Mohon tunggu...
Alip Yog Kunandar
Alip Yog Kunandar Mohon Tunggu... Penulis - Bukan Pemikir, Meski Banyak yang Dipikirin

Dosen Ilmu Komunikasi UIN Jogja, yang lebih senang diskusi di warung kopi. Menulis karena hobi, syukur-syukur jadi profesi buat nambah-nambah gizi. Buku: Memahami Propaganda; Metode, Praktik, dan Analisis (Kanisius, 2017) Soon: Hoax dan Dimensi-Dimensi Kebohongan dalam Komunikasi.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Stalin: (118) Jurnal Ringkasan Buku

8 April 2021   10:36 Diperbarui: 8 April 2021   10:36 411
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi: Alip Yog Kunandar

Dan satu hal lagi yang disukai Soso, ternyata ia juga memiliki toko buku. Berbeda dengan toko bukunya Pak Yedid yang bener-bener jualan buku, atau toko bukunya Gege Imedashvili yang menjual dan menyewakannya sambil berusaha kedai kopi, toko bukunya Tuan Zakaria itu lebih menyerupai perpustakaan. Orang-orang yang berkunjung bisa membacanya, atau boleh membelinya jika mau dan ia memiliki lebih dari satu. Kalau misalnya sebuah buku hanya tinggal satu, ia akan memilih untuk menyimpannya ketimbang menjualnya.

Koleksi bukunya, ternyata juga cukup banyak, bahkan mungkin lebih banyak dari punyanya Gege Imedashvili. Semua buku yang pernah dilihatnya di toko bukunya Gege, ia temukan di sana. Beberapa bahkan ada yang tidak pernah ia lihat sebelumnya baik di tokonya Pak Yedid maupun di tokonya Gege Imedashvili.

Lebih asyiknya lagi, toko buku milik Tuan Zakaria Chichinadze itu tak terkena razia. Menurut Tuan Zakaria, polisi hanya merazia percetakannya, dan tidak mengambil apapun dari sana. "Semua yang dicetak kan sudah melewati sensor, atau setidaknya, itu tanggungjawab pengelola suratkabarnya, bukan tanggungjawabku..." jelasnya. "Sementara toko bukuku, memang tak terlalu banyak orang yang tahu. Aku sendiri mengatakannya sebagai koleksi pribadi, dan polisi bahkan tak menengoknya sama sekali..."

"Jadi saya boleh membaca buku-buku itu, Tuan?" tanya Soso.

"Bacalah, karena itulah gunanya buku..." jawab Tuan Zakaria. "Sementara ini kau boleh meminjamnya saja, aku tak ingin menjualnya dulu, biar lebih aman dan menghindari penyitaan..."

"Kalau saya membawanya keluar dari sini untuk membacanya?"

"Asal jangan kau bawa ke sekolahmu saja. Nanti malah jadi masalah. Masalah buatmu dan masalah buatku, terutama kalau bukunya langka..."

"Saya punya kontrakan, Tuan, saya bisa menyimpan dan membacanya di sana..." kata Soso.

"Ya, aku tahu. Bawa saja buku yang kau mau..." jawabnya singkat.

"Bolehkah saya mengajak teman-teman yang lain untuk membaca buku di sini?" tanya Soso lagi.

"Ajak saja, tapi jangan terlalu banyak dulu sementara ini. Kita harus menjaga jangan sampai menarik perhatian polisi atau biro sensor..."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun