya akan menyanyikan lagu-lagu ini dengan gitar. (firitri)
#mojokerto #keberterimaan #risiko #peluang #firi #firitri #penulis #mc #humaninterest #air #public_speaking #cerita #perempuan #libur #kacamata #menulis #kekuatan #puri #lokal #budaya #cinta #penulismojokerto #penulis_mojokerto #literasi #haripahlawan

KONTEN MENARIK LAINNYA
x