Mohon tunggu...
Amiratul Badiiah
Amiratul Badiiah Mohon Tunggu... Mahasiswa Administraai Pendidikan, Universitas Jambi

Do good and good will come to you

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Belajar Menghargai Perbedaan dengan Pendidikan Multikultural

13 April 2021   21:33 Diperbarui: 13 April 2021   21:52 49 1 1 Mohon Tunggu...

Pendidikan sebagai sebuah proses pengembangan sumberdaya manusia agar memperoleh kemampuan sosial dan perkembangan individu yang optimal memberikan relasi yang kuat antara individu dengan masyarakat dan lingkungan budaya sekitarnya (Idris, 1987). Pendidikan tidak terlepas dari budaya yang melingkupinya sebagai konsekwensi dari tujuan pendidikan yaitu mengasah rasa, karsa dan karya. Pencapaian tujuan pendidikan tersebut menuai tantangan sepanjang masa karena salah satunya adalah perbedaan budaya

Oleh karena itu dengan adanya pendidikan diharapkan dapat memberikan pembelajaran yaitu bisa membuat budaya yang bisa lebih toleran antar budaya lain yang berbeda-beda, yaitu pendidikan multikultural yaitu menjadi salah satu solusi untuk mengembangkan sumber daya manusia yang memiliki macam-macam karakter dan karakter tersebut sangatlah kuat sehingga untuk mempertahankan hal tersebut perlu adanya toleran antar budaya. 

Menurut saya itulah mengapa perlu adanya pendidikan multikultural di sekolah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperjuangkan multikulturalisme adalah melalui pendidikan yang multikultural. Pengertian pendidikan multikultural menunjukkan adanya keragaman dalam pengertian istilah tersebut

Perbedaan di dalam sebuah lingkungan itu adalah hal yang biasa kita temui sedari kecil kita bertemu banyak budaya, suku, dan agama yang berbeda-beda apalagi di Indonesia yang memiliki banyak suku dan budaya yaitu ratusan suku dan ratusan bahasa yang dimiliki oleh indonesia, karena sudah terbiasa dari kecil maka kita sudah terbiasa dengan perbedaan yang ada, oleh karena itu  sesuai dengan semboyan negara indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika yang artinya bebreda-beda tetapi satu jua diambil dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular.

Etnik kedua orang tua saya sama-sama bersuku melayu Jambi, karena dilahirkan dan besar di Kota Jambi, saya pun juga begitu dari lahir sekolah TK, SD, SMP, SMA dan Kuliah di Jambi maka dari itu saya sehari-hari menggunakan bahasa Jambi, baik itu dirumah maupun diluar rumah bersama teman-teman. Dengan saya menggunakan bahasa Jambi ini saya merasa lebih nyaman dan berhubung saya tinggal di seberang kota Jambi sehingga bahasa yang terucap terkadang terlalu medok sehingga teman-teman tertawa karena bahasa tersebut jarang terdengar di telinga mereka.

Persepsi yang sering muncul di masyarakat bahwa orang Jambi ini pemalas dan jika berbicara nada nya tinggi, padahal itu keliru karena menurut saya tidak semua orang Jambi itu pemalas karena sekarang bisa dilihat di pasar, mall-mall,bank, perkantoran dan banyak lagi di tempat lain, disana banyak orang-orang jambi yang bekerja disana, yang dikatakan orang-orang mengenai orang jambi pemalas tersebut adalah sebagian kecil saja dari masyarakat jambi dan menurut saya tidak hanya dijambi saja yang begitu akan tetapi di kota lain pun mungkin memiliki masalah yang sama. 

Lalu mengenai nada berbicara yang tinggi itu, banyak orang yang dari luar pulau sumatera yang sering mengatakan hal tersebut seperti orang jawa yang merantau kejambi, mereka mengira kita yang berbicara biasa dengan mereka itu di kira mereka marah, padahal memang nada berbicara orang-orang sumatera memang seperti itu, dan orang jambi ini ramah-ramah tetapi nada bicara saja yang sedikit tinggi.

Dengan belajar pendidikan multikultural ini maka kita dapat lebih memahami dan menghormati etnik, suku, budaya, bahasa dan agama yang berbeda-beda setiap orangnya, dengan perbedaan itulah kita dapat bersatu membangun bangsa karena semboyan negara Republik Indonesa adalah Bhineka Tunggal Ika. 

Idris, Z. (1987). Dasar-dasar Kependidikan. Padang: Angkasa Raya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x