Mohon tunggu...
M Ammar Mahardika
M Ammar Mahardika Mohon Tunggu... Service Engineer PT ALTRAK 1978

Lahir di Jakarta 16 Agustus 1996, suka menulis. Akhir-akhir ini membuat prosa seperti puisi atau cerpen. Salam kenal! :)

Selanjutnya

Tutup

Musik

Tinjau Album Chvrches "Love is Dead", Menjadi Lebih Manusia

26 Mei 2018   13:21 Diperbarui: 26 Mei 2018   13:33 0 0 0 Mohon Tunggu...

Penantian yang kita tunggu akhirnya tiba juga. CHVRCHES resmi mengeluarkan album ketiga, Love is Dead, Jumat (25/5) kemarin---setelah kita digoda oleh beberapa singel seperti Get Out, Never Say Die, My Enemy, Forever  dan Miracle. Band pop-elektro asal Skotlandia ini memberi beberapa sentuhan berbeda daripada dua album sebelumnya, The Bones of What You Believe dan Every Open Eye---yang sepertinya masih terinspirasi dari beberapa band pop-elektro beken seperti Passion Pit atau Depeche Mode---yaitu reduksi intro-intro yang EDM banget serta nuansa lirik yang lebih gelap.

Hal ini diakui sendiri oleh Lauren Mayberry, sang frontman, bahwa (dapat disimpulkan, pen.) Love is Dead ingin menyampaikan "kebebasan berpikir lebih luas dibanding karya-karya sebelumnya". Seperti yang kita ketahui, mereka adalah band yang cuek terhadap pandangan orang tentang gaya bermusik mereka---menghindari term ciptaan Efek Rumah Kaca: Lagu Cinta Melulu

Namun, album ini bisa dipastikan arahnya, pula tujuannya sangat besar: mereka mengkritik beberapa isu kemanusiaan yang melanda dunia beberapa tahun terakhir ini, contohnya ujaran kebencian, sejumlah masalah sektarian serta misogini---yang terakhir ini memang agenda pribadi Lauren, terlebih dia adalah aktivis pembela hak-hak dan penghapus stigma negatif terhadap perempuan. 

"Kamu tidak bisa datang ke penampilan kami tanpa peduli akan hal-hal (politik dan sosial) seperti ini sekarang. Kita mengangkat hal remeh seperti, 'Kenapa ada cewek di suatu band, sih?'---jadi, setidaknya kita perbincangkan ini baik-baik. Aku pikir (album) ini tentang politik, jadi terasa kurang saja kalau kita tidak menggemborkan ide-ide kita ke sini." ujarnya ketika diwawancara oleh Guardian menyambut album teranyar mereka ini. (20/5)

Martin Doherty, pemain syntheizer, menjelaskan proses album ini tercipta. Bagaimana CHVRCHES akhirnya mencapai proses dewasa seutuhnya (bukan lagi tiga kawan yang mengisi waktu luang dengan merekam demo mereka di garasi rumah): lagu-lagu mereka yang lebih konstruktif. Singel perdana mereka Get Out menceritakan isu penyakit mental yang banyak didera generasi muda kiwari, atau tiga lagu Graves, Heaven/Hell, dan God's Plan mengingatkan kita bahwa ada afterlife setelah kehidupan di dunia, lalu ditutup oleh Wonderland  yang memukau dan konklusif terhadap isi album. 

"Aku selalu merasa aku punya keahlian dan bakat seperti ini (mixing, pen.) dan merasa hebat hingga titik karier yang kami jalani saat ini. Namun, ada saat di mana aku pikir kami harus menemukan kolaborator yang klop untuk mengangkat kami ke tingkat selanjutnya," ungkapnya pada Billboard (25/5). Maka diundanglah Greg Kurstin, produser hebat yang sukses menggarap Adele, Kelly Clarkson hingga Foo Fighters. Greg memproduseri seluruh lagu, kecuali di Miracle---di mana mereka diproduseri oleh Steve Mac. CHVRCHES sangat siap menggaungkan suara mereka lebih keras kepada khalayak, bahwa kemanusiaan yang lebih berarti daripada kepentingan apapun.

Ada satu guyonan menarik tentang CHVRCHES. Mereka adalah band yang sangat terkenal karena keunikannya tetapi tidak pernah mencapai 10 besar peringkat tangga lagu. Iain Cook, penggawa lainnya, berkelakar: "Kita tidak bermain di ranah seperti itu," tetapi seharusnya Love is Dead menjadi pembuktian; sampai kapan mereka mencari rumah bernama Grammy, mengetuk pintu rumahnya dan disambut hangat sebagai tamu istimewa?* (MAM)

(sumber: billboard.com, chvrch.es, pitchfork.com, theguardian.com, hmv.com)

KONTEN MENARIK LAINNYA
x