Mohon tunggu...
Amanda Fathin Nabiila
Amanda Fathin Nabiila Mohon Tunggu... Mahasiswa - @amandanabiila

A well-educated mind will always have more questions than answers -Helen Keller

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Teknologi

Bio-Pestisida Calliandra Haematocephala, Pendukung Proteksi Tanaman

27 November 2021   22:13 Diperbarui: 28 November 2021   02:11 242 1 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Pertanian merupakan salah satu sektor yang eksis di Indonesia sebagai negara agraris. Saat ini eksistensi pertanian semakin melemah akibat sempitnya lahan pertanian di Indonesia yang disebabkan alih guna lahan menjadi kawasan hunian. Untuk itu, lahan pertanian yang ada harus dioptimalkan semaksimal mungkin demi mewujudkan pertanian berkelanjutan. Tanaman sebagai komponen utama dalam pertanian harus dilakukan proteksi agar tetap terjaga kelestariannya. Pada dasarnya, tujuan utama proteksi tanaman adalah aktivitas yang dilakukan untuk meminimalisir timbulnya kerugian yang disebabkan serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) seperti hama, penyakit, gulma, maupun dampak perubahan iklim (DPI).


Upaya proteksi tanaman ini dilakukan dalam beberapa cara seperti tindakan pencegahan, pengendalian, eradikasi yang didasari efektivitas dan efisiensi sehingga dapat mempertahankan eksistensi tumbuhan yang mampu meningkatkan produksi tanaman ke arah yang lebih optimal. Dengan demikian, maka akan tercipta kualitas dan kuantitas hasil pertanian secara kontinyu sehingga dapat menyokong terwujudkan pembangunan pertanian yang berkelanjutan.


Dalam melakukan produksi pertanian, tentu saja tidak terlepad dari adanya berbagai gangguan di lapangan seperti OPT dan DPI ini akan menimbulkan kerugian yang semakin besar. Dari sinilah kemudian muncul konsep untuk melakukan pengendalian organisme pengganggu tanaman yang berlandasakan prinsip pengendalian hama terpadu sehingga menekankan pada implementasi budidaya tanaman sehat, observasi tanaman rutin, pelestarian musuh alami, dan petani yang berkompeten dalam proteksi tanaman (Rahmiyah et al. 2021). Konsep pengendalian hama terpadu ini adalah teknik pengendalian melalui berbagai cara seperti fisik, mekanik, budidaya, biologi, genetik, kimiawi maupun cara lain seiring perkembangan teknologi.


Pestisida merupakan salah satu zat yang sering digunakan untuk mengusir hama pengganggu tanaman. Hal ini diketahui karena pestisida memiliki daya toksik yang tinggi pada hama dan mambu membasmi dengan cepat, memiliki spektrum luas sehingga mampu mematikan beragam jenis hama, cara menggunakan lebih praktis dan memberikan keuntungan ekonomis bagi petani. Walaupun memiliki kekuatan dalam membasmi hama, namun penggunaan pestisida ini dapat menimbulkan problematika baru yang lebih kompleks (Mudjiono 2013). Adapun permasalahan yang disebabkan akibat penggunaan pestisida secara berlebihan yaitu mampu menyebabkan timbulnya hama resisten, menyebabkan resurjensi hama, ledakan hama kedua, musuh almi, matinya serangga non target, dan menimbulkan kerusakan pada jaringan makanan serta memiliki potensi menimbulkan kontaminasi pada produksi pertanian.


Berbekal dari permasalahan tersebut, maka diperlukan inovasi dalam bidang pertanian dengan pembuatan bio-pestisida alami yang memanfaatkan bahan-bahan alam untuk dapat membasmi organisme penganggu tanaman. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan bio-pestisida adalah kaliandra. Spesies kaliandra yang dimaksud yaitu Calliandra haematocephala dimana tanaman ini memiliki kandungan zat tanin pada getahnya. Hal inilah yang menyebabkan Kaliandra mampu menjadi insektisida alami untuk pengendalian hama tanaman dimana sasaran utamanya adalah hama walang. Bagian yang digunakan pada kaliandra sebagai insektisida alami ialah daun dan kulit batang. Dengan adanya pestisida alami inilah diharapkan mampu turut serta dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman sehingga mampu mengurangi biaya usaha pertanian akibat dapat dibuat secara mandiri dari alam.


Kandungan Zat Toksik pada Calliandra haematocephala
Kalinadra atau Calliandra haematocephala merupakan tanaman yang sering ditemukan di berbagai wilayah. Kaliandra termasuk tanaman leguminosa berupa pohon yang kecil atau perdu dan termasuk dalam keluarga leguminosa. Tanaman ini memiliki kandungan zat tanin yang cukup toksik sehingga penggunaannya untuk pakan hewan harus dicermati dengan baik-baik. Adapun kandungan tanin dalam kaliandra ini mencapai 11%. Tanin sendiri merupakan bahan alami yang terdiri dai gugus hidroksi fenolik. Senyawa toksik ini menjadi sebuah peluang yang bagus untuk menjadi bio-pestisida sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal untuk keberlanjutan sistem pertanian. Dengan demikian, maka tumbuhan kaliandra dapat dimanfaatkan sebagai bio-pestisida pengganti pestisida sintesis yang lebih ramah lingkungan.


Tanin merupakan sebuah senyawa makromolekul yang pada tanaman Kaliandra didapatkan pada getah tumbuhan tersebut. Zat tani ini memiliki peran dalam menolak nutrisi (antrinutrien) dan menghambat nzim (enzym inhibitor) sehingga mampu menurunkan hidrolisis pati dan menurunkan respons terhadap gula darah pada hewan (Siamtuti, Aftiarani, Wardhani, Alfianto, dan Hartoko 2017). Tanin ini sering ditemukan pada tanaman yang mengandung protein tinggi dimana tanin diperlukan oleh tanaman tersebut untuk menjadi proteksi dari serangan mikroba, insekta, ataupun ternak melalui penonaktifan enzim protease dari bakteri dan insenkta yang bersangkutan. Zat aktif tanin inilah yang kemudian memiliki potensi untuk membuat insektisida alami yang bermanfaat dalam peranian organik sehingga mampu mengendalikan organisme penganggu tanaman serta mengatasi resistensi  tanaman pangan dari bahan kimia sintesis.  

Pembuatan Bio-Pestisida Calliandra haematocephala
Pembuatan bio-pestisida dari kaliandra dilakukan dengan mengambil daun kaliandra yang akan diolah sebagai insektisida untuk tanaman. Metode yang dapat digunakan untuk membuat bio-pestisida adalah ekstraksi. Ekstraksi sendiri merupakan suatu metode yang digunakan untuk memisahkan komponen dari campurannya menggunakan sejumlah bahan pelarut sebagai pemisah. Adapun tujuan dari ekstraksi adalah untuk mengeluarkan senyawa yang diinginkan dari sel--sel tanaman dengan proses difusi. Prinsip dari cara ini adalah tercapainya keseimbangan konsentrasi bahan dalam pelarut pada batas yang diinginkan.


Pembuatan ekstraksi ini dilakukan dengan mengumpulkan daun kaliandra kemudian dibersihkan dan dicuci dengan air mengalir sampai bersih dan ditiriskan. Daun kaliandra ini kemudian dilakukan pemisahan dari tulang daunnya untuk selanjutnya dikeringkan di bawah sinar matahari dan ditutup dengan plastik hitam. Simpliasia kering kemudian diserbukkan dengan blender dan diayak dengan ayakan sehingga didapat serbuk daun kaliandra, kemudian disimpan dalam wadah bersih. Setalah itu, ditambahkan etanol 70% ke dalam serbuk daun kaliandra dan ditutup rapat. Perbandingan jumlah serbuk dengan pelarut adalah 1: 10, direndam selama 2 x 24 jam dan sesekali diaduk. Setelah itu, dilakukan penyaringan menggunakan kertas saring. Hasil dari maserasi (perendaman) berupa ekstrak etanol daun kaliandra yang kemudian dilakukan evaporasi dengan alat rotary evaporator (40C dan 50 rpm) untuk menguapkan pelarutnya sehingga didapat ekstrak dari daun kaliandra yang berupa pasta (Siamtuti, Aftiarani, Wardhani, Alfianto, dan Hartoko 2017).


Bio-pestisida yang didapatkan dari hasil ekstraksi tersebut kemudian dapat digunakan untuk melakukan penyemprotan pada tanaman. Biopestisida kaliandra sangat ampuh untuk membasmi belalang, wereng dan ulat karena kandungan zat yang dimilikinya cukup toksik untuk membunuh hama tersebut. Penggunaan biopestisida ini dapat dikatakan lebih efektif bagi perkembangan pertanian karena selain dapat dibuat sendiri dengan biaya terjangkau, juga memiliki sifat ramah lingkungan yang meminimalisir risiko yang ditimbulkan. Untuk itulah, penggunaan bio-pestisida ini cukup efektif sebagai pendukung konsep pengendalian hama terpadu (PHT) pada proteksi tanaman untuk mendukung pertanian berkelanjutan.

Implementasi Bio-Pestisida Pada Pertanian Organik
Pertanian Organik menjadi sebuah tren baru dalam upaya mewujudkan pertanian berkelanjutan (suistainability). Pola pertanian organik ini berkonsep pada penggunaan bahan-bahan alami serta terpadu dalam upaya penyuburan tanaman dan pengendalian penyakit serta hama tanaman. Dengan penggunaan bahan alami ini diharapkan mampu memberikan perlindungan pada sumber daya hayati sesuai dengan kaidah alam sehingga tidak menimbulkan ancaman bagi lingkungan serta meminimalisir gangguan kesehatan pada manusia akibat produk tanaman (Budiyanto, Muizzudin, Husamah, dan Permana 2018).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Alam & Teknologi Selengkapnya
Lihat Ilmu Alam & Teknologi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan