Lihat ke Halaman Asli

Juneman Abraham

Kepala Kelompok Riset Consumer Behavior and Digital Ethics, BINUS University

Butuh Kesadaran Kritis Mengenali Jurnal Predator: Implikasi Terhadap Integritas Akademik

Diperbarui: 22 Maret 2021   14:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber gambar: http://dasaptaerwin.net/wp/2021/02/show-me-the-money.html

Jurnal predator. Istilah ini sering dikemukakan oleh para penulis yang membahas topik-topik seputar riset dan publikasi ilmiah. Kendati demikian, belum banyak (kalau bukan: tidak ada) penulis, khususnya di Indonesia, yang membuka istilah jurnal predator sampai terang.

Memang banyak penulis dan pembicara membahas tentangnya dengan segala sebab, akibat, dampak, dan sebagainya. Akan tetapi, tidak banyak yang bersedia mempertanggungjawabkan istilah ini. Hal tersebut merupakan titik kritis dari banyak pembahasan tentang jurnal predator yang mendesak untuk dijawab. Titik kritis dimaksud tidak dapat dikecualikan terdapat pula dalam artikel baru-baru ini yang bertajuk "Predatory publishing in Scopus: evidence on cross-country differences" (2021) , yang menempatkan Indonesia dalam urutan kedua negara di dunia yang menghasilkan artikel dalam jurnal predator.

Tanpa pertanggungjawaban yang komprehensif, tulisan-tulisan yang menggunakan istilah "jurnal predator", seperti artikel di atas, juga tidak dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karenanya, ada urgensi untuk menjernihkan istilah jurnal predator setepat-tepatnya, sebelum membahas hal lain-lain yang berhubungan dengannya. Inilah tujuan artikel ini.

Jeffrey Beall (2015) mengemukakan kriteria penerbit akses-terbuka predator (predatory open access publishers), baik dari aspek penyunting dan staf, manajemen bisnis, integritas, standar, dan lain-lain. Silakan membacanya di sini. Kriteria jurnal predator yang lain terdapat pada laman ThinkCheckSubmit. Apabila kita lebih banyak menjawab "Tidak" pada daftar Periksa (Check), maka, menurut panduan tersebut, lebih besar kemungkinan bahwa jurnal yang menjadi objek periksa merupakan jurnal predator. Lanskap yang cukup luas mengenai sejarah dan perdebatan seputar kriteria jurnal predator dapat dibaca melalui laman Wikipedia

Kendati demikian, dari semua literatur yang saya sebutkan tersebut, belum cukup tandas penekanan pada kesadaran kritis tentang jurnal predator. Artikel di Kompasiana rubrik Edukasi ini dimaksudkan untuk mengisi kekosongan tersebut. Artinya, klaim Terry Mart (2013) bahwa cukup mudah untuk mengenali ciri-ciri jurnal predator, pada akhirnya, tidak lagi tepat. Dalam berita tersebut, misalnya, Mart (2013) menyampaikan bahwa oposisi dari jurnal predator adalah jurnal berkualitas, yang terindeks secara global. Padahal, sebagaimana kita akan temukan, indeksasi global bukanlah kriteria esensial dari sifat predator atau tidak dari sebuah jurnal. 

Bincang Nusantara ke Sejengkal Lebih Dalam

Pada Jumat, 11 Februari 2021, saya diundang untuk berbicara dalam sebuah forum akademik di Fakultas Humaniora, Universitas Bina Nusantara, yakni "Bincang Nusantara KFC" (selanjutnya, saya sebut: Bincang). Saya diminta oleh Panitia Bincang untuk membicarakan situasi, tantangan, dan peluang publikasi Fakultas Humaniora. Hal yang menjadi salah satu bagian dari materi paparan saya, yakni tentang jurnal predator, meskipun tidak seluruhnya dapat saya sajikan dalam Bincang tersebut, saya tuangkan dalam tulisan kali ini.

bincang-nusantara-kfc-jpg-6057785f8ede4867aa043682.jpg

 

Sumber primer paparan saya tersebut adalah sebuah artikel berjudul "Why I Publish in "Predatory" Journals--and Why You Should, Too", yang saya ketahui informasi keberadaannya dari salah seorang Ketua Sekolah Tinggi yang berlokasi di Sumatera Utara, dalam Forum Kerja sama Perguruan Tinggi (FKPT). Bibliografi artikel tersebut adalah sebagai berikut:

Burgess-Jackson, K. (2020). Why I Publish in "Predatory" Journals-and Why You Should, Too. Philosophy International Journal, 3(4), 000160. https://doi.org/10.23880/phij-16000160

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline