Lihat ke Halaman Asli

#JanganSuriahkanIndonesia: Dari Aksi Bela Islam

Diperbarui: 3 Desember 2018   08:56

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Hati saya mendadak terenyuh melihat salah satu berita yang saya baca dari media sosial dari hari kemarin. Sekitar 8 juta umat muslim berkumpul di monas dalam rangka menggelar aksi bela Islam. Kali ini, tersentuhnya hati saya bukan karena melihat kekuatan umat muslim yang luar biasa di Indonesia. 

Jujur sebagai seorang muslim aksi bela Islam yang dilakukan oleh alumni 212 ini menjadi sebuah dilema yang saya rasakan selama ini. Ada rasa haru akan kekuatan Islam di Indonesia namun juga sedih karena aksi yang menujukan kekuatan umat Islam yang luar biasa ini berpeluang menimbulkan perpecahan dalam Negara kita.

Dengan dalih membela salah satu agama dan menolak adanya penistaan agama aksi yang merupakan lanjutan dari aksi serupa yang pernah dilakukan ditempat yang sama ini menjadi awal adanya benih-benih perpecahan di Indonesia. 

Berawal dari kekecewaan umat Islam atas pernyataan mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama, atau yang lebih akrab kita kenal dengan ahok yang dituduh menistakan Al-Quran surah Al-Maidah ayat 55.

Dari pernyataan tersebut umat Islam yang menatasnamakan Font Pembela Islam (FPI) melakukan aksi bela Islam yang puncaknya terjadi pada 2 Desember 2016 tepat dua tahun yang lalu.

Konflik horizontal yang mengatasnamakan agama tersebut menyebabkan kekhawatiran di sejumlah pihak. Adanya kekhawatiran Indonesia dapat diadu domba hingga memicu perpecahaan dan menyebabkan krisis yang luar biasa, seperti yang terjadi di Suriah dan Negara -- Negara di Timur Tengah.

Sebagai Negara dengan berbagai keberagaman dengan mayoritas muslim Indonesia perlu sekiranya berkaca pada konflik Suriah. 

Suriah dulunya merupakan negara aman yang heterogen dengan masyarakat yang terdiri dari beragam etnik dan agama. Namun Negara yang aman itu kini mengalami krisis setelah masyarakatnya berhasil diadu domba oleh kepentingan politik berbalut agama. Dan konflik ini merupakan cerminan konflik global dimana kepentingan diperebutkan. 

Banyak sekali Negara yang terlibat dalam konflik ini, mereka saling memperebutkan kepentingan masing-masing. Salah satunya adalah mereka lakukan untuk menhancurkan Negara tersebut dan mengambil kekayaan alamnya, atau hanya memperebutkan pengaruh mereka di Negara Timur -- Tengah.

Sebelum konflik terjadi Suriah merupakan Negara yang aman dan masyarakatnya hidup berdampingan tanpa ada perselisihan. Sebelumnya, pemerintah menggratiskan biaya pendidikan mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi. 

Bahkan biaya kesehatan juga digratiskan. Segala sesuatu yang menjadi kebituhan pokok masyarakat dijamin oleh pemerintah. Sehingga sebenarnya hampir tidak ada lagi celah yang bisa dimainkan untuk memecah-belah Suriah kecuali dengan isu agama. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline