Lihat ke Halaman Asli

Indra Tjahyadi

Dosen Fakultas Sastra dan Filsafat Universitas Panca Marga

Urgensi Pribumisasi Ilmu Pengetahuan

Diperbarui: 11 Agustus 2022   23:12

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Munculnya pelbagai konflik yang berakar pada perbedaan budaya yang ada di Indonesia merupakan fakta bahwa telah terjadi retakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri. Retakan ini muncul karena adanya krisis yang disebabkan oleh globalisasi.

Manusia, merujuk Aristoteles, adalah animale rationale (binatang berpikir). Kemampuan berpikir adalah kemampuan istimewa yang dimiliki manusia. Kemampuan ini adalah sesuatu yang khas, yang membedakan manusia dengan jenis-jenis binatang yang lain. Menurut Suriasumantri kemampuan ini bukan hanya yang mencirikan hakikat manusia tetapi juga yang membuat manusia jadi manusia.

Dalam keberadaannya, kegiatan berpikir manusia setidaknya memiliki dua cara: (a) berpikir secara filsafat; dan (b) berpikir secara pengetahuan ilmiah. Berpikir secara filsafat berbeda dengan berpikir secara ilmiah. Berpikir secara filsafat adalah berpikir secara rasional, sistematis, radikal dan kritis.

Berpikir secara rasional dalam filsafat artinya dalam berpikir, filsafat senantiasa mengandalkan kerja rasio. Maka, manusia yang berpikir menjadi penting dalam filsafat, sebab segala persoalan berusaha dipecahkan oleh filsafat dengan menggunakan pikiran. Tetapi, berpikir ini tidak sembarang berpikir, melainkan berpikir yang sistematis. Berpikir yang sistematis mengandung arti bahwa kegiatan berpikir tersebut menurut satu aturan tertentu, runut dan bertahap, serta diartikulasikan (entah dalam bentuk tulis atau lisan) dalam bentuk tertentu pula. Sistem ini memungkinkan pikiran-pikiran yang terartikulasi dapat dipahami.

Selain berpikir secara rasional dan sistematis, tadi telah disampaikan, bahwa filsafat juga mengandaikan berpikir secara radikal. Radikal berakar dari kata radix yang artinya akar. Berpikir radikal berarti berpikir sampai ke akarnya. Dalam menghadapi satu persoalan, filsafat tidak hanya berputar-putar di permukaan, tetapi filsafat berusaha menyelam sampai ke dasarnya, ke intinya. Inilah yang membuat filsafat menjadi radikal. Tetapi, radikalitas filsafat ini tidak akan bekerja dengan baik apabila tidak didukung oleh kemampuan kritis. Kemampuan kritis adalah kemampuan untuk menerima segala sesuatu tidak begitu saja. Kemampuan ini memungkinkan adanya evaluasi yang terus-menerus atas suatu hal. Selain itu, kemampuan kritis juga berarti kemampuan untuk melakukan suatu usaha secara aktif, sistematis, dan mengikuti prinsip-prinsip loghika, Maka, dalam menghadapi suatu persoalan, filsafat akan terus-menerus mengevaluasinya secara aktif dan terukur.

Tadi telah disampaikan bahwa selain berpikir secara filsafat, ada juga cara berpikir secara pengetahuan ilmiah. Secara umum, cara berpikir ilmiah adalah cara berpikir yang bersandar pada metode logis, empiris, hipotesis, dan verifikatif. Logis artinya setiap pikiran ilmiah berdasar pada kerja logika atau kerja pikiran. Ini karena pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang berdasar pada akal manusia, dan bukan pada perasaan. Berpikir ilmiah juga mengandaikan adanya metode empiris. Metode empiris menjadikan pengetahuan ilmiah tidak hanya pengetahuan yang dikenali lewat akal saja, melainkan pengetahuan yang timbul dari panca indra manusia. Empiris menuntut pengenalan objek secara pengalaman indrawi. Ini jelas berbeda dengan filsafat yang tidak memerlukan pengenalan secara pengalaman inderawi.

Setelah pengetahuan secara indrawi diperoleh, pengetahuan ilmiah harus menentukan hipotesis-hipotesisnya. Hipotesis-hipotesis ini penting bagi pengetahuan ilmiah. Hipotesis ini nantinya yang menjadi pusat dari terbentuknya pengetahuan ilmiah setelah dilakukan verifikasi yang merupakan pembuktian kebenaran dari hipotesis-hipotesis itu.

Tetapi, apa pun bentuk dan caranya, berpikir tetap saja menjadi hal penting bagi manusia. Melalui berpikir, manusia menandai keberadaannya di alam semesta. Adalah Thales (hidup pada kisaran abad 6 SM), dengan pernyataannya bahwa pada awalnya semuanya terbuat dari air, yang oleh para sejarawan filsafat dianggap sebagai orang pertama yang sadar akan hal ini. Pernyataan Thales yang berbunyi bahwa pada awalnya semanya terbuat dari air ini berkesan menggelikan apabila dibaca saat ini, tetapi melalui pernyataan inilah babak baru dalam kehidupan manusia dibuka. Babak di mana kelangsungan kehidupan manusia di alam semesta ditentukan oleh kemampuannya dalam berpikir.

Sejak pernyataan Thales ini, pelan tetapi pasti, keberadaan berpikir menjadi kian identik dengan manusia. Bahkan berpikir menjadi kebutuhan utama manusia dalam menjalani kehidupan. Dengan berpikir manusia, memenuhi segala hasrat keingintahuan yang ditimbulkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang muncul akibat dari rasa takjub yang dimilikinya. Dengan berpikir, manusia memecahkan segala halangan, persoalan, dan keterbatasan yang dimilikinya. Maka, pada kisaran abad 16, Descartes (1596---1650), seseorang yang kelak dikenal sebagai "bapak filsafat modern", setelah berhari-hari duduk bersuntuk sendirian di depan tungku di Jerman dengan lantangnya berkata: "Cogito ergo sum!" (saya berpikir maka saya ada). Sejak itulah, pernyataan Aristoteles bahwa manusia adalah mahluk berpikir menemukan momentumnya.

Tetapi, usaha berpikir agar dapat menjadi penanda bagi manusia bukannya timbul tanpa halangan. Halangan terbesar muncul pada Abad Pertengahan (atau yang biasa disebut para sejarawan filsafat: "Abad Kegelapan"). Pada abad itu, kegiatan berpikir manusia, yang pada masa sebelumnya (masa Yunani Kuno sampai masa Pasca-Sokrates) bebas berkeliaran dalam kehidupan manusia, harus dikekang, ditundukkan demi kepentingan sesuatu yang Ilahiah. Pada masa itu, kemampuan berpikir manusia benar-benar direpresi dan hanya boleh digunakan untuk kepentingan agama. Akibatnya, kehidupan manusia yang sebelumnya dengan susah payah dibangun dengan menggunakan terang berpikir murni menjadi runtuh, diganti dengan berpikir Ilahi. Kiranya, ini juga yang jadi penyebab mengapa oleh para sejarawan filsafat masa itu disebut Abad Kegelapan.

Tetapi, Abad Kegelapan tersebut, meskipun berlangsung lama (sejak abad 5---abad 14), ternyata tidak selamanya. Di penghujung awal abad 14 muncul reaksi yang mencoba untuk meruntuhkan represi yang diteguhkan oleh Abad Kegelapan. Sebenarnya, benih-benih reaksi yang nantinya menemukan bentuknya pada kisaran abad 15 dan 16 ini telah dipupuk semenjak pertengahan abad 14. Tumbuhnya masyarakat kapitalis awal, terpecahnya gereja-geraja, dan timbulnya Maut Hitam yang meluluh-lantakkan Eropa selama awal abad 15 dan 16 merupakan pemicu munculnya babak baru dalam kehidupan manusia yang disebut Renaissans.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline