Almizan Ulfa
Almizan Ulfa Pensiunan Peneliti Utama Kementerian Keuangan RI

Just do it. kunjungi blog sharing and trusting bogorbersemangat.com, dan, http://sirc.web.id, email: alulfa@gmail.com, matarakyat869@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kandidat Pilihan

Jokowi Diambang Kekalahan?

15 Februari 2019   09:58 Diperbarui: 15 Februari 2019   12:59 3812 15 8
Jokowi Diambang Kekalahan?
diedit dari beberapa sumber: Dokpri

Banyak orang seperti Pak SBY dan penulis sendiri merasakan aura kekalahan Jokowi di Pilpres 2019 ini. Ada apa ya? Coba kita lihat beberapa hal yang terkait aura mencemaskan Jokowi seperti berikut ini. 

FOTO ASN BERSAMA CALEG DPRI RI 2019 AHMAD DHANI

Penulis terkejut melihat foto tiga orang ASN (Jaksa?) Kejaksaan Tinggi Jawa Timur berfoto dengan santai dan sumringah dengan musisi nasional kondang Ahmad Dhani. Musi Ahmad Dhani ini selain terpidana kasus pelanggaran UU IT juga Caleg DPR RI Partai Gerindra. Ini jelas-jelas melanggar ketentuan yang secara eksplisit melarang ASN berfoto dengan Caleg 2019. 

Jaksa Agung M. Prasetyo mengecam keras tindakan tiga jaksa di Jatim tersebut. Namun, tidak secara tegas menyatakan akan memberikan sanksi. Bawaslu bahkan lebih longgar lagi. Komisioner Bawaslu, F.E. Surgar hanya menyatakan "Sepertinya saya harus tanya dulu. Dicoba dilihat dulu, soalnya harus tahu dari daerahnya. Jadi kita bisa lihat apakah ini melanggar netralitasnya sebagai ASN atau ada unsur pidana pemilunya." Haadey... wong ndeso aja tau bahwa itu pelangaran pidana berat Pemilu 2019. (lihat, misalnya MSN.Com). 

Ketiga orang Jaksa Jatim itu bukan rakyat ndeso. Tindakan mereka sudah diperhitungkan untung ruginya. Jadi, ini mungkin dapat diartikan bahwa kesalahan ini akan berbalik jadi penghargaan bagi mereka bertiga tersebut jika benar-benar Jokowi kalah nantinya.

TKN JOKOWI TIDAK MEMILIKI SATU KOMANDO

Berbeda dengan Tim Kampanye Jokowi 2014, yang langsung dipimpin oleh Jokowi sendiri dan dengan dua orang pembantu utama, Rini Soemarno dan Anies Baswedan, TKN Jokowi 2019 terkesan selain kurang gregetnya juga tidak memiliki satu komando. TKN Jokowi 2019 tidak memiliki apa yang disebut dengan unity of command.

Memang ada Eric Thohir pengusaha papan atas nasional dan yang juga sukses dengan Proyek Asean Games 2017. Namun penulis tidak melihat clues bahwa dia full sebagai chief in Command TKN Jokowi 2019.Juga, ada JK yang terkesan berkaki dua, tidak sepenuh hati mendukung Jokowi, dan.... ada banyak lagi orang-orang partai yang mengerubungi Jokowi. 

Pola yang ada terlihat dilakukan berdasarkan hierarkhi partai. TKN Pusat menginstruksikan seluruh DPP Partai Pendukung, terus ke DPW, hingga ke DPD (tingkat Kabupaten/Kota). Anggaran kampanye diserahkan pada masing-masing partai.

Konsekuensinya, masing-masing parpol pendukung bergerak sendiri-sendiri sesuai sikon di daerah masing-masing. Ini jelas tidak all out seperti yang dilakukan Relawan Jokowi JK di tahun 2014. Juga, masing-masing parpol itu lagi sibuknya-sibuknya kampanye untuk mencari kursi DPR/D. Kursi lebih penting dari memenangkan Jokowi MA.

Inisiatif cermerlang terkesan muncul dari Jokowi sendiri seperti kehangatan dengan cucu yang banyak dipuji netizen, cukur rambut di bawah pohon, dan lain sebaginya. Jadi, tidak jelas siapa sebenarnya yang memegang komando tertinggi TKN Jokowi-MA. 

SANTAI SAJA GAGAL MEMENUHI JANJI KAMPANYE 2014

Patut diakui banyak sekali keberhasilan Jokowi sejauh ini. Pembangunan Irigasi, wilayah perbatasan, dan.. yang paling super adalah pembangunan jalan tol walaupun banyak menyisahkan masalah. 

Walaupun demikian, banyak janji Jokowi yang mengecewakan pendukung nya. Jokowi terkesan santai saja atas kegagalan termaksud tetapi di sisi lain tentunya membuat banyak orang termasuk penulis sendiri meragukan untuk memilih kebali Jokowi pada Pilpres 2019 ini. Perhatikan beberapa kegagalan pemenuhan janji kampanye termaksud sebagai berikut. 

Gagal Memperbaiki Kebocoran APBN

Baru-baru ini viral pernyataan Prabowo bahwa kebocoran APBN setiap tahun nya sebesar Rp500T. Wapres JK hanya mengatakan sebesar Rp5T. Ekonom kondang UI Faisal Basri mengatakan sekitar Rp250T. Hal yang sama juga ditulis oleh ekonom senior Bank Danamon, Anton Hendranata, yang memberikan analisis simple tetapi plausible dan mengestimasi angka kebocoran APBN sekitar Rp264T untuk kasus tahun 2019.

Kesimpulannya kebocoran APBN (mungkin) masih terus berlanjut hingga akhir masa jabatan Jokowi di tahun 2019 ini. Juga, mungkin masih banyak yang ingat pernyataan Almarhum Prof Soemitro Djojokusumo yang juga adalah ayah kandung Capres Prabowo dan juga Mantan besan Presiden Soeharto bahwa kebocoran APBN sekitar 40%.

Kesimpulan yang lebih penting lagi adalah Jokowi gagal memenuhi janji kampanye 2014 dalam bidang pemberantasan korupsi di Indonesia utamanya dalam mengeradikasi  korupsi APBN. 

Gagal Menelingkung Mafia Impor

Kasus Mafia impor terutama impor pangan terus bergulir. Kasus yang paling viral adalah kasus sapi impor Ketua Partai PKS. Ini rasanya terjadi di Era Presiden SBY. Di Era Presiden Jokowi kasus yang serupa tetap terjadi. Misalnya, kasus  kuota impor gula yang menjerat Hakim Konstitusi Patrialis Akbar. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3