Lihat ke Halaman Asli

Kompasianer METTASIK

TERVERIFIKASI

Menulis itu Asyik, Berbagi Kebahagiaan dengan Cara Unik

Makna Ceng-Beng Bagiku

Diperbarui: 18 April 2023   05:51

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Makna Ceng-Beng Bagiku (gambar: kompas.com, diolah pribadi)

Memasuki bulan April, tepatnya di tanggal 5 April adalah hari perayaan Ceng Beng. Hampir semua warga Tionghoa disibukkan oleh tradisi menggelar ritual yang juga dikenal dengan Sembayang Kubur itu. Durasinya biasanya dilaksanakan selama 10 hari. Sebelum dan sesudah tanggal 5 April setiap tahunnya. Warga bebas memilih satu hari dalam kurun waktu tersebut.

Adapun makna dan tujuan sembayang Ceng Beng adalah untuk mengingat dan menghormati para leluhur, serta ajang silaturami para anggota keluarga inti. Tradisi ini memang sangat lekat dengan Tionghoa. Tapi, ada juga yang menganggap bahwa tradisi ini adalah bagian dari agama Buddha.

Perlu dipahami bahwa ada perbedaan antara Kelengteng dan Vihara. Secara prinsip, Klenteng adalah tempat sembahyang umat Kong Hu Cu dan juga Tao. Sementara Vihara adalah tempat beribadah umat Buddha.

Perbedaan lainnya, di dalam Klenteng jamak terlihat patung dewa-dewi Tionghoa. Sementara di Vihara biasanya hanya ada Ruppang Buddha saja. Kendati demikian, banyak yang masih mengira jika kelenteng dan vihara adalah sama. Upacara Ceng Beng ini banyak dilakukan di Klenteng-klenteng, maka tidaklah heran, banyak yang menganggap Ceng Beng sebagai salah satu ritual umat Buddha.

Kembali ke ritual Ceng Beng.

Toko-toko penjual peralatan sembayang pun menuai keuntungan yang luar biasa karena harganya cukup tinggi. Selain perlengkapan sembahyang seperti dupa, pelita, lilin, ada juga perlengkapan yang menyerupai segala sesuatu yang biasanya digunakan oleh mendiang selama masih hidup. Persis toserba serba ada.

Yang lebih mencengangkan lagi, "toserba" tersebut juga menjual impian. Menyediakan barang-barang yang tidak atau belum bisa dimiliki oleh Sebagian besar manusia. Katakanlah rumah mewah, kapal pesiar, hingga jet pribadi.

Aku pernah beberapa kali menemani temanku mencari keperluan di sana. Diam-diam hati kecilku tersenyum melihat kesibukan di toko itu. Sekaligus tercengang melihat pembeli yang menggesek kartu kreditnya dengan jumlah yang fantastis. Mencapai 20 juta rupiah hanya untuk barang-barang kertas yang akan menjadi abu dalam beberapa menit.

Sungguh sangat disayangkan, bakar duit hanya untuk menunjukkan keegoisan diri agar kelihatannya berbakti. Menurut logikaku, lebih bijak uang sebesar itu dipakai untuk berbuat kebajikkan atas nama leluhur kita. Aku rasa itu jauh lebih berguna bagi para leluhur kita. Menerima, menikmati doa, dan kebahagiaan atas pelimpahan jasa yang dilimpahkan oleh kebajikan-kebajikan yang diperbuat oleh anak cucunya.

Sedang asyik melamun, tiba-tiba temanku datang bertanya sambil menujukkan seperangkat kebaya, lengkap dengan tas dan sepatu kertas. Tapi, tanpa sarung. Tanpa kusadari, aku tertawa ngikik, membuat temanku benggong.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline