Anang Syaifulloh
Anang Syaifulloh Mahasiswa

Pengagum Bapak Soekarno, namun untuk masalah wanita belum seahli beliau

Selanjutnya

Tutup

Wanita Pilihan

Lelaki Juga Perlu Beremansipasi

21 April 2017   16:57 Diperbarui: 21 April 2017   17:02 101 2 3

Sejak dulu cantik adalah sebuah impian dari semua wanita di seluruh dunia. Kecantikan menjadi sebuah tujuan yang ingin diraih oleh sebagian besar wanita baik dari kalangan bangsawan maupun masyarakat biasa. Pergerakan untuk beramai ramai menuju kecantikan lebih kearah untuk menunjukkan jati diri ‘kewanitaan’. Wanita zaman dahulu dipandang lemah karena hanya mengandalkan perasaan dan bukannya rasional. Wanita tidak mempunyai kebebasan dalam mengatur dirinya sendiri. Gerakan yang menuntut kebebasan inilah yang dinamakan feminisme. Qasim Amin, sosok muslim feminis memercayai bahwa kebebasan yang sebenarnya adalah kebebasan yang bisa membawa semua pemikiran, menerbitkan setiap aliran, dan menyambut setiap ide.

Sosok Kartini dipandang sebagai wanita pertama yang mencoba melawan kondisi sosial Jawa waktu itu yang membatasi ruang gerak kaumya. Budaya feodal membayangi sehingga kasta seakan akan terlihat di dalamnya. Banyak yang meragukan kenapa harus Kartini yang menjadi tokoh emansipasi wanita, bukannya Cut Nyak Dien ataupun Christina Tiahahu. Tapi tetap saja beliau adalah yang pertama mencetuskan pemikiran akan suatu perubahan kondisi masyarakat dimana manusia tidak lagi diperlakukan berbeda hanya karena terlahir sebagai perempuan.

Pahlawan nasional seperti Cut Nyak Dhien (SK Presiden 1964), Martha Christina Tiahahu (SK Presiden 1969) dan lain-lain tidak bisa disebut pelopor feminisme di Indonesia karena mereka lebih fokus pada menjadi istri yang baik dan suportif dalam membantu dan mendorong perjuangan kemerdekaan laki-laki. Memang mereka berjuang dengan gagah berani bagaikan laki-laki dalam perang, tetapi mereka bukan memperjuangkan persamaan hak lelaki dan perempuan.

R.A. Kartini layak dianggap sebagai pelopor feminisme di Indonesia karena dia yang pertama membuka sekolah dasar untuk anak perempuan pribumi pada tahun 1903. Sekolah yang didirikannya tidak mengenal diskriminasi status sosial.

Feminisme dipandang sebagai menyamakan hak antara lelaki dan wanita. Lelaki dan wanita memang diciptakan berbeda. Masing masing peran sudah dibagi untuk mencapai keseimbangan alam. Lelaki bekerja sedangkan wanita mengurus rumah. Siapa bilang mengurus rumah bukan sebuah pekerjaan? Bagaimana nantinya jika semuanya bekerja ataupun di rumah. Semua bekerja berarti tak ada yang mengurus rumah, begitu juga dengan semua mengurus rumah artinya tidak ada penghasilan yang dapat digunakan untuk makan. Wanita adalah penyokong lelaki. Dibalik lelaki yang hebat pastinya ada sosok wanita disampingnya. Disamping Baginda Rosulullah ada Siti Khotijah, sama juga ada Ibu Ainun disamping Pak Habibi. Kekuatan lelaki adalah untuk melindungi, kelembutan wanita adalah untuk menahan kekuatan lelaki yang kadang menggebu gebu. Keseimbangan antara kekuatan dan kelembutan yang dapat disebut emansipasi. Sebenarnya konsep keseimbangan peran inilah yang seharusnya dipandang sebagai emansipasi. Emansipasi lelaki juga harus dilakukan agar tidak menabrak emansipasi wanita dan memastikan emansipasi wanita juga berjalan dengan semestinya.

Wanita boleh saja menuntut kesamaan peluang karir, pendidikan maupun politik. Tetapi kodrat wanita tidak boleh ditinggalkan. Wanita adalah tokoh utama dalam pendidikan anak anaknya. Kesalihan agama maupun sosial ditentukan oleh kesiapan dan kematangan ibunya. Emansipasi seharusnya dipandang sebagai langkah untuk memperjuangkan hak tetapi dilain pihak tetap menjalankan kodrat wanita. Wanita bisa berkarir tetapi tidak boleh melupakan tanggung jawabnya sebagai istri di rumah. Jika saja istri yang mengabdi kepada suaminya adalah istri yang baik, lantas bagaimana jika ditambah dengan karir? Menjadi wanita karir sekaligus istri yang solehah tentu melebihi istilah istri baik. Seorang wanita idaman tentunya. Lelaki seyogyanya dapat memahami dan mendukung wanitanya dalam mencari jati diri mereka. Harapannya adalah wanita dapat ikut serta membangun ekonomi, sosial, dan budaya Indonesia menjadi lebih baik. Asal tidak melupakan kodrat wanita, itu saja. Emansipasi lelaki juga diperlukan agar emansipasi wanita dapat menunjukkan perannya. Bangsa besar ditentukan oleh kemajuan wanitanya karena benih benih penerus bangsa ada dalam kandungannya. Selamat hari Kartini, jangan biarkan Ibu Pertiwi merana sekali lagi


Aku sungguh ingin mengenal seorang yang kukagumi, perempuan yang modern dan independen, yang melangkah dengan percaya diri dalam hidupnya, ceria dan kuat, antusias dan punya komitmen, bekerja tidak hanya untuk kepuasan dirinya namun juga memberikan dirinya untuk masyarakat luas, bekerja untuk kebaikan sesamanya ( Kartini, 25 Mei 1899.)