Lihat ke Halaman Asli

Mencari Surga yang Dirindukan 1: Pengalaman Menghadapi Kanker dan Poligami

Diperbarui: 5 Februari 2017   18:23

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

tamanlavender.wordpress.com

Oleh: Lilik Andini, Lavender Ribbon Cancer Support Group

Dalam rangka Ulang Tahun Lavender Ribbon Cancer Support Group dan Hari Kanker Dunia

Empat tahun sudah masa berlalu sejak aku dinyatakan sembuh dari kanker. Ya, Mei 2012 lalu dr. Heri Fajari Sp.Onkologi menyampaikan bahwa aku sudah bebas kanker. Aku seperti terlahir kembali. Alhamdulillah. Tapi aku sadar, tak mungkin aku bisa bebas sepenuhnya dari sel-sel kanker ini. Ia akan terus menjadi bagian dari hidupku, pengingat abadi yang tak pernah pergi. Perlakuan yang baik dan tepat terhadap jasad, perasaan, pikiran, penjagaan makanan akan membuat sel-sel ini bersahabat.

Shock menerima diagnose dan dokter yang menenangkanku

Menengok kembali ke masa-masa berproses dengan kanker, di tahun 2009 pada bulan April aku menerima diagnosa ini. Dokter menjatuhkan vonis Kanker Nasofaring stadium 3B pada saat itu. Aku ingat betul betapa aku merasa seperti mendengar petir di siang bolong. Dalam kebingungan menerima berita ini reaksi aku spontan menangis, sambil berusaha keras mencernanya dengan baik. Aku menangis karena kaget, shock, nggak nyangka akan dengar diagnosa kanker dari dokter. Shock yang dikhawatirkan ya mati. Dari yang kulihat dan kudengar, kalau kena kanker jarang ada yang bisa sembuh.

Sikap dr.  Hari Fadjari yang menanganiku waktu itu tidak menampakkan tentang beratnya kanker. Beliau membuatku tenang. Saat memegang benjolan di leherku, beliau bilang "Ah, masih kecil ini mah, insyaAllah satu siklus kemo juga beres".

Kata-kata beliau sangat membesarkan hati dan membuatku bersemangat berjuang menjalani pengobatan demi kesembuhan. Itu peranan dokter yang cukup besar bagiku.

Aku berupaya sekuat tenaga menguatkan diri menerima ketetapanNya. Bersyukur Allah cepat mengembalikan kesadaran berpikirku, Allah masih menguatkanku. Aku menenangkan diri, mengumpulkan segenap keberanian untuk menanyakan pada dokter apa yang berikutnya harus aku lakukan. Dokter menyarankan agar diagnosanya lebih akurat aku direkomendasikan untuk segera melakukan biopsy, proses standar bagi para pasien kanker agar pengobatan tepat sasaran.

Sempat ragu dengan tindakan biopsy ini, karena informasi yang aku dengar cukup menakutkan, katanya biopsi seperti membangunkan macan tidur. Entahlah, rasa kaget masih belum hilang, setidaknya aku butuh waktu untuk bisa mendapatkan informasi yang cukup dulu, beristirahat sambil menguatkan hati. Dokter mempersilahkan sambil mengingatkan bahwa lebih cepat lebih baik karena berpacu dengan penyebaran kanker (metastase).

Dari pengalaman hidup dan pengajaran yang aku dapatkan, aku meyakini bahwa segala tindakan dan keputusan harus diawali dengan niat dan akad. Akad kepada Allah ta’ala, Sang Pemilik rahasia takdir. Dia-lah yang menetapkan kurikulum kanker ini bagi aku, maka aku akan mengembalikan hanya kepada-Nya jua. Aku akan pasrahkan dan serahkan bagaimana kurikulum ini harus aku jalani. Semua terserah pada-Nya. Jika Dia memberikan kebaikan ujian ini kepada aku, maka aku tahu Dia juga akan membantu aku menjalaninya.

QS Al Insyirah: 5-6

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline