Amel Widya
Amel Widya Karyawan

Perempuan Berdarah Sunda Bermata Sendu. IG: @amelwidyaa

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Penembak Misterius dan Seno Gumira Ajidarma

9 Agustus 2018   11:30 Diperbarui: 24 Agustus 2018   20:43 1022 10 2
Penembak Misterius dan Seno Gumira Ajidarma
Penembak Misterius karya Seno Gumira Ajidarma | Dokpri

Tik tik tik bunyi hujan di atas genting
Airnya turun tidak terkira
Cobalah tengok dahan dan ranting
Pohon dan kebun basah semua. ~ Ibu Sud, Tik Tik Bunyi Hujan

Saya belum lahir ketika penembakan misterius pada 1983 sedang gencar terjadi. Bahkan Ayah dan Ibu saya belum bertemu. Penghilangan nyawa preman-preman bertato secara paksa itu hanya saya temukan lewat guntingan koran, buku-buku, dan cerita-cerita pendek.

Empat tahun lalu, pada awal Desember di serambi yang terlindung dari rintik hujan, ketika mata saya agak jemu membaca teori-teori sastra demi skripsi, saya beralih membaca cerita pendek. Kali ini, cerpen berlatar petrus alias penembak misterius. Judulnya sejuk. Bunyi Hujan di Atas Genting.

Saya penyuka karangan Seno Gumira Ajidarma. Supaya lebih praktis dan manis, selanjutnya saya sebut Papa Seno. Saya pertama kali berjumpa dengan Papa Seno lewat Sepotong Senja untuk Pacarku, lalu Matinya Seorang Penari Telanjang, kemudian Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi.

Saya juga pernah menemui beliau melalui novel yang saya baca selama berhari-hari. Judulnya Kitab Omong Kosong dan Nagabumi: Jurus Tanpa Bentuk. Lantaran sering membaca karya beliau, saya pun jatuh cinta kepada tokoh-tokoh rekaan Papa Seno. Terutama Alina dan Sukab.

Dalam cerpen Bunyi Hujan di Atas Genting, saya bercengkerama dengan Alina. Tokoh rekaan Papa Seno itu sedang mendengarkan dongeng dari si juru cerita. Mereka laksana benar-benar ada, sungguh-sungguh nyata, dan rasanya saya berada di sisi Alina seraya menyimak kisah tentang Sawitri dan Petrus dengan khidmat.

"Ceritakanlah padaku tentang ketakutan," kata Alina pada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun bercerita tentang Sawitri.

Ketika membaca judul cerpen, tanpa sadar saya menyanyikan lagu anak-anak karangan Ibu Sud. Tik tik bunyi hujan di atas genting. Apalagi hujan di halaman rumah saya sedang menyapa bugenvil. Namun, senandung saya terhenti karena kejutan yang langsung mengentak.

Mengapa Alina demikian ingin tahu soal ketakutan?

Hanya satu pertanyaan, tetapi sangat manjur untuk membungkam senandung saya. Lekas-lekas saya tegakkan punggung, yang semula bersandar di kursi rotan, dan memelototi paragraf kedua. 

Sungguh, saya merasa sedang melihat Alina mengernyit dengan mata terpicing. Entah mengapa tiba-tiba bulu roma saya merinding. Meski bergidik, saya tetap membaca paragraf berikutnya.

Setiap kali hujan mereda, pada mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Itulah sebabnya Sawitri selalu merasa gemetar setiap kali mendengar bunyi hujan mulai menitik di atas genting.

Rumahnya memang terletak di sudut mulut gang itu. Pada malam hari, kadang-kadang ia bisa mendengar semacam letupan dan bunyi mesin kendaraan yang menjauh. Namun tak jarang pula ia tak mendengar apa-apa, meskipun sesosok mayat bertato tetap saja menggeletak di ujung gang setiap kali hujan reda pada malam hari.

Saya bukan perempuan pemberani. Saya penakut. Membaca tiga paragraf awal sudah cukup untuk memaksa saya meninggalkan serambi, berjalan ke ruang tamu dan mendengus karena tidak ada siapa-siapa, menuju ruang keluarga dan kecewa karena televisi mati, kemudian terpaksa masuk kamar dan mengunci pintu.

Samar-samar saya dengar televisi berbunyi. Barangkali Ayah sekarang sudah di ruang keluarga, tetapi saya telanjur malas meninggalkan dipan. Lebih tepatnya, malas membaca cerpen di depan Ayah dan televisi dengan siaran sepak bola yang bising.

Untuk melihat mayat bertato itu, Sawitri cukup membuka jendela samping rumahnya dan menengok ke kanan. Ia harus membungkuk kalau ingin melihat mayat itu dengan jelas. Kalau tidak, pandangannya akan terhalang daun jendela. Ia harus membungkuk sampai perutnya menekan bibir jendela dan tempias sisa air hujan menitik-nitik di rambutnya dan juga di sebagian wajahnya.

Sumpah, sesuatu di dalam diri saya menuntut agar segera berhenti membaca. Sesuatu yang lain memaksa mata saya tetap mengeja kata demi kata. Rasa penasaran meletup-letup, sementara rasa takut kian menyentak-nyentak. Saya malah sempat menoleh ke jendela.

Pada akhirnya rasa penasaranlah yang menang.

Kemudian, saya kembali menyimak si juru cerita berkisah tentang Sawitri yang merasa bahwa mata mayat-mayat yang tergeletak di ujung gang begitu banyak bercerita. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3