Lihat ke Halaman Asli

Taufiq Rahman

TERVERIFIKASI

profesional

Persepsi Politik, Bagaimana Ia Terbentuk?

Diperbarui: 14 Mei 2018   15:28

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi: Shutterstock

Dari sekian banyak kutipan politik, inilah salah satu kutipan paling saya ingat karena arti dan maknanya. Sebenarnya masih banyak yang lainnya, namun kali ini cukup ini saja yang saya ingin tulis.

Tetapi, saya tak berniat mengupas kutipan diatas utuh-utuh. Saya hanya tertarik dengan 4 kata yang pertama saja - politics is the art! Politik adalah seni. Seni? Ya, seni. Lebih tepatnya adalah, politik itu seni memainkan persepsi. Mengapa demikian?

Saya berusaha menjawab dari apa yang saya amati. Mereka adalah teman-teman saya sendiri. Malah, anggap saja, saya sendiri juga menjadi objek amatan itu. Benarkah pilihan politik teman-teman saya dan saya ditentukan oleh persepsi?

Saya melakukan riset kecil dengan cara mengamati dinding-dinding medsos teman-teman saya. Status dan rupa-rupa informasi yang berseliweran saya cermati. Apa yang saya dapat setelah sekian bulan? 

Saya agaknya mendapatkan hal menarik; sebagian besar dinding medsos teman-teman saya yang mendukung Jokowi dipenuhi oleh status dan artikel2 tentang prestasi Jokowi. Demikian pula sebaliknya, teman-teman saya yang pembenci Jokowi, dinding medsos mereka penuh oleh informasi yang buruk tentang Jokowi. 

Jadi, benar belaka dugaan saya sebelumnya, bahwa pilihan politik seseorang itu sebagian besar dipengaruhi oleh persepsi mereka. Bagaimana ia menyerap dan menyimpulkan beragam (dan tentu saja kualitias) informasi melalui apa yang didengar, dilihat, dan diamati sangat memengaruhi persepsi mereka. 

Jadi, bahasa gampangnya adalah, seseorang yang terus menerus menerima, membaca dan mendengarkan informasi negatif tentang Jokowi, hampir dapat saya pastikan, ia akan menjadi pembenci Jokowi.

Dokumen Pribadi

Itulah penjelasan saya tentang persepsi berdasar riset kecil yang saya lakukan. Dan, penjelasan ini juga sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan mengapa orang tak pernah berhenti membuat dan menyebatkan berita hoax. 

Mereka, dengan rupa-rupa cara, terus berupaya membentuk persepsi orang. Status facebook, video, artikel dan segala hal tentang si tokoh A yang lemah, yang tidak cekatan, yang tidak islami, terus diproduksi dan disebar.

Semenjak sebelum pilpres 2014, hoax dengan tujuan membangun dan membentuk persepsi terus dibuat dan bahkan melansir dari beberapa sumber dapat dipercaya, trennya menunjukkan peningkatan. Kita hampir setiap hari terus dijejali dengan berita yang itu-itu saja, tidak lain untuk tujuan seperti yang saya sebutkan di atas.

Isu yang paling akhir adalah isu yang mengatakan bahwa Jokowi itu lemah. Isu ini tampak sengaja disebar dan semakin santer disuarakan setelah terbitnya SP3 HRS. Isu ini banyak muncul di laman-laman medsos, berhimpit-himpitan di ruang pengap bersama dengan isu PKI, hutang negara, TKA, anti Islam dan lain-lain isu yang masih dianggap seksi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline